Utama Pemerintahan Sanggam Kaltara Ekonomi Kombis Gaya Hidup All Sport Makan-Makan Parlementaria Polhukrim Catatan Batiwakkal

Belajar dari Covid-19, Labkesda Tarakan Kini Mandiri Periksa Sampel Lewat PCR Sendiri

Nurismi • Selasa, 30 Juni 2026 | 17:27 WIB
TES MANDIRI: Warga Tarakan melakukan tes PCR mandiri di Labkesda, Senin (29/6). (SEPTIAN ASMADI/HRK)
TES MANDIRI: Warga Tarakan melakukan tes PCR mandiri di Labkesda, Senin (29/6). (SEPTIAN ASMADI/HRK)

HARIAN RAKYAT KALTARA — Pengalaman menghadapi pandemi COVID-19 mendorong penguatan kapasitas laboratorium kesehatan di Kota Tarakan. 

Kini, Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda) Tarakan telah memiliki fasilitas Polymerase Chain Reaction (PCR) mandiri, menerapkan standar keamanan Biosafety Level 2 (BSL-2).

Serta memastikan ketersediaan reagen sebagai penopang utama pemeriksaan laboratorium, untuk meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi kejadian luar biasa (KLB) penyakit menular.

Kepala Labkesda Tarakan Sri Wahyuni, mengatakan kondisi tersebut sangat berbeda dibandingkan pada awal pandemi COVID-19. Saat itu, Tarakan belum memiliki fasilitas PCR.

Sehingga seluruh sampel yang diambil harus dikirim ke laboratorium rujukan di luar daerah untuk dilakukan pemeriksaan.

Akibatnya, proses memperoleh hasil pemeriksaan membutuhkan waktu lebih lama karena bergantung pada kapasitas laboratorium rujukan.

Peran Labkesda ketika itu lebih banyak difokuskan pada pengambilan sampel swab. Serta dukungan tenaga kesehatan dalam pelaksanaan pemeriksaan awal.

“Waktu COVID-19 kita belum punya PCR, jadi kita berperan dalam pemenuhan SDM untuk swab. Sampelnya dikirim ke laboratorium yang punya PCR. Jadi memang saat itu kita belum bisa melakukan pemeriksaan sendiri, hanya membantu dari sisi pengambilan sampel dan dukungan tenaga,” ujarnya, Senin (29/6).

Menurut Sri, keberadaan PCR mandiri saat ini menjadi salah satu penguatan penting dalam sistem kesehatan daerah. Karena memungkinkan pemeriksaan dilakukan secara langsung di Tarakan, tanpa harus menunggu hasil dari laboratorium luar daerah.

Dengan kemampuan tersebut, respons terhadap kasus penyakit menular. Termasuk infeksi emerging maupun kondisi kedaruratan kesehatan, dapat dilakukan lebih cepat sehingga mendukung pengambilan keputusan di lapangan.

“Alhamdulillah sekarang kita sudah punya PCR sendiri. Jadi kalau ada infeksi emerging atau keadaan darurat kesehatan, kita sudah bisa berperan lebih maksimal. Tidak lagi harus menunggu hasil dari luar daerah, sehingga responsnya juga bisa lebih cepat,” katanya.

Selain memperkuat kemampuan diagnostik, Labkesda juga menerapkan standar Biosafety Level 2 (BSL-2). Standar tersebut diterapkan untuk memastikan penanganan spesimen yang berpotensi mengandung risiko biologis dilakukan, sesuai prosedur keselamatan kerja laboratorium.

Sri menjelaskan bahwa keberadaan alat laboratorium modern saja belum cukup. Apabila tidak didukung ketersediaan reagen.

Menurutnya, reagen merupakan bahan utama yang menentukan seluruh proses pemeriksaan laboratorium.

Ia mengatakan hampir seluruh layanan laboratorium bergantung pada bahan tersebut, baik pemeriksaan klinik maupun pemeriksaan kesehatan lingkungan.

Jenis sampel yang diperiksa pun cukup beragam, mulai dari darah, urin, dan feses untuk layanan klinik, hingga sampel air, makanan, serta limbah dalam pemeriksaan kesehatan lingkungan.

“Reagen itu bahan utama pemeriksaan. Jadi semua pemeriksaan itu sangat tergantung reagen. Mau alatnya bagus seperti apa pun, kalau reagen tidak tersedia, pemeriksaan tidak bisa dilakukan. Itu berlaku untuk semua, baik pemeriksaan klinik maupun lingkungan,” jelasnya.

Karena menjadi komponen utama pelayanan, ketersediaan reagen harus dijaga secara berkelanjutan. Agar pelayanan laboratorium tidak terganggu, terutama ketika terjadi peningkatan kebutuhan pemeriksaan saat muncul kasus penyakit menular.

“Kalau reagen tidak tersedia, otomatis layanan bisa terhenti. Jadi memang harus selalu tersedia supaya pelayanan tetap berjalan. Karena setiap hari ada sampel yang harus diperiksa,” ujarnya.

Dalam mendukung kesiapsiagaan menghadapi kedaruratan kesehatan, Labkesda Tarakan juga tergabung dalam jejaring lintas sektor bersama Dinas Kesehatan dan Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP).

Koordinasi tersebut dilakukan untuk mempercepat penanganan. Apabila ditemukan kasus tertentu yang memerlukan respons bersama.

“Selama ini kita juga bekerja sama dalam bentuk jejaring, terutama saat kondisi darurat kesehatan. Jadi ada koordinasi dengan Dinas Kesehatan dan KKP kalau ada kasus-kasus tertentu yang membutuhkan penanganan bersama,” ucapnya.

Selain penguatan sarana dan koordinasi, Labkesda secara rutin melaksanakan kegiatan advokasi dan sosialisasi kepada puskesmas, kelurahan, serta fasilitas pelayanan kesehatan lainnya.

Kegiatan tersebut bertujuan menyamakan pemahaman mengenai alur pemeriksaan laboratorium. Sehingga pelayanan dapat berjalan sesuai prosedur.

Sri menegaskan pengalaman menghadapi pandemi COVID-19 menjadi pembelajaran penting bagi daerah. Untuk membangun sistem laboratorium yang lebih mandiri, memiliki kapasitas pemeriksaan yang lebih baik.

Serta mampu memberikan respons lebih cepat apabila terjadi kejadian luar biasa penyakit menular di masa mendatang.

“Kalau kita lihat dari pengalaman COVID-19, itu menjadi pembelajaran penting. Kita harus lebih siap, lebih mandiri, dan bisa merespons lebih cepat kalau ada kejadian seperti itu lagi,” tutupnya. (sas/uno)

Editor : Nurismi
#Tes PCR #Labkesda Tarakan #penyakit menular