HARIAN RAKYAT KALTARA — Perkembangan transaksi menggunakan QRIS (Quick Response Code Indonesian Standard) di Kalimantan Utara mengalami lonjakan yang sangat signifikan.
Tahun lalu sampai 2026 ini, pertumbuhan transaksi QRIS ini mencapai lebih dari 100 persen, baik dari segi nilai, volume, maupun jumlah pengguna.
Kepala KPwBI Kaltara Hasiando G. Manik menyampaikan, Kalimantan Utara termasuk salah satu provinsi dengan pertumbuhan transaksi digital tercepat di Indonesia.
“Tahun lalu saja naik lebih dari 100 persen, baik itu secara nilai, volume, atau penggunanya. Jadi di Kalimantan Utara itu perkembangannya termasuk salah satu yang cepat,” ungkapnya, Minggu (3/5) lalu.
Angka pertumbuhan yang fantastis ini menunjukkan tingginya antusiasme masyarakat Kalimantan Utara untuk beralih ke sistem pembayaran digital seperti QRIS dan e-money. Berarti antusiasme masyarakat untuk beralih ke digital e-money sangat bagus.
Perkembangan ini terlihat jelas di berbagai lokasi, terutama di Kota Tarakan dan wilayah sekitarnya.
“Kita lihat sendiri di Tarakan, di UMKM-UMKM sudah terlihat. Kemudian di Tanjung Selor, di UMKM di pinggiran Sungai Kayan juga sudah menerima pembayaran secara digital dengan QRIS, di kafe-kafe juga sudah menerapkan,” ungkapnya.
Menurut Hasiando, pelaku UMKM menjadi motor penggerak adopsi pembayaran digital di Kalimantan Utara.
Kemudahan dan kepraktisan sistem QRIS membuat para pelaku UMKM tertarik untuk mengadopsi teknologi ini dalam usaha mereka.
Selanjutnya, KPwBI Kaltara Kaltara akan terus mendorong perluasan digitalisasi pembayaran ke fasilitas-fasilitas publik seperti pelabuhan, pasar tradisional, dan tempat-tempat umum lainnya.
“Sekarang kita akan lebih mendorong fasilitas untuk juga menerapkan sistem pembayaran digital,” jelasnya.
Ia optimis dengan tren pertumbuhan yang positif ini, penggunaan uang tunai dapat dikurangi secara bertahap.
Penggunaan uang kartal atau uang tunai itu bisa agak dikurangi karena berbahaya juga jika menyimpan atau memegang uang tunai secara berlebihan. (fai/uno)
Editor : Nurismi