Utama Pemerintahan Sanggam Kaltara Ekonomi Kombis Gaya Hidup All Sport Makan-Makan Parlementaria Polhukrim Entertaiment Catatan

Anak Pelosok Malinau Guncang Korea Selatan, Paduan Suara ICC Sukses Hipnotis Penonton Dunia

Nurismi • Selasa, 2 Juni 2026 | 09:45 WIB
MEMBANGGAKAN: Dari pelosok negeri, Intimung Choral Community berhasil membius penonton di Jiju International Choir Festival Korea Selatan. (DOKUMENTASI PRIBADI)
MEMBANGGAKAN: Dari pelosok negeri, Intimung Choral Community berhasil membius penonton di Jiju International Choir Festival Korea Selatan. (DOKUMENTASI PRIBADI)

Siapa sangka sebuah paduan suara dari pelosok Kalimantan Utara mampu membuat penonton internasional terpukau hingga ikut bertepuk tangan mengikuti irama lagu daerah Kaltara di Korea Selatan.

Ary Fahd-MALINAU 

INTIMUNG Choral Community (ICC) Malinau, kelompok paduan suara yang sukses membawa nama Kalimantan Utara ke panggung internasional melalui penampilan memukau mereka membawakan lagu daerah “Bebilin” di Korea Selatan. 

Dalam wawancara eksklusif bersama Harian Rakyat Kaltara, Coach sekaligus Conductor ICC, Cessna Kurniawan mengaku perjalanan menuju panggung internasional tersebut berawal dari sebuah mimpi yang nyaris terasa mustahil. 

“Rasanya sangat bangga, bahagia, dan terharu. Terharu karena ternyata orang pelosok seperti kita juga bisa tampil di panggung berkelas internasional. Dulu rasanya hanya mimpi yang tidak akan tercapai. Rupanya memang kita tidak boleh takut untuk bermimpi,” ujar Cessna. 

Perjalanan ICC menuju Korea Selatan bermula saat mereka mengikuti Bali International Choir Festival (BICF) 2024. Menjadi kompetisi internasional pertama mereka meski saat itu usia komunitas belum genap satu tahun. 

Tak disangka, melalui persiapan berbulan-bulan, ICC berhasil meraih medali emas dan menarik perhatian penyelenggara internasional. 

“Saat itu saya iseng mendaftarkan ICC untuk program konser di Korea Selatan. Jujur saya berpikir kami tidak akan lolos karena banyak paduan suara hebat yang ikut mendaftar. Ternyata saat pengumuman, nama Intimung Choral Community yang dipanggil. Kami resmi menjadi delegasi Indonesia,” kenangnya. 

Setelah mendapatkan dukungan dari pembina komunitas, Maylenty Wempi, tim langsung mempersiapkan diri selama sekitar enam bulan sebelum bertolak ke Negeri Ginseng. 

Di tengah banyaknya pilihan lagu yang bisa dibawakan, Cessna memilih lagu daerah Kaltara berjudul Bebilin sebagai salah satu sajian utama.

Menurutnya, lagu tersebut memiliki melodi yang khas dan makna yang kuat. Sekaligus menjadi bagian dari misi budaya yang selalu mereka bawa dalam setiap penampilan internasional. 

“Kalau kami tampil di luar daerah atau luar negeri, pasti ada sesuatu yang khas dari Malinau dan Kalimantan Utara yang kami bawa. Salah satunya lagu-lagu tradisional,” katanya. 

Penampilan ICC yang memadukan harmonisasi suara, gerak tari, kostum tradisional, dan iringan musik khas daerah sukses mencuri perhatian penonton internasional. 

“Mereka sangat bahagia dan takjub. Dari kursi penonton kami bisa mendengar mereka bertepuk tangan mengikuti tempo lagu. Mereka seperti ingin ikut menari bersama. Publik internasional benar-benar terhipnotis dengan penampilan kami,” ungkapnya. 

Di balik gemerlap panggung internasional, tersimpan perjuangan panjang yang tak banyak diketahui publik. 
Rombongan ICC harus menempuh perjalanan berhari-hari dari Malinau menuju Tarakan, Jakarta, Singapura, hingga akhirnya tiba di Korea Selatan. 

Belum sempat beristirahat setelah perjalanan panjang, mereka langsung diarahkan menuju Kota Andong untuk menggelar konser bersama paduan suara asal Kanada. 

“Kami pikir setelah makan siang bisa istirahat. Ternyata panitia langsung meminta kami menuju gedung pertunjukan. Kami sampai ganti kostum di dalam bus dan beberapa menit kemudian langsung tampil,” cerita Cessna sambil tertawa. 

Pengalaman menegangkan lainnya terjadi saat penerbangan menuju Pulau Jeju di tengah musim dingin dengan suhu mencapai minus 7 derajat Celsius. 

Pesawat yang mereka tumpangi sempat mengalami turbulensi hebat akibat angin kencang dan cuaca bersalju. 

“Berkali-kali kami hanya bisa diam sambil berdoa. Puji Tuhan akhirnya mendarat dengan selamat. Bagi warga lokal itu biasa, tapi bagi kami sangat mengejutkan,” katanya. 

Keberhasilan ICC mendapat apresiasi besar dari Pemerintah Kabupaten Malinau. Menurut Cessna, para pimpinan daerah menyambut pencapaian tersebut dengan penuh kebanggaan karena menjadi bukti bahwa anak-anak muda dari wilayah perbatasan Indonesia mampu bersaing di tingkat dunia.

“Ini menunjukkan bahwa SDM Malinau mampu berdaya saing global. Kami sangat berterima kasih kepada pemerintah daerah yang terus mendukung perkembangan seni dan budaya,” ujarnya. 

Meski telah menorehkan prestasi internasional, ICC belum berhenti bermimpi. Mereka menargetkan bisa tampil di berbagai ajang paduan suara bergengsi di Eropa seperti Italia dan Spanyol, serta menembus Asia Choral Grand Prix, kompetisi yang mempertemukan para juara paduan suara terbaik se-Asia. 

Dalam waktu dekat, ICC juga tengah mempersiapkan diri mengikuti kompetisi internasional di Malaysia pada Agustus mendatang. Namun tantangan terbesar yang mereka hadapi saat ini adalah dukungan pendanaan. 

“Kami berharap ada sponsor yang bersedia membantu sehingga kami bisa berkompetisi di Malaysia dan membawa pulang prestasi untuk Indonesia, khususnya Kalimantan Utara,” katanya. 

Cessna menitipkan pesan kepada generasi muda Kaltara agar tidak melupakan akar budayanya. 

“Cintailah kebudayaanmu dan terus kembangkan agar tetap hidup di era modern. Jangan sampai generasi berikutnya kehilangan identitas dirinya. Bukan budayanya yang membosankan, tetapi kita yang harus lebih kreatif mengembangkannya tanpa menghilangkan nilai luhurnya,” pesannya. 

Dari sebuah mimpi di pelosok Malinau, kini suara Kalimantan Utara telah bergema hingga Korea Selatan. Dan bagi Intimung Choral Community, perjalanan itu tampaknya baru saja dimulai. (*/uno)

Editor : Nurismi
#INTIMUNG Choral Community Malinau #konser internasional #korea