HARIAN RAKYAT KALTARA — Upaya membuka jalur ekspor langsung dari Kalimantan Utara (Kaltara) masih menghadapi tantangan serius.
Meski rute internasional mulai diuji, minimnya muatan dan belum pastinya biaya logistik menjadi kendala utama keberlanjutan pengiriman.
Kepala Balai Karantina Hewan, Ikan dan Tumbuhan (BKHIT) Kaltara Ichi Langlang Buana Machmud mengungkapkan, penerbangan kargo dari Tarakan menuju Hong Kong yang terhubung ke sejumlah kota di Tiongkok sejauh ini baru sebatas uji coba.
“Sudah dua kali penerbangan, tetapi memang masih kosong. Ini masih tahap melihat potensi pasar dan pola distribusi,” ujarnya usai kegiatan akselerasi ekspor langsung, Rabu (29/4).
Menurutnya, keberlanjutan jalur ekspor langsung sangat bergantung pada dua faktor utama. Yakni kepastian harga logistik dan keterisian muatan secara konsisten.
“Kalau muatan tidak terisi dan harga logistik tidak kompetitif. Tentu tidak akan berjalan dalam jangka panjang,” katanya.
Di sisi lain, pemerintah terus mendorong percepatan layanan ekspor melalui integrasi sistem lintas instansi. Upaya tersebut dilakukan dengan penerapan SOP bersama, serta penggunaan aplikasi layanan terpadu berbasis SSM QC.
Melalui sistem ini, proses administrasi yang sebelumnya terpisah diharapkan dapat disederhanakan dalam satu platform terintegrasi.
“Tujuannya agar layanan lebih cepat dan sederhana karena semua proses berada dalam satu sistem yang saling terhubung,” jelasnya.
Meski demikian, ia mengakui implementasi di lapangan masih menghadapi sejumlah kendala teknis yang perlu disempurnakan.
Selain jalur udara, optimalisasi jalur laut juga mulai didorong. Salah satu skema yang dikaji adalah memanfaatkan kapal kargo yang selama ini kembali ke negara asal dalam kondisi kosong.
“Ini peluang yang sedang kita dorong agar biaya logistik bisa lebih efisien,” ujarnya.
Secara geografis, Kalimantan Utara dinilai memiliki keunggulan karena lebih dekat dengan pasar Asia Timur seperti Tiongkok, Jepang, dan Korea dibandingkan harus melalui kota besar di Indonesia.
Namun keunggulan tersebut belum sepenuhnya termanfaatkan akibat belum efisiennya sistem logistik. Ichi menegaskan, jika integrasi layanan berjalan optimal dan biaya logistik dapat ditekan. Maka ekspor langsung akan memberikan dampak signifikan bagi perekonomian daerah.
“Kalau rantai distribusi dipangkas, nilai tambah akan langsung dirasakan pelaku usaha, termasuk nelayan dan petani,” pungkasnya. (sas/uno)
Editor : Nurismi