HARIAN RAKYAT KALTARA — Perputaran uang dari sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) menjadi salah satu fokus utama dalam pelaksanaan Kaltara Sharia Festival (KASHAFA) 2026.
Bank Indonesia menargetkan nilai transaksi dari kegiatan ini mampu menembus angka hingga Rp 3 miliar, meningkat dibandingkan capaian tahun sebelumnya sebesar Rp 2,6 miliar.
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Kaltara Hasiando Ginsar Manik mengatakan, target tersebut mencerminkan optimisme terhadap semakin kuatnya kontribusi UMKM dalam mendorong ekonomi syariah di daerah.
Menurutnya, secara nasional Indonesia saat ini menempati peringkat ketiga dalam pengembangan ekonomi syariah pada 2025.
Capaian tersebut menunjukkan besarnya potensi sektor halal. Mulai dari makanan dan minuman, keuangan syariah, pariwisata ramah muslim, hingga industri kreatif berbasis nilai-nilai syariah.
“Perkembangan halal value chain nasional yang pesat menjadi sinyal positif bahwa sektor ini berpotensi menjadi sumber pertumbuhan ekonomi baru, termasuk bagi Kalimantan Utara,” ujarnya, Jumat (24/4).
Di tingkat daerah, potensi tersebut ditopang oleh kekuatan UMKM yang terus berkembang. Peningkatan jumlah pelaku usaha yang memiliki sertifikasi halal menjadi indikator penting.
Pada 2025, jumlah UMKM bersertifikat halal di Kalimantan Utara meningkat hingga 64 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Selain itu, akses pembiayaan juga semakin terbuka. Pembiayaan perbankan syariah di Kalimantan Utara tercatat tumbuh sebesar 12,93 persen.
Kondisi ini dinilai semakin memperkuat ekosistem ekonomi syariah, baik dari sisi produksi maupun distribusi.
“Ini menunjukkan semakin kuatnya ekosistem ekonomi syariah di daerah kita. Baik dari sisi pelaku usaha yang meningkatkan daya saing melalui sertifikasi halal, maupun dari sisi akses pembiayaan,” jelasnya.
KASHAFA 2026 sendiri telah berlangsung sejak awal Maret dan kedua pada 24—26 April di Islamic Centre Kota Tarakan.
Kegiatan ini merupakan hasil sinergi antara Bank Indonesia, pemerintah daerah, serta lembaga jasa keuangan syariah.
Tahun ini, jumlah UMKM yang terlibat meningkat signifikan menjadi 54 peserta dari seluruh Kaltara, dibandingkan hanya 20 UMKM pada pelaksanaan tahun sebelumnya. Kenaikan ini diyakini turut berkontribusi terhadap potensi perputaran uang yang lebih besar.
Berbagai kegiatan digelar untuk mendorong transaksi langsung, mulai dari bazar produk halal, promosi UMKM, hingga penguatan kapasitas pelaku usaha melalui pelatihan sistem jaminan halal yang diikuti 120 peserta.
Selain itu, terdapat pula seminar ekonomi syariah, talkshow investasi, hingga layanan keuangan syariah yang diharapkan mampu meningkatkan literasi sekaligus memperluas akses pembiayaan bagi pelaku usaha.
“Dengan mengusung tema penguatan halal value chain, kami berharap kegiatan ini menjadi wadah kolaborasi nyata dalam mengembangkan potensi ekonomi syariah sebagai sumber pertumbuhan baru,” katanya.
Sebagai penutup rangkaian kegiatan, masyarakat juga akan mengikuti tabligh akbar yang menghadirkan Dasad Latif.
Momentum ini diharapkan tidak hanya memperkuat nilai keislaman, tetapi juga mempererat kebersamaan masyarakat dalam mendukung ekonomi syariah yang inklusif dan berkelanjutan.
Ke depan, Bank Indonesia berharap sinergi antara pemerintah daerah, lembaga keuangan, dan pelaku usaha dapat terus diperkuat. Dengan demikian, perputaran uang dari sektor UMKM tidak hanya meningkat saat event berlangsung, tetapi juga berkelanjutan dalam jangka panjang.
“Ini menjadi langkah strategis untuk mendorong pengembangan ekonomi dan keuangan syariah di Kalimantan Utara,” tuturnya.
Sementara itu, Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPb) Kaltara berkolaborasi dengan Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) untuk meningkatkan kapasitas pelaku UMKM, khususnya yang bergerak di sektor perkebunan.
Kepala Kanwil DJPb Kaltara Ika Hermini Novianti menjelaskan, kolaborasi ini difokuskan pada pengembangan UMKM berbasis komoditas unggulan daerah seperti kelapa sawit, kakao, dan kelapa.
Menurutnya, Kaltara memiliki potensi besar di sektor tersebut yang perlu dimaksimalkan melalui pemberdayaan pelaku usaha.
“Kami berkolaborasi dengan BPDP karena memiliki banyak program yang sangat baik. Khususnya dalam mendukung UMKM berbasis perkebunan seperti kakao dan kelapa sawit yang menjadi komoditas unggulan di Kaltara,” ujarnya, Kamis (23/4) lalu.
Ia menambahkan, kegiatan ini dirancang untuk mendorong UMKM “naik kelas”, tidak hanya dari sisi produksi. Tetapi juga kemampuan menembus pasar ekspor.
Dalam rangka itu, peserta diberikan berbagai materi mulai dari proses ekspor, perpajakan, hingga peningkatan kualitas produk.
“Ada sesi seperti klinik ekspor yang menghadirkan narasumber dari KPPBC dan KPP. UMKM diberikan pemahaman terkait persyaratan ekspor dan dukungan kebijakan pemerintah, termasuk insentif perpajakan,” jelasnya.
Selain itu, peningkatan kualitas produk menjadi kunci utama agar UMKM mampu bersaing di pasar global. Dalam kegiatan ini, BPDP juga menghadirkan buyer serta praktisi kuliner untuk memberikan masukan langsung kepada pelaku UMKM. Khususnya di sektor makanan olahan.
“Kita datangkan buyer untuk memberikan insight bagaimana meningkatkan kualitas produk agar sesuai standar pasar. Ini penting agar UMKM kita bisa benar-benar siap bersaing,” tambahnya.
Sementara itu, Kepala Divisi Kerja Sama Kemasyarakatan dan UMKM BPDP Helmi Muhansah menyebutkan, kini fokus pada tiga komoditas utama, yakni kelapa sawit, kakao, dan kelapa. Ia menilai, potensi perkebunan di Kaltara sangat besar, terutama kelapa sawit yang mencapai ratusan ribu hektare.
“Potensi sawit di Kaltara sangat besar. Ini harus dimanfaatkan tidak hanya untuk industri besar, tetapi juga untuk UMKM agar ikut merasakan manfaatnya,” katanya.
Helmi juga menekankan pentingnya kampanye positif terhadap komoditas sawit yang selama ini kerap mendapat stigma negatif. Melalui UMKM, pihaknya ingin menunjukkan bahwa sawit memiliki banyak manfaat dan nilai ekonomi tinggi.
“Kami ingin kampanye positif ini dirasakan langsung oleh UMKM. Tidak hanya tahu manfaatnya, tapi juga bisa mengolahnya menjadi produk bernilai tambah,” ujarnya.
Melalui sinergi ini, diharapkan UMKM di Kaltara dapat berkembang lebih cepat, berdaya saing. Serta mampu menjadi penggerak ekonomi daerah berbasis potensi perkebunan lokal. (sas/fai/uno)
Editor : Nurismi