HARIAN RAKYAT KALTARA — Penanganan tuberkulosis (TB) di Kalimantan Utara tidak hanya menghadapi tantangan rendahnya penemuan kasus. Tetapi juga persoalan stigma di tengah masyarakat yang masih kuat terhadap penderita TB.
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kaltara Usman mengatakan, stigma sosial membuat sebagian masyarakat enggan memeriksakan diri atau menjalani pengobatan ketika mengalami gejala TB.
Menurutnya, kondisi tersebut hampir serupa dengan stigma yang selama ini melekat pada penderita HIV/AIDS.
“TB ini hampir sama dengan HIV, ada stigma juga. Kalau orang menderita TB itu kadang ada perlakuan tertentu dari lingkungan,” ujarnya, Minggu (31/5).
Ia menjelaskan, rendahnya pemahaman masyarakat menjadi salah satu faktor yang menyebabkan kasus TB terus meningkat setiap tahun.
Karena itu, pemerintah akan menggencarkan edukasi kepada masyarakat. Agar penanganan TB dapat dilakukan lebih terbuka dan tidak menimbulkan diskriminasi.
“Edukasi kepada masyarakat akan terus kita gencarkan supaya pemahaman tentang TB semakin baik,” jelasnya.
Selain edukasi, Pemerintah Provinsi Kalimantan Utara juga tengah menyusun rancangan Peraturan Gubernur (Pergub) tentang Rencana Aksi Daerah penanggulangan TB.
Regulasi tersebut disiapkan sebagai langkah memperkuat koordinasi lintas sektor dalam penanganan TB di daerah.
“Sekarang sedang berproses untuk rencana aksi daerah terkait penanggulangan TB,” terangnya.
Ia menilai penanganan TB membutuhkan keterlibatan banyak pihak, tidak hanya sektor kesehatan. Tetapi juga pemerintah daerah hingga masyarakat.
“Saat ini, berdasarkan estimasi Dinas Kesehatan Kaltara, jumlah masyarakat yang diduga terpapar TB mencapai sekitar 15 ribu orang. Namun, kasus yang berhasil ditemukan dan tercatat baru sekitar 1.700-an kasus,” sebut dia.
Sementara itu, tingkat keberhasilan pengobatan juga masih berada di bawah 70 persen. Menurut Usman, kondisi tersebut menjadi pekerjaan rumah besar bagi pemerintah daerah.
Sebab, penderita TB yang tidak menjalani pengobatan berpotensi terus menularkan penyakit kepada orang lain.
“Strategi penanggulangan TB itu sebenarnya bagaimana penderita ditemukan, diobati sampai sembuh sehingga tidak terjadi penularan lagi,” tegasnya.
Melalui penguatan edukasi, penghapusan stigma dan penyusunan rencana aksi daerah, Pemprov Kaltara berharap penanganan TB di daerah dapat berjalan lebih optimal.
Sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat untuk melakukan pemeriksaan dan pengobatan sejak dini. (fai/uno)
Editor : Nurismi