HARIAN RAKYAT KALTARA — Badan Pusat Statistik (BPS) Kaltara mencatat inflasi tahunan atau year on year (y-on-y) di Kaltara pada April 2026 sebesar 2,68 persen.
Angka tersebut menunjukkan adanya kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 106,84 pada April 2025 menjadi 109,70 pada April 2026.
Kepala BPS Kaltara Mustaqim mengatakan, inflasi terjadi akibat kenaikan harga pada sejumlah kelompok pengeluaran. Terutama sektor perawatan pribadi, kesehatan, transportasi, hingga bahan kebutuhan rumah tangga.
“Pada April 2026 terjadi inflasi year on year sebesar 2,68 persen,” kata dia, Minggu (10/5).
Selain inflasi tahunan, BPS juga mencatat inflasi bulanan atau month to month (m-to-m) sebesar 0,02 persen dan inflasi tahun kalender atau year to date (y-to-d) 1,16 persen.
Berdasarkan data BPS, kelompok pengeluaran yang mengalami kenaikan indeks tertinggi secara tahunan adalah perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 10,78 persen.
Kemudian disusul kelompok kesehatan 7,75 persen, transportasi 2,93 persen, serta perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga sebesar 2,84 persen.
“Sementara itu, kelompok makanan, minuman, dan tembakau mengalami inflasi 1,73 persen. Adapun kelompok penyediaan makanan dan minuman atau restoran mengalami kenaikan sebesar 2,69 persen,” ungkapnya.
Sejumlah komoditas memberikan andil besar terhadap inflasi tahunan di Kaltara. Meliputi emas perhiasan, tarif air minum PAM, angkutan udara, tarif rumah sakit, beras, daging ayam ras, tomat, nasi dengan lauk, ikan bandeng atau ikan bolu, serta telur ayam ras.
“Komoditas-komoditas tersebut menjadi penyumbang utama inflasi year on year pada April 2026,” katanya.
Meski demikian, terdapat sejumlah komoditas yang menahan laju inflasi atau mengalami deflasi. Seperti cabai rawit, ikan layang, bawang putih, jagung manis, cabai merah, kangkung, sawi hijau, hingga sabun deterjen bubuk.
Untuk inflasi bulanan April 2026, komoditas yang dominan memberikan andil antara lain tomat, angkutan udara, bawang merah, angkutan laut, air kemasan, nasi dengan lauk, beras, dan susu cair kemasan.
Sementara komoditas yang menahan inflasi bulanan di antaranya cabai rawit, daging ayam ras, emas perhiasan, telur ayam ras, cabai merah, bayam, dan kentang.
Dari sisi kelompok pengeluaran, kelompok makanan, minuman dan tembakau menjadi penyumbang terbesar inflasi tahunan dengan andil 0,58 persen.
Kemudian diikuti kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga 0,46 persen serta kelompok transportasi sebesar 0,35 persen.
BPS terus melakukan pemantauan perkembangan harga berbagai komoditas di sejumlah kabupaten dan kota di Kalimantan Utara, guna melihat dinamika inflasi yang terjadi di daerah.
“Pengendalian harga pangan dan stabilitas distribusi barang menjadi faktor penting untuk menjaga inflasi tetap terkendali di Kaltara,” tutupnya. (fai/uno)
Editor : Nurismi