Utama Pemerintahan Sanggam Kaltara Ekonomi Kombis Gaya Hidup All Sport Makan-Makan Parlementaria Polhukrim Entertaiment Catatan

Masuk Rumah Sakit Imbas Kencing Tikus, Dinkes Tarakan Temukan Kasus Leptospirosis!

Nurismi • Senin, 18 Mei 2026 | 09:00 WIB
UJI SAMPEL: Tim Dinkes Tarakan melakukan uji sampel tikus di rumah warga. (DINKES TARAKAN UNTUK HRK)
UJI SAMPEL: Tim Dinkes Tarakan melakukan uji sampel tikus di rumah warga. (DINKES TARAKAN UNTUK HRK)

HARIAN RAKYAT KALTARA — Penyakit leptospirosis kembali menjadi perhatian di Kota Tarakan setelah Dinas Kesehatan (Dinkes) menemukan kasus infeksi yang sempat membuat pasien harus menjalani perawatan di rumah sakit. 

Penyakit yang ditularkan melalui kontaminasi urin tikus ini dinilai masih berpotensi mengancam masyarakat. Terutama di kawasan lembab, rawan banjir dan lingkungan dengan populasi tikus tinggi.

Di tengah kondisi cuaca yang sering berubah dan lingkungan permukiman yang masih rentan terhadap genangan.

Serta sanitasi kurang baik, masyarakat diminta lebih waspada terhadap gejala awal leptospirosis yang kerap menyerupai penyakit biasa. Namun dapat berkembang menjadi gangguan serius pada organ ginjal.

Pengelola Program Surveilans Dinas Kesehatan Kota Tarakan Irsal mengatakan, sepanjang Januari hingga Mei tahun ini mencatat adanya dua kasus leptospirosis di Tarakan.

Salah satu pasien bahkan sempat menjalani perawatan intensif di rumah sakit sebelum akhirnya kondisinya membaik.

“Tahun ini ada dua ya. Minggu lalu salah satunya sempat dirawat di rumah sakit. Tapi alhamdulillah sudah membaik dan sudah keluar dari rumah sakit,” ujarnya.

Menurut Irsal, leptospirosis merupakan penyakit infeksi bakteri yang berasal dari tikus dan menyebar melalui lingkungan yang telah terkontaminasi urine hewan tersebut.

Penularan biasanya terjadi saat seseorang memiliki luka terbuka di kulit. Kemudian kontak dengan air, tanah atau genangan yang tercemar.

“Kalau leptospirosis ini awal masuknya ke dalam tubuh melalui luka ya, biasanya luka di kaki atau bagian tubuh lain yang terbuka dan terkena kontaminasi dari urin tikus yang ada di lingkungan,” jelasnya.

Ia menerangkan, masyarakat yang sering beraktivitas di area lembab, selokan, lingkungan banjir, tempat pembuangan sampah maupun kawasan dengan sanitasi buruk memiliki risiko lebih tinggi terpapar penyakit tersebut.

Kondisi musim hujan dan banjir juga dapat meningkatkan penyebaran bakteri. Karena urine tikus lebih mudah terbawa air dan mencemari lingkungan sekitar.

Gejala awal leptospirosis, lanjutnya, sering kali sulit dikenali karena menyerupai penyakit infeksi umum lainnya seperti flu atau demam biasa. Penderita biasanya mengalami demam tinggi, badan lemas, nyeri otot, hingga disertai batuk dan pilek.

Namun terdapat tanda khas yang perlu diwaspadai masyarakat. Yakni perubahan warna mata dan kulit menjadi kekuningan akibat gangguan pada fungsi organ dalam, terutama ginjal dan hati.

“Kalau leptospirosis itu biasanya diawali demam, badan lemas, kadang juga disertai batuk pilek. Tapi yang khas itu sampai matanya kuning, kulitnya juga kuning. Itu yang membedakan dengan penyakit lain,” katanya.

Irsal menegaskan, leptospirosis tidak boleh dianggap remeh karena infeksi yang terlambat ditangani dapat menyebabkan komplikasi berat hingga gagal ginjal.

Karena itu, masyarakat diminta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila mengalami demam setelah kontak dengan lingkungan yang berisiko.

“Kalau tidak ditangani cepat, bisa menyebabkan gagal ginjal karena memang menyerang organ ginjal, jadi harus segera ditangani sejak awal,” ujarnya.

Sebagai langkah antisipasi, Dinkes terus memperkuat sistem pengawasan penyakit melalui surveilans dan pelaporan ke Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR). Setiap kasus yang mengarah pada leptospirosis akan dipantau untuk mencegah potensi penyebaran lebih luas.

“Setiap kasus yang mengarah ke leptospirosis kita laporkan ke SKDR, yaitu sistem kewaspadaan dini dan respons, supaya bisa dipantau dan ditindaklanjuti lebih lanjut,” jelasnya.

Selain pengawasan, edukasi kepada masyarakat juga terus dilakukan. Khususnya di wilayah yang dinilai memiliki risiko tinggi penyakit zoonosis atau penyakit yang ditularkan dari hewan ke manusia tersebut.

Dinkes mengimbau masyarakat menjaga kebersihan lingkungan, menutup akses masuk tikus ke rumah, menggunakan alas kaki saat berada di area becek atau banjir. Serta segera membersihkan luka terbuka agar tidak menjadi pintu masuk bakteri.

Menurut Irsal, kesadaran masyarakat menjadi faktor penting dalam mencegah peningkatan kasus leptospirosis di Tarakan.

“Kalau ada demam setelah kontak dengan lingkungan yang banyak tikus atau air kotor. Sebaiknya segera ke puskesmas untuk diperiksa supaya bisa cepat ditangani,” pesannya. (sas/uno)

Editor : Nurismi
#penularan #tikus #Dinkes Tarakan #leptospirosis