Utama Pemerintahan Sanggam Kaltara Ekonomi Kombis Gaya Hidup All Sport Makan-Makan Parlementaria Polhukrim Entertaiment Catatan

Menjadi Tantangan Terbesar, Banyak PAUD di Tarakan Terancam Berhenti Akibat Krisis Regenerasi

Nurismi • Senin, 15 Juni 2026 | 08:35 WIB
Kepala Bidang PAUD dan PNF Disdik Tarakan, Abdul Razaq. (SEPTIAN ASMADI/HRK)
Kepala Bidang PAUD dan PNF Disdik Tarakan, Abdul Razaq. (SEPTIAN ASMADI/HRK)

HARIAN RAKYAT KALTARA - Tantangan terbesar lembaga Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) di Kota Tarakan ternyata bukan semata-mata mencari peserta didik, melainkan memastikan estafet kepengurusan berjalan dengan baik. 

Banyak lembaga yang lahir dari semangat pengabdian para pegiat pendidikan menghadapi persoalan keberlanjutan, ketika pengelola memasuki masa pergantian generasi.

Di tengah dominasi PAUD yang dikelola oleh yayasan dan masyarakat, regenerasi kepemimpinan menjadi faktor penentu.

Apakah sebuah lembaga mampu terus memberikan layanan pendidikan atau justru berhenti beroperasi karena kehilangan figur penggeraknya.

Kepala Bidang Pendidikan Anak Usia Dini dan Pendidikan Nonformal (PAUD dan PNF) Dinas Pendidikan Kota Tarakan Abdul Razaq mengatakan, sebagian besar satuan PAUD di Tarakan berdiri atas inisiatif masyarakat melalui yayasan. 

Model pengelolaan tersebut telah berkontribusi besar dalam memperluas akses pendidikan anak usia dini. Namun juga menyimpan tantangan dalam menjaga kesinambungan organisasi.

“Sebagian besar PAUD kita dikelola oleh masyarakat melalui yayasan. Ketika pendirinya masih aktif biasanya lembaga berjalan dengan baik. Tetapi tantangannya muncul ketika pengelolaan mulai beralih ke generasi berikutnya,” ujarnya.

Menurutnya, banyak pendiri lembaga merupakan sosok yang memiliki dedikasi tinggi terhadap dunia pendidikan.

Semangat pengabdian tersebut menjadi modal utama dalam membangun dan mengembangkan PAUD hingga dipercaya masyarakat.

Namun ketika tongkat estafet kepemimpinan berpindah kepada penerus, tidak semua lembaga mampu mempertahankan semangat dan komitmen yang sama. Akibatnya, kualitas pengelolaan bahkan keberlangsungan operasional lembaga dapat mengalami penurunan.

“Ada lembaga yang dibangun oleh orang-orang yang memang memiliki kepedulian tinggi terhadap dunia pendidikan. Ketika pengelolaannya beralih, tantangannya adalah bagaimana semangat itu tetap terjaga sehingga lembaga bisa terus berkembang dan memberikan layanan yang baik,” katanya.

Ia menilai keberlangsungan PAUD tidak hanya ditentukan oleh aktivitas belajar mengajar. Tetapi juga kemampuan lembaga membangun tata kelola yang profesional dan berkelanjutan. Regenerasi pengelola harus dipersiapkan sejak dini agar visi dan misi lembaga tetap terjaga.

Selain penguatan internal lembaga, Dinas Pendidikan juga terus melakukan pembinaan melalui pengawas dan penilik sesuai jenis satuan pendidikan.

Pendampingan dilakukan secara berkala untuk memastikan penyelenggaraan pendidikan berjalan sesuai standar yang telah ditetapkan.

“Untuk taman kanak-kanak ada pengawas sekolah, sedangkan kelompok bermain dan satuan pendidikan nonformal lainnya dibina oleh penilik. Mereka melakukan pemantauan dan pembinaan secara berkala terhadap lembaga yang menjadi binaannya,” jelasnya.

Pembinaan tersebut mencakup aspek manajemen kelembagaan, proses pembelajaran, hingga administrasi penyelenggaraan pendidikan.

Dengan pendampingan yang berkelanjutan, pemerintah berharap kualitas layanan PAUD dapat terus meningkat.

Abdul Razaq menambahkan, lembaga yang baru berdiri juga tidak serta-merta langsung beroperasi penuh.

Pemerintah terlebih dahulu melakukan penilaian terhadap kesiapan lembaga, baik dari sisi pengelolaan maupun pelaksanaan kegiatan belajar.

“Lembaga yang baru tentu perlu menunjukkan pengelolaannya berjalan dengan baik. Kita melihat prosesnya terlebih dahulu, bagaimana kegiatan pembelajarannya, manajemennya, dan kesiapan lembaga dalam memberikan layanan pendidikan,” ujarnya.

Menurutnya, proses tersebut penting untuk memastikan setiap lembaga benar-benar siap memberikan pendidikan yang berkualitas bagi anak usia dini.

Pendidikan pada jenjang ini memiliki peran strategis dalam membentuk karakter dan perkembangan dasar anak sehingga penyelenggaraannya harus dikelola secara serius.

Dari sisi administrasi, proses perizinan lembaga pendidikan kini dilakukan melalui mekanisme pelayanan terpadu satu pintu yang melibatkan berbagai instansi sesuai kewenangannya.

Sistem tersebut diterapkan untuk memastikan seluruh persyaratan telah dipenuhi sebelum lembaga memperoleh izin operasional.

“Perizinan sekarang dilakukan melalui sistem satu pintu. Dalam prosesnya ada koordinasi dengan instansi terkait. Untuk melihat kesiapan lembaga sesuai ketentuan yang berlaku,” katanya.

Ia menegaskan bahwa pengelolaan yang berkelanjutan, pembinaan yang konsisten, serta kepatuhan terhadap ketentuan penyelenggaraan merupakan tiga pilar penting dalam menjaga eksistensi PAUD di Kota Tarakan.

Ke depan, tantangan regenerasi diharapkan dapat diantisipasi oleh setiap yayasan maupun pengelola dengan menyiapkan kader penerus yang memiliki komitmen terhadap dunia pendidikan.

Dengan demikian, layanan pendidikan anak usia dini tetap tersedia dan terus berkembang di tengah kebutuhan masyarakat yang semakin meningkat.

“Yang menjadi tantangan adalah menjaga keberlangsungan lembaga ketika terjadi pergantian pengelola. Jangan sampai layanan pendidikan ikut terhenti, karena anak-anak tetap membutuhkan akses pendidikan yang baik,” pungkasnya. (sas/uno)

Editor : Nurismi
#Disdik Tarakan #paud