Utama Pemerintahan Sanggam Kaltara Ekonomi Kombis Gaya Hidup All Sport Makan-Makan Parlementaria Polhukrim Catatan Batiwakkal

BPBD Tarakan Ingatkan Ancaman Pergerakan Tanah Tetap Intai Warga di Kawasan Lereng

Nurismi • Kamis, 9 Juli 2026 | 09:35 WIB
LONGSOR: Bencana longsor terjadi di Kelurahan Karang Balik belum lama ini. (HRK)
LONGSOR: Bencana longsor terjadi di Kelurahan Karang Balik belum lama ini. (HRK)

HARIAN RAKYAT KALTARA — Risiko tanah longsor di Kota Tarakan dinilai belum berakhir meski hujan telah reda. 

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Tarakan mengingatkan masyarakat, agar tetap meningkatkan kewaspadaan. Karena karakteristik tanah di Tarakan memungkinkan longsor terjadi beberapa hari setelah hujan turun.

Peringatan tersebut disampaikan setelah BPBD menangani tiga kejadian yang dipicu cuaca dalam sehari pada Selasa (7/7). Peristiwa itu terdiri atas satu pohon tumbang di Kelurahan Karang Balik dan dua kejadian tanah longsor yang terjadi di kawasan Ladang Dalam serta RT 30 Kelurahan Sebengkok.

Kepala BPBD Kota Tarakan Yonsep, mengatakan seluruh personel yang bertugas langsung dikerahkan untuk menangani pohon tumbang di Karang Balik. Karena ukuran pohon cukup besar dan berpotensi membahayakan masyarakat maupun pengguna jalan.

Sebanyak tujuh personel diterjunkan ke lokasi untuk melakukan pemotongan batang dan pembersihan material yang menutup sebagian area di sekitar lokasi kejadian.

“Pohon tumbang di Karang Balik ukurannya cukup besar, sehingga seluruh personel yang bertugas hari ini kami kerahkan. Ada tujuh anggota di lapangan karena penanganannya memang membutuhkan kehati-hatian,” ujarnya, Rabu (8/7).

Di waktu yang hampir bersamaan, BPBD juga menerima laporan dua kejadian tanah longsor. Longsor di kawasan Ladang Dalam berdampak terhadap dua rumah warga. Sedangkan longsor di RT 30 Kelurahan Sebengkok hanya mengenai pagar rumah.

Meski kerusakan di Sebengkok tergolong ringan, BPBD belum menganggap kondisi tersebut sepenuhnya aman. Tim masih melakukan asesmen karena lokasi tersebut dinilai masih memiliki potensi mengalami longsor susulan. Apabila kondisi tanah terus mengalami pergerakan.

“Di Ladang Dalam longsor berdampak terhadap dua rumah. Sementara di Sebengkok hanya mengenai pagar rumah, tetapi masih berpotensi terjadi longsor susulan sehingga tim masih melakukan asesmen di lapangan,” katanya.

Berdasarkan hasil peninjauan awal, longsor di Ladang Dalam diduga berkaitan dengan terganggunya alur air di kawasan lereng.

Yonsep menjelaskan terdapat aktivitas pengerukan di bagian atas lokasi yang menyebabkan jalur aliran air berubah. Ketika hujan turun, aliran tersebut memicu erosi hingga akhirnya menggerus tanah di sekitar permukiman warga.

“Di Ladang Dalam sebenarnya itu jalur air. Ada aktivitas pengerukan di bagian atas sehingga memicu erosi dan akhirnya berdampak terhadap dua rumah warga,” jelasnya.

Ia menuturkan penanganan yang dilakukan BPBD disesuaikan dengan tingkat ancaman maupun kerusakan yang terjadi.

Apabila longsor mengancam bangunan utama atau berpotensi membahayakan keselamatan penghuni, petugas akan melakukan penanganan langsung di lapangan. 

Sebaliknya, apabila dampak yang ditimbulkan masih bersifat ringan dan dapat ditangani secara mandiri. BPBD akan membantu masyarakat dengan memberikan perlengkapan darurat. Seperti terpal dan karung untuk mengurangi risiko kerusakan lebih lanjut.

“Kalau longsor sampai merusak bangunan inti tentu kami tangani. Tetapi kalau dampaknya masih bisa ditangani pemilik rumah, biasanya kami memberikan terpal dan karung untuk penanganan sementara,” ungkap Yonsep.

Data BPBD menunjukkan sepanjang Juli 2026 telah terjadi empat kejadian tanah longsor di kawasan permukiman dan dua kejadian pohon tumbang.

Sebagian besar kejadian longsor hanya berdampak terhadap rumah warga dan belum sampai mengganggu fasilitas umum.

Menurut Yonsep, peningkatan kejadian tersebut berkaitan dengan kondisi cuaca yang mengalami anomali dalam beberapa hari terakhir.

Curah hujan memang tidak selalu tinggi, namun hujan turun dengan durasi yang lebih panjang. Sehingga tanah terus menerima resapan air.

“Tarakan itu tidak mengenal musim. Saat ini memang terjadi anomali cuaca. Hujannya mungkin tidak terlalu lebat, tetapi durasinya lebih panjang. Sehingga masyarakat tetap harus meningkatkan kewaspadaan,” tuturnya.

Ia menjelaskan longsor di Tarakan memiliki karakteristik berbeda dibandingkan daerah lain. Struktur tanah yang didominasi material berpasir membuat air mudah meresap ke dalam rongga-rongga tanah yang terbentuk saat musim kemarau.

Kondisi tersebut menyebabkan pergerakan tanah masih dapat terjadi dua hingga tiga hari, bahkan sampai satu pekan setelah hujan berhenti.

“Longsor di Tarakan tidak selalu terjadi saat hujan. Dua sampai tiga hari setelah hujan, bahkan bisa sampai seminggu kemudian. Longsor masih dapat terjadi karena kondisi tanah kita berpasir dan memiliki rongga setelah kemarau,” jelasnya.

Karena itu, BPBD mengimbau masyarakat yang tinggal di kawasan lereng tidak hanya mengandalkan penanganan dari pemerintah. Tetapi juga mulai melakukan langkah-langkah mitigasi secara mandiri sesuai kondisi lingkungan masing-masing.

Salah satu upaya yang disarankan adalah menjaga tutupan vegetasi, melakukan penanaman kembali setelah pembukaan lahan. Serta mempertahankan tanaman yang memiliki kemampuan menyerap air dengan baik, seperti bambu.

“Kalau ada pembukaan lahan, sebaiknya diimbangi dengan penanaman kembali. Untuk daerah rawan longsor, bambu menjadi salah satu tanaman yang baik karena membantu menyerap air. Yang tinggal di kawasan lereng juga jangan hanya menunggu pemerintah, tetapi ikut melakukan mitigasi sesuai kondisi lingkungan masing-masing,” pungkasnya. (sas/uno)

Editor : Nurismi
#longsor #BPBD Tarakan