HARIAN RAKYAT KALTARA — Jalur ekspor langsung dari Tarakan menuju Hong Kong mulai menunjukkan dampak ekonomi yang signifikan bagi Kalimantan Utara (Kaltara).
Selain memangkas waktu distribusi dari lebih 24 jam menjadi sekitar lima jam, skema pengiriman tanpa transit ini juga disebut mampu meningkatkan nilai jual komoditas perikanan di tingkat nelayan.
Efisiensi pengiriman tersebut dinilai menjadi keuntungan besar bagi produk segar dan komoditas hidup. Selama ini sangat bergantung pada kecepatan distribusi, agar kualitas tetap terjaga hingga tiba di negara tujuan.
Kepala Balai Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan (BKHIT) Kaltara Ichi Langlang Buana Machmud mengatakan, jalur ekspor langsung melalui udara membuat rantai distribusi jauh lebih singkat dibanding sebelumnya yang harus melewati beberapa titik transit.
“Kalau kita hitung bersih, penerbangan sekitar tiga jam. Kemudian ditambah bongkar muat kurang lebih dua jam, jadi total sekitar lima jam. Ini sangat efisien terutama untuk produk hidup dan produk segar,” ujarnya dalam Focus Group Discussion (FGD), Kamis (14/5).
Menurutnya, efisiensi waktu menjadi faktor penting dalam perdagangan komoditas perikanan. Karena kualitas produk sangat menentukan daya saing di pasar internasional.
Sebelum adanya jalur langsung tersebut, distribusi ekspor dari Tarakan harus melalui jalur transit yang memakan waktu lebih lama dan meningkatkan risiko penurunan kualitas produk.
“Kalau lewat jalur transit bisa lebih dari 24 jam karena harus melewati beberapa titik distribusi. Dengan jalur langsung ini, kualitas produk lebih terjaga,” katanya.
Tidak hanya berdampak pada kelancaran distribusi, pembukaan jalur ekspor langsung juga mulai dirasakan manfaat ekonominya oleh pelaku usaha dan nelayan di daerah. Salah satu komoditas yang mengalami kenaikan nilai jual cukup signifikan adalah kerang darah.
Ichi mengungkapkan, harga kerang darah di tingkat nelayan kini mengalami peningkatan hingga tiga kali lipat dibanding sebelum adanya skema ekspor langsung tersebut.
“Dulu harga kerang darah di tingkat nelayan sekitar Rp 6.000 per kilogram, sekarang bisa mencapai Rp18.000. Ini menunjukkan adanya nilai tambah yang langsung dirasakan pelaku usaha,” ujarnya.
Ia menilai kondisi tersebut menjadi indikator bahwa efisiensi logistik dapat berdampak langsung terhadap peningkatan pendapatan masyarakat pesisir dan pelaku usaha sektor perikanan.
Sebelumnya, Kaltara mencatat sejarah baru melalui pelaksanaan ekspor langsung perdana dari Tarakan menuju Hong Kong pada 7 Mei 2026 melalui jalur udara. Pengiriman tersebut membawa komoditas unggulan perikanan daerah tanpa melalui proses transit seperti sebelumnya.
Ekspor perdana itu sekaligus menjadi langkah awal penguatan konektivitas perdagangan internasional dari Kaltara yang selama ini masih bergantung pada daerah transit di luar provinsi.
Pelaksanaan ekspor tersebut kemudian dievaluasi melalui Focus Group Discussion (FGD) lintas instansi yang melibatkan BKHIT, Badan Pusat Statistik (BPS), pelaku usaha, hingga instansi teknis terkait lainnya.
Forum tersebut membahas berbagai kendala teknis dan upaya penyederhanaan proses bisnis ekspor. Agar distribusi barang dari Kalimantan Utara dapat berjalan lebih cepat dan efisien tanpa mengurangi aspek pengawasan.
“Intinya kita duduk bersama untuk menyederhanakan business process tanpa meninggalkan prinsip pengawasan yang tetap berjalan ketat,” ujar Ichi.
Ia mengakui masih terdapat sejumlah kendala teknis di lapangan. Terutama terkait perbedaan persyaratan dokumen antar kementerian teknis yang terkadang membingungkan pelaku usaha.
“Pelaku usaha kadang terkendala secara teknis maupun system. Karena itu perlu duduk bersama untuk mencari solusi,” katanya.
Meski demikian, saat ini layanan ekspor disebut sudah jauh lebih cepat karena sistem administrasi Karantina dan Bea Cukai telah terintegrasi melalui Single Submission Management (SSM).
Dengan sistem tersebut, sebagian besar persyaratan administrasi dapat muncul otomatis sehingga mempercepat proses pemeriksaan dan penerbitan dokumen ekspor. Sistem sudah terhubung antara Bea Cukai dan Karantina, jadi sebagian besar persyaratan muncul di sistem.
Saat ini rata-rata proses layanan ekspor di Karantina dapat diselesaikan kurang dari 50 menit. Mulai dari pemeriksaan hingga penerbitan dokumen, sehingga mempercepat arus barang ekspor.
Namun demikian, ia menegaskan seluruh pelaku usaha tetap wajib memenuhi ketentuan dokumen yang dipersyaratkan kementerian teknis maupun negara tujuan ekspor.
Menurutnya, Hong Kong menjadi salah satu tujuan ekspor yang relatif lebih fleksibel dibandingkan negara lain. Seperti Tiongkok yang memiliki aturan lebih ketat terhadap komoditas tertentu.
“Tapi kalau negara tujuan mensyaratkan dokumen tertentu, tetap harus dipenuhi,” tegasnya. (sas/uno)
Editor : Nurismi