Utama Pemerintahan Sanggam Kaltara Ekonomi Kombis Gaya Hidup All Sport Makan-Makan Parlementaria Polhukrim Entertaiment Catatan

Tak Lagi Lewat Tawau Malaysia, Kepiting Bakau Unggulan Kaltara Kini Tembus Ekspor Langsung ke Hongkong

Nurismi • Sabtu, 23 Mei 2026 | 09:35 WIB
PEMERIKSAAN: Petugas Badan Karantina Kaltara melakukan pemeriksaan fisik dan klinis sebelum kepiting bakau di ekspor melalui bandara. (BADAN KARANTINA KALTARA UNTUK HRK)
PEMERIKSAAN: Petugas Badan Karantina Kaltara melakukan pemeriksaan fisik dan klinis sebelum kepiting bakau di ekspor melalui bandara. (BADAN KARANTINA KALTARA UNTUK HRK)

HARIAN RAKYAT KALTARA — Badan Karantina Indonesia melalui Balai Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan (BKHIT) Kalimantan Utara (Kaltara) kembali mendorong penguatan ekspor komoditas unggulan daerah. 

Sebanyak 935 ekor kepiting bakau milik PT Sabindo Raya Gemilang diberangkatkan langsung menuju Hongkong melalui Bandara Juwata Tarakan pada Kamis (21/5). Nilai ekspor tersebut mencapai Rp 49.722.112.

Pengiriman langsung ke Hongkong ini menjadi langkah baru dalam rantai perdagangan komoditas perikanan asal Kaltara.

Selama ini, pengiriman kepiting dari wilayah perbatasan umumnya lebih banyak melalui Tawau, Malaysia, sebelum diteruskan ke negara tujuan ekspor.

Kepala Karantina Kaltara Ichi Langlang Buana Machmud mengatakan, lalu lintas ekspor kepiting bakau sepanjang 2026 masih didominasi tujuan Singapura dan Malaysia.

Berdasarkan ekapitulasi lalu lintas media pembawa kepiting bakau (Scylla sp) melalui angkutan udara dan laut, total volume ekspor periode Januari hingga April 2026 mencapai 4.299.898 ekor dengan frekuensi pengiriman sebanyak 625 kali dan nilai barang mencapai Rp 119,3 miliar. 

“Pada Januari 2026, volume kepiting yang diekspor tercatat sebanyak 1.074.049 ekor dengan nilai Rp 33,8 miliar. Februari meningkat menjadi 1.389.975 ekor senilai Rp 22,8 miliar. Sementara Maret mencapai 974.136 ekor dengan nilai Rp31,7 miliar dan April sebanyak 851.738 ekor dengan nilai Rp30,9 miliar,” sebutnya, Jumat (22/5).

Selain itu, data ekspor melalui Bandara Internasional Juwata Tarakan periode Januari-Maret 2026 juga mencatat pengiriman kepiting hidup ke beberapa negara tujuan.

Ekspor ke Tiongkok tercatat sebanyak 9.000 ekor dengan nilai Rp 858 juta. Sementara Singapura menjadi tujuan terbesar dengan volume 80.595 ekor senilai Rp 6,2 miliar dan frekuensi pengiriman mencapai 145 kali. Adapun Malaysia tercatat menerima 37.424 ekor dengan nilai mencapai Rp35,5 miliar. 

“Keberhasilan ekspor langsung ini menunjukkan komoditas perikanan daerah memiliki kualitas yang mampu bersaing di pasar internasional,” ujar Ichi.

Menurutnya, setiap komoditas yang akan dilalulintaskan ke luar negeri wajib melalui serangkaian tindakan karantina. Guna memastikan kesehatan dan keamanan produk sesuai standar negara tujuan.

“Sebelum diberangkatkan, petugas Karantina Kaltara telah melakukan pemeriksaan fisik dan verifikasi dokumen kesehatan ikan. Untuk memastikan kepiting dalam kondisi sehat, aman dan memenuhi persyaratan negara tujuan,” tegasnya.

Ia menegaskan, ekspor komoditas bukan hanya berkaitan dengan pengiriman barang. Tetapi juga menyangkut kepercayaan pasar internasional terhadap kualitas produk perikanan Indonesia.

“Ekspor ini bukan hanya tentang pengiriman komoditas, tetapi juga tentang kepercayaan pasar internasional terhadap kualitas produk perikanan kita. Karantina hadir untuk memastikan setiap komoditas yang dilalulintaskan telah memenuhi persyaratan kesehatan dan keamanan sesuai ketentuan negara tujuan,” katanya.

Menurut Ichi, kelancaran ekspor juga tidak terlepas dari sinergi antara pemerintah dan pelaku usaha dalam menjaga mutu komoditas serta kepatuhan terhadap aturan karantina.

“Kami terus berkomitmen memberikan pelayanan karantina yang cepat, tepat, dan profesional agar para pelaku usaha semakin percaya diri memperluas pasar ekspornya. Harapannya, semakin banyak komoditas unggulan Kaltara yang mampu menembus pasar dunia dan memberikan dampak positif bagi perekonomian daerah,” tambahnya.

Ekspor langsung menuju Hongkong dinilai menjadi peluang perluasan pasar baru bagi komoditas kepiting asal Kaltara. Selama ini, Tawau dikenal sebagai salah satu pusat perdagangan kepiting di kawasan perbatasan.

Karena aktivitas ekspor yang cukup tinggi, sementara sebagian pasokan komoditas berasal dari wilayah Kaltara.

Dengan mulai terbukanya jalur ekspor langsung dari Tarakan menuju negara tujuan, peluang penguatan perdagangan dan peningkatan daya saing komoditas daerah diperkirakan akan semakin berkembang. 

“Ekspor langsung ini membuka peluang peningkatan nilai tambah bagi pelaku usaha lokal sekaligus memperkuat posisi Kalimantan Utara sebagai daerah penghasil kepiting bakau,” tutup Ichi. (sas/uno)

Editor : Nurismi
#BKHIT Kaltara #kepiting bakau #ekspor