HARIAN RAKYAT KALTARA — Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Kalimantan Utara mencatat inflasi tahunan atau year-on-year(y-on-y) sebesar 2,90 persen pada Mei 2026.
Angka tersebut menunjukkan adanya kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 106,90 pada Mei 2025 menjadi 110,00 pada Mei 2026.
Kepala BPS Kaltara Mustaqim menjelaskan, bahwa secara umum harga berbagai komoditas di Kaltara mengalami peningkatan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Selain inflasi tahunan, Kaltara juga mencatat inflasi bulanan (month-to-month atau m-to-m) sebesar 0,27 persen dan inflasi tahun kalender (year-to-date atau y-to-d) 1,44 persen.
“Berdasarkan hasil pemantauan BPS di tiga kabupaten/kota di Kalimantan Utara, pada Mei 2026 terjadi inflasi tahunan sebesar 2,90 persen. Sementara inflasi bulanan tercatat 0,27 persen dan inflasi tahun kalender sebesar 1,44 persen,” ujarnya, Selasa (2/6).
Dari sebelas kelompok pengeluaran yang menjadi komponen pembentuk inflasi, hampir seluruhnya mengalami kenaikan indeks harga.
Kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya mencatat inflasi tertinggi secara tahunan sebesar 9,53 persen, disusul kelompok kesehatan 7,84 persen dan kelompok transportasi 4,51 persen.
“Kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran juga mengalami kenaikan 3,52 persen, sementara kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga naik 2,97 persen. Adapun kelompok makanan, minuman, dan tembakau mengalami inflasi sebesar 1,84 persen,” sebut dia.
Sebaliknya, kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan menjadi satu-satunya kelompok yang mengalami penurunan indeks atau deflasi sebesar 0,01 persen secara tahunan.
Sejumlah komoditas memberikan kontribusi besar terhadap inflasi tahunan di Kaltara. Di antaranya emas perhiasan, tarif angkutan udara, tarif air minum PAM, beras, tarif rumah sakit, tomat, air kemasan, daging ayam ras, sepeda motor, bakso siap santap, bawang merah, minyak goreng, hingga bahan bakar rumah tangga.
Sementara itu, beberapa komoditas justru menahan laju inflasi atau memberikan andil terhadap deflasi. Seperti ikan layang, kangkung, bawang putih, cabai rawit, bayam, cabai merah, sawi hijau, sabun deterjen bubuk, udang basah, dan susu bubuk balita.
Untuk inflasi bulanan Mei 2026 sebesar 0,27 persen, kelompok transportasi menjadi penyumbang terbesar dengan andil 0,26 persen. Kenaikan tarif angkutan udara menjadi faktor dominan yang mendorong peningkatan harga pada periode tersebut.
“Kenaikan harga beras, minyak goreng, makanan siap saji, bahan bakar rumah tangga. Serta biaya perawatan kendaraan juga turut memberikan kontribusi terhadap inflasi bulanan,” kata dia.
Menurutnya, perkembangan inflasi di Kalimantan Utara masih berada dalam rentang yang terkendali. Meski demikian, sejumlah komoditas strategis tetap perlu mendapat perhatian. Karena memiliki pengaruh besar terhadap pergerakan harga di tingkat konsumen. “
"Pemantauan harga dan ketersediaan pasokan komoditas penting perlu terus dilakukan. Agar stabilitas harga tetap terjaga dan daya beli masyarakat dapat dipertahankan,” tutupnya. (fai/uno)
Editor : Nurismi