Utama Pemerintahan Sanggam Kaltara Ekonomi Kombis Gaya Hidup All Sport Makan-Makan Parlementaria Polhukrim Entertaiment Catatan

Banyak Anak Merasa Asing di Rumah Sendiri, MUI Tarakan Desak Orang Tua Stop Pola Asuh Satu Arah

Nurismi • Rabu, 20 Mei 2026 | 08:20 WIB
MENINGGAL DUNIA: Salah seorang anak di bawah umur diduga meninggal dunia akibat bunuh diri, belum lama ini. (HRK)
MENINGGAL DUNIA: Salah seorang anak di bawah umur diduga meninggal dunia akibat bunuh diri, belum lama ini. (HRK)

HARIAN RAKYAT KALTARA — Maraknya kembali kasus bunuh diri di kalangan remaja memicu perhatian serius dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Tarakan. 

Fenomena ini dinilai sebagai muara dari akumulasi persoalan kompleks yang mencakup rapuhnya benteng keluarga, tekanan sosial, hingga disrupsi dunia digital.

Ketua MUI Tarakan Abdul Samad menyatakan, rentetan peristiwa tragis ini harus ditempatkan sebagai alarm darurat bagi seluruh elemen masyarakat. 

Menurutnya, penanganan masalah ini tidak dapat dilakukan secara parsial. Melainkan harus menyentuh akar persoalan dari berbagai dimensi kehidupan remaja.

“Fenomena bunuh diri, terlebih yang melibatkan kalangan remaja, tentu menjadi keprihatinan bersama. Persoalan ini tidak bisa dilihat hanya dari satu sisi, tetapi harus dipahami sebagai masalah kemanusiaan, sosial, mental, spiritual, dan juga lingkungan keluarga,” katanya, Selasa (19/5).

Berdasarkan analisis situasi di lapangan, tekanan yang dihadapi kelompok usia remaja saat ini jauh lebih berlapis.

Faktor pemicu bergerak dinamis mulai dari konflik internal keluarga, beban akademik di sekolah, himpitan ekonomi, dinamika pergaulan, hingga penetrasi media sosial yang memengaruhi kondisi psikologis secara masif.

MUI menyoroti adanya pemutusan arus komunikasi yang sehat di dalam rumah tangga sebagai salah satu pemicu utama fluktuasi mental remaja.

Pola asuh yang cenderung satu arah. Di mana anak lebih banyak dijejali tuntutan ketimbang diberikan ruang aman untuk berekspresi, membuat remaja merasa asing di rumahnya sendiri.

“Banyak remaja hidup serumah dengan orang tuanya. Tetapi sebenarnya merasa jauh secara emosional. Ketika menghadapi masalah, mereka akhirnya memilih memendam sendiri,” papar Abdul Samad.

Di luar rumah, tekanan tersebut diperparah oleh penetrasi dunia maya. Budaya komparasi atau membanding-bandingkan pencapaian di media sosial dinilai menjadi katalisator munculnya perasaan minor, tidak berharga dan gagal pada diri remaja.

Situasi ini kian memburuk dengan masih tingginya angka perundungan siber atau cyberbullying serta ujaran kebencian di jagat digital.

Dari perspektif hukum Islam, Abdul Samad menegaskan, kehidupan adalah amanah sakral dari Allah SWT yang harus dijaga.

Sehingga tindakan mengakhiri hidup merupakan hal yang tidak dibenarkan. Kendati demikian, MUI mengimbau keras agar masyarakat menghentikan stigma negatif maupun penghakiman terhadap korban dan keluarga yang ditinggalkan.

“Jangan sampai musibah yang terjadi justru dibalas dengan hujatan, cibiran, atau penghakiman kepada korban maupun keluarganya. Mereka justru membutuhkan empati, doa, dan dukungan,” pesannya.

MUI juga menekankan pentingnya rekonstruksi nilai-nilai spiritual pada ekosistem remaja. Penguatan fondasi agama dinilai mampu menjadi jangkar emosional.

Agar anak muda tidak mudah rapuh saat menghadapi benturan ujian hidup. Mengingat esensi ajaran agama selalu menawarkan optimisme dan jalan keluar atas setiap masalah.

“Untuk memutus rantai fenomena ini, MUI Tarakan mendesak adanya langkah konkret dan kolaboratif dari berbagai sektor. Mulai dari tingkat domestik hingga kebijakan pemerintah,” tegasnya.

Di lingkungan keluarga, orangtua dituntut untuk hadir secara utuh sebagai pendengar yang baik, bukan sekadar pembuat tuntutan.

Lingkungan sekolah, institusi pendidikan didorong untuk meredefinisi fokus mereka. Jadi tidak hanya mengejar target akademik tetapi juga memprioritaskan kesehatan mental dan pembentukan karakter siswa.

Sementara pemerintah dan masyarakat, mendesak penguatan layanan konseling, penyediaan pendampingan psikologis yang mudah diakses serta peningkatan kepekaan sosial antarwarga.

“Jika ada keluarga, sahabat, atau tetangga yang terlihat murung, menarik diri, atau mengalami perubahan perilaku, jangan diabaikan. Rangkul mereka, ajak bicara, dan bantu mereka merasa bahwa mereka tidak sendiri,” pungkas Abdul Samad. (sas/uno)

Editor : Nurismi
#MUI Tarakan #bunuh diri