Utama Pemerintahan Sanggam Kaltara Ekonomi Kombis Gaya Hidup All Sport Makan-Makan Parlementaria Polhukrim Entertaiment Catatan

Pangkas Waktu Pengiriman Hasil Laut, Bandara Juwata Tarakan Siapkan Skema Ekspor Langsung

Nurismi • Senin, 15 Juni 2026 | 09:40 WIB
EKSPOR LANGSUNG: Ekspor ke Hong Kong yang sempat berjalan, kini harus terhenti kembali. (HRK)
EKSPOR LANGSUNG: Ekspor ke Hong Kong yang sempat berjalan, kini harus terhenti kembali. (HRK)

HARIAN RAKYAT KALTARA — Ambisi Kalimantan Utara (Kaltara) untuk memperkuat jalur ekspor langsung ke pasar internasional masih menghadapi tantangan di sektor penerbangan. 

Di tengah upaya menjadikan Bandara Juwata Tarakan sebagai simpul logistik udara kawasan perbatasan, keterbatasan akses dalam skema Open Sky ASEAN dinilai menjadi salah satu hambatan yang belum sepenuhnya teratasi.

Tidak semua bandara di kawasan ASEAN dapat membuka penerbangan internasional secara langsung. Karena adanya pengaturan khusus dalam skema tersebut. 

Kondisi itu berdampak pada pengembangan konektivitas Tarakan, termasuk dalam mendukung ekspor komoditas unggulan. Seperti hasil perikanan yang membutuhkan distribusi cepat ke negara tujuan.

Kepala Bidang Keamanan Penerbangan dan Pelayanan Darurat Bandara Juwata Tarakan Daverius Maarang mengatakan, Open Sky ASEAN memang memberikan peluang terbukanya konektivitas udara antarnegara.

Namun pelaksanaannya tetap dibatasi pada bandara-bandara tertentu yang ditetapkan sebagai pintu gerbang internasional.

“Dalam skema Open Sky ASEAN, tidak semua bandara bisa langsung membuka rute internasional. Ada bandara tertentu yang memang menjadi pintu utama,” ujarnya.

Menurutnya, kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi Tarakan yang tengah berupaya mengembangkan layanan penerbangan internasional, untuk menopang aktivitas ekspor langsung dari Kaltara.

Meski demikian, Bandara Juwata terus melakukan berbagai pembenahan untuk memperkuat kesiapan operasional sebagai bandara internasional.

Salah satunya melalui penguatan sistem Facilitation (FAL) yang mengintegrasikan pelayanan Customs, Immigration, dan Quarantine (CIQ). Serta dukungan administrasi penerbangan berupa Flight Approval dan Security Clearance.

“Di bandara ini kami mengenal CIQ, yaitu Bea Cukai, Imigrasi, dan Karantina. Selain itu ada flight approval dan security clearance untuk mendukung operasional penerbangan internasional,” katanya.

Integrasi layanan tersebut dibangun melalui koordinasi lintas instansi. Agar seluruh proses ekspor melalui jalur udara dapat berjalan lebih cepat dan efisien.

Bandara Juwata bersama Bea Cukai, Karantina, dan Pelindo bahkan telah menyusun standar operasional prosedur (SOP) bersama. Termasuk mekanisme joint inspection terhadap barang ekspor.

“Kami bersama Bea Cukai, Karantina, Bandara, dan Pelindo sudah membentuk SOP bersama. Ini untuk mempercepat proses dan memotong dwelling time,” jelasnya.

Ia menambahkan, penerapan standar layanan (Service Level Agreement/SLA) pada proses karantina juga menjadi salah satu langkah percepatan.

Seluruh tahapan mulai dari pengajuan permohonan, pemeriksaan hingga penerbitan dokumen ditargetkan selesai dalam waktu kurang dari 50 menit.

“Di karantina itu sudah ada SLA, kurang dari 50 menit sudah selesai, mulai dari permohonan sampai dokumen terbit, termasuk pemeriksaan,” ujarnya.

Efisiensi tersebut dinilai memberikan dampak besar terhadap rantai logistik ekspor. Khususnya komoditas hasil laut yang selama ini banyak dikirim melalui rute transit.

Sebelum adanya penguatan skema ekspor langsung, waktu pengiriman dapat mencapai sekitar 30 jam akibat harus melewati beberapa bandara penghubung.

Dengan semakin terbukanya peluang penerbangan langsung, waktu distribusi dapat dipangkas. Sehingga kualitas produk tetap terjaga dan daya saing komoditas ekspor Kalimantan Utara meningkat di pasar internasional.
 

Selain mendukung efisiensi logistik, ekspor langsung melalui Tarakan juga berkontribusi terhadap pencatatan ekonomi daerah.

Aktivitas ekspor yang sebelumnya tercatat di daerah lain kini diharapkan dapat masuk dalam sistem administrasi resmi Kalimantan Utara. Sehingga berdampak pada peningkatan devisa dan penerimaan pajak.

“Dengan ekspor ini berjalan, maka devisa tercatat, pajak masuk, dan aktivitas ekonomi yang sebelumnya tidak tercatat bisa masuk ke sistem resmi,” katanya.

Daverius menilai keberhasilan pengembangan ekspor udara tidak hanya bergantung pada kesiapan bandara. Tetapi juga memerlukan kolaborasi seluruh instansi yang terlibat.

Sinergi antarlembaga menjadi faktor penting agar pelayanan berjalan dalam satu sistem yang saling mendukung tanpa ego sektoral.

“Diperlukan koordinasi antarinstansi agar proses ekspor tidak berjalan sendiri-sendiri, tetapi saling melengkapi dalam satu sistem layanan,” ujarnya.

Ia menegaskan, penguatan akses penerbangan internasional tetap menjadi agenda strategis dalam mengoptimalkan posisi Tarakan. Sebagai gerbang logistik dan perdagangan di wilayah perbatasan Indonesia.

“Penguatan akses penerbangan internasional menjadi bagian penting untuk memperkuat posisi Tarakan sebagai penghubung ekspor di wilayah perbatasan,” tegasnya. (sas/uno)

Editor : Nurismi
#skema ekspor #Kaltara