HARIAN RAKYAT KALTARA — Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Kalimantan Utara mencatat nilai ekspor melalui pelabuhan pada periode Januari hingga Maret 2026 mengalami penurunan dibandingkan tahun sebelumnya.
Kepala BPS Kalimantan Utara Mustaqim mengatakan, total nilai ekspor Kaltara pada triwulan pertama 2026 tercatat sebesar USD 309,49 juta atau turun 8,47 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2025 sebesar USD 338,13 juta.
“Penurunan ini terutama dipengaruhi melemahnya ekspor nonmigas. Khususnya sektor hasil industri dan hasil pertanian,” ujar Mustaqim, Jumat (15/5).
Ia menjelaskan, ekspor nonmigas pada Januari—Maret 2026 tercatat sebesar USD 307,38 juta atau turun 8,73 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang mencapai USD 336,78 juta.
Penurunan paling signifikan terjadi pada sektor hasil industri yang turun 24,08 persen, dari USD 115,91 juta menjadi USD 88 juta.
Sementara sektor hasil pertanian juga mengalami penurunan tajam sebesar 56,83 persen, dari USD 10,24 juta menjadi USD 4,42 juta.
Di sisi lain, sektor hasil tambang justru menunjukkan pertumbuhan positif. Nilai ekspor hasil tambang meningkat 2,06 persen menjadi USD 214,96 juta dibandingkan Januari—Maret 2025 sebesar USD 210,63 juta.
Sementara itu, ekspor migas mengalami lonjakan cukup tinggi. Pada triwulan pertama 2026, nilai ekspor migas tercatat sebesar USD 2,11 juta atau naik 55,49 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar USD 1,35 juta.
“Walaupun migas naik cukup besar secara persentase, kontribusinya terhadap total ekspor masih relatif kecil dibanding sektor nonmigas,” jelasnya.
BPS juga mencatat nilai ekspor Kaltara pada Maret 2026 mencapai USD 129,22 juta. Angka tersebut turun 5,81 persen dibandingkan Maret 2025, namun mengalami kenaikan 32,18 persen dibanding Februari 2026.
Selain ekspor melalui pelabuhan di Kaltara, ekspor asli Kaltara yang dilakukan melalui pelabuhan luar provinsi juga tercatat sebesar USD 34,90 juta selama Januari—Maret 2026.
Provinsi Jawa Timur menjadi daerah tujuan utama ekspor luar Kaltara dengan nilai mencapai USD 33,11 juta, disusul Sulawesi Selatan sebesar USD 1,26 juta dan DKI Jakarta sebesar USD 0,49 juta.
Secara keseluruhan, Mustaqim menilai struktur ekspor Kaltara masih didominasi sektor pertambangan. Karena itu, diversifikasi sektor industri dan penguatan komoditas non tambang dinilai penting. Agar pertumbuhan ekspor daerah lebih stabil ke depan.
“Ketergantungan terhadap sektor tambang masih cukup besar, sehingga sektor industri pengolahan dan pertanian perlu terus diperkuat,” tuturnya. (fai/uno)
Editor : Nurismi