HARIAN RAKYAT KALTARA — Keluhan masyarakat terkait ketersediaan ikan berkualitas di pasar lokal kembali mencuat.
Warga menilai, ikan dengan kualitas terbaik lebih dulu dikirim ke luar daerah, bahkan ke luar negeri. Sehingga yang tersisa di pasar lokal dinilai kurang memuaskan.
Menanggapi hal tersebut, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kalimantan Utara (Kaltara) Rukhi Syayahdin menegaskan, persepsi tersebut tidak sepenuhnya tepat.
Menurutnya, ikan yang dikirim ke luar daerah umumnya merupakan komoditas dengan nilai ekonomi tinggi yang memang memiliki pasar tersendiri.
“Ikan yang diekspor itu ikan yang bernilai ekonomi tinggi. Sementara yang dijual di pasar lokal adalah ikan yang lebih terjangkau oleh masyarakat, seperti ikan layang dan bandeng,” ujarnya, Minggu (3/5).
Ia menjelaskan, perbedaan distribusi tersebut lebih dipengaruhi oleh daya beli masyarakat. Ikan dengan harga tinggi seperti ikan merah yang bisa mencapai Rp 65 ribu per kilogram, atau ikan bawal yang menembus Rp 100 ribu per kilogram. Cenderung dipasarkan ke wilayah dengan permintaan dan harga jual lebih tinggi, seperti Tawau, Malaysia.
Meski demikian, DKP memastikan harga ikan di pasar lokal tetap dikendalikan agar terjangkau. Bahkan dalam momentum tertentu, seperti kegiatan Pasar Ikan Murah, harga bisa ditekan lebih rendah dibanding harga pasar pada umumnya.
“Hari ini ada program pasar ikan murah. Selisih harga bisa antara Rp 50 ribu sampai Rp 110 ribu per kilogram dibanding harga biasa di pasar,” jelasnya.
Dalam kesempatan yang sama, DKP juga meresmikan Pasar Ikan Higienis sebagai upaya meningkatkan kualitas layanan bagi masyarakat.
Pasar ini dirancang untuk mengubah citra pasar ikan yang selama ini identik dengan kondisi kumuh dan berbau tidak sedap.
Program tersebut sebenarnya telah dirintis sejak 2021, namun baru dapat direalisasikan secara optimal setelah sarana dan prasarana pendukung dinyatakan lengkap.
Fasilitas yang dibangun mencakup sistem drainase yang baik, meja berbahan stainless, serta pengelolaan sanitasi yang lebih terjamin.
“Tujuan kita jelas, bagaimana pasar ikan ini bersih, tidak ada bau menyengat, dan tidak ada air tergenang. Kita atur drainasenya supaya benar-benar mengalir,” ungkap Rukhi.
Pasar ini direncanakan memiliki sekitar 20 lapak, namun jumlah tersebut masih dapat bertambah seiring tingginya minat pedagang. DKP bahkan membuka peluang bagi pedagang untuk mengembangkan lapak secara mandiri.
Antusiasme masyarakat terhadap keberadaan pasar ini pun cukup tinggi. Hal ini terlihat dari ramainya pengunjung saat hari peresmian, terlebih dengan adanya program ikan murah yang digelar bersamaan.
Salah seorang warga Tarakan, Anissa Anastasya mengaku, senang dengan konsep pasar yang lebih bersih dan nyaman. Ia menilai kondisi pasar jauh berbeda dibanding pasar ikan pada umumnya.
“Lebih bersih, tidak ada bau selain bau ikan segar. Nyaman sekali belanja di sini,” katanya.
Namun ia juga mengungkapkan, tingginya minat masyarakat membuat ikan cepat habis, terutama saat program harga murah berlangsung.
“Harus datang cepat, karena kalau terlambat biasanya sudah habis,” ujarnya. (sas/uno)
Editor : Nurismi