HARIAN RAKYAT KALTARA — Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Kalimantan Utara mencatat inflasi tahunan atau year-on-year(y-on-y) pada Juni 2026 mencapai 3,30 persen.
Kenaikan tersebut dipicu oleh meningkatnya harga pada berbagai kelompok pengeluaran. Terutama makanan, minuman, dan tembakau yang masih menjadi penyumbang terbesar terhadap inflasi di daerah.
Kepala BPS Kaltara Mustaqim, menjelaskan Indeks Harga Konsumen (IHK) Kaltara naik dari 106,97 pada Juni 2025 menjadi 110,50 pada Juni 2026.
Sementara itu, inflasi bulanan (month-to-month/m-to-m) tercatat sebesar 0,45 persen, sedangkan inflasi tahun kalender (year-to-date/y-to-d) mencapai 1,90 persen.
“Perkembangan harga berbagai komoditas pada Juni 2026 secara umum menunjukkan adanya kenaikan. Berdasarkan hasil pemantauan BPS di tiga kabupaten/kota, inflasi year-on-year tercatat sebesar 3,30 persen,” ujarnya, Minggu (5/7).
Berdasarkan kelompok pengeluaran, kenaikan harga secara tahunan terjadi hampir di seluruh komponen. Kelompok makanan, minuman, dan tembakau mengalami inflasi sebesar 3,05 persen dengan andil terbesar terhadap inflasi, yakni 0,98 persen.
Selanjutnya, kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga mengalami inflasi 3,06 persen, transportasi 3,74 persen, penyediaan makanan dan minuman/restoran 3,87 persen, serta kelompok kesehatan 8,26 persen.
“Adapun kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya mencatat inflasi tertinggi secara tahunan, yakni 9,31 persen. Meski andilnya terhadap inflasi keseluruhan sebesar 0,71 persen,” ungkapnya.
Ia mengungkapkan sejumlah komoditas menjadi penyumbang utama inflasi tahunan. Di antaranya emas perhiasan, tarif air minum PAM, cabai rawit, tarif angkutan udara, beras, tarif rumah sakit, bawang merah, tomat, daging ayam ras, nasi dengan lauk, bensin, minyak goreng, hingga rokok kretek mesin (SKM).
Di sisi lain, beberapa komoditas justru menahan laju inflasi atau memberikan andil terhadap deflasi tahunan. Seperti ikan layang, bawang putih, telur ayam ras, kangkung, tarif angkutan laut, udang basah, daun bawang, jagung manis, susu bubuk balita, dan terong.
Untuk inflasi bulanan Juni 2026 sebesar 0,45 persen, kenaikan harga terutama dipengaruhi oleh cabai rawit, bawang merah, bensin, tarif angkutan udara, tomat, beras, cabai merah, minyak goreng, dan daging ayam ras.
Sebaliknya, penurunan harga pada tarif angkutan laut, telur ayam ras, emas perhiasan, kangkung, ikan tongkol, bawang putih, dan terong turut menahan laju inflasi selama Juni.
Sementara itu, di Kota Tarakan laju inflasi terus meningkat memasuki pertengahan tahun. Hingga Juni 2026, inflasi tahun kalender telah mencapai 1,87 persen, sementara inflasi tahunan menyentuh 3,62 persen.
Pada Juni saja, inflasi bulanan tercatat sebesar 0,45 persen, dipicu kenaikan harga sejumlah komoditas pangan dan biaya transportasi. Terutama cabai rawit, angkutan udara, bawang merah, serta bahan bakar kendaraan.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Tarakan menunjukkan Indeks Harga Konsumen (IHK) pada Juni 2026 berada di angka 110,02.
Kenaikan harga yang terjadi pada berbagai kelompok pengeluaran menjadi faktor utama yang mendorong inflasi sepanjang semester pertama tahun ini.
Kepala BPS Kota Tarakan Umar Riyadi mengatakan kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang terbesar inflasi bulanan dengan andil 0,23 persen.
Besarnya kontribusi kelompok ini menunjukkan komoditas pangan masih menjadi faktor utama pembentuk inflasi di Tarakan.
Selain pangan, kelompok transportasi memberikan andil inflasi sebesar 0,14 persen. Kemudian kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga menyumbang 0,04 persen, disusul kelompok perlengkapan, peralatan, dan pemeliharaan rutin rumah tangga dengan andil yang sama, yakni 0,04 persen.
“Kenaikan harga pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau masih menjadi faktor dominan pembentuk inflasi bulan Juni. Kelompok transportasi juga memberikan kontribusi yang cukup besar terhadap kenaikan indeks harga konsumen,” ujar Umar, Minggu (5/7).
Kelompok penyediaan makan minum atau restoran turut memberikan andil inflasi sebesar 0,03 persen. Sementara kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan menyumbang 0,01 persen terhadap kenaikan indeks harga konsumen.
Di sisi lain, tidak seluruh kelompok pengeluaran mengalami kenaikan harga. Kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya justru mencatat deflasi sebesar 0,03 persen. Demikian pula kelompok rekreasi, olahraga, dan budaya yang mengalami deflasi sebesar 0,01 persen.
“Tidak semua kelompok pengeluaran mengalami kenaikan harga. Ada beberapa kelompok yang justru mengalami penurunan indeks sehingga ikut menahan laju inflasi bulan ini,” katanya.
Berdasarkan komoditas, cabai rawit menjadi penyumbang terbesar inflasi Juni dengan andil mencapai 0,0873 persen. Kenaikan harga cabai kembali menempatkan komoditas tersebut sebagai pemicu utama inflasi di Kota Tarakan.
Setelah cabai rawit, komoditas yang memberikan andil terbesar berikutnya adalah angkutan udara sebesar 0,0729 persen, bawang merah 0,0726 persen, bensin 0,0713 persen, kue basah 0,0642 persen, ikan layang atau ikan benggol 0,0360 persen, minyak goreng 0,0212 persen, seng 0,0207 persen, tomat 0,0205 persen, dan martabak 0,0181 persen.
“Cabai rawit kembali menjadi komoditas yang paling dominan memengaruhi inflasi bulanan. Selain itu, penyesuaian tarif angkutan udara dan kenaikan harga bahan bakar kendaraan juga memberikan andil yang cukup besar terhadap inflasi Juni,” jelas Umar.
Meski demikian, sejumlah komoditas mengalami penurunan harga sehingga mampu menahan laju inflasi. Komoditas tersebut meliputi kangkung, telur ayam ras, emas perhiasan, angkutan laut, daging ayam ras, buku tulis bergaris, terong, ketimun, bayam, serta pembersih lantai.
“Adanya komoditas yang mengalami deflasi menunjukkan pergerakan harga di pasar masih cukup dinamis. Penurunan harga beberapa komoditas tersebut membantu meredam tekanan inflasi agar tidak lebih tinggi,” ujarnya.
Secara kumulatif, inflasi tahun kalender Kota Tarakan hingga Juni 2026 mencapai 1,87 persen. Sementara inflasi tahunan atau year-on-year (y-on-y) tercatat sebesar 3,62 persen.
Menurut Umar, perkembangan inflasi hingga pertengahan tahun perlu menjadi perhatian bersama. Dengan capaian inflasi semester pertama yang mendekati dua persen, pengendalian harga komoditas pangan strategis dinilai perlu terus diperkuat agar stabilitas harga tetap terjaga.
“Melihat perkembangan inflasi hingga pertengahan tahun, pengendalian harga komoditas pangan strategis harus terus diperkuat. Sinergi TPID bersama seluruh pemangku kepentingan menjadi kunci agar inflasi tetap terkendali,” katanya.
Ia berharap langkah-langkah pengendalian inflasi yang dilakukan pemerintah bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) dapat menjaga stabilitas harga hingga akhir tahun. Sehingga aktivitas ekonomi masyarakat tetap berjalan baik.
“Harapannya, stabilitas harga tetap terjaga sehingga aktivitas ekonomi berjalan baik dan daya beli masyarakat tidak mengalami penurunan hingga akhir tahun,” pungkas Umar. (fai/sas/uno)
Editor : Nurismi