Utama Pemerintahan Sanggam Kaltara Ekonomi Kombis Gaya Hidup All Sport Makan-Makan Parlementaria Polhukrim Entertaiment Catatan

Dinkes Tarakan Tegaskan Larangan Makan Ayam Adalah Hoaks, Masyarakat Diminta Tidak Resah

Nurismi • Jumat, 24 April 2026 | 09:40 WIB
SEPI PEMBELI: Pedagang ayam potong di Pasar Tenguyun Tarakan keluhkan sepi pembeli pasca isu kasus flu burung, Kamis (23/4). (SEPTIAN ASMADI/HRK)
SEPI PEMBELI: Pedagang ayam potong di Pasar Tenguyun Tarakan keluhkan sepi pembeli pasca isu kasus flu burung, Kamis (23/4). (SEPTIAN ASMADI/HRK)

HARIAN RAKYAT KALTARARA — Isu dugaan kasus flu burung (avian influenza) yang beredar di masyarakat Kota Tarakan berdampak langsung terhadap pedagang ayam potong. 

Penjualan yang biasanya stabil, kini mengalami penurunan drastic. Akibat kekhawatiran warga yang memilih menghindari konsumsi daging ayam.

Salah seorang pedagang ayam potong di Pasar Tenguyun, Karti mengaku pendapatannya turun signifikan sejak isu tersebut mencuat. 

Ia menyebut kondisi ini baru terasa dalam satu hari terakhir. Namun dampaknya cukup besar terhadap omzet harian. Biasanya, Karti membawa sekitar 60 ekor ayam untuk dijual setiap hari. 

Dalam kondisi normal, dagangannya sudah habis sebelum pukul 12.00 Wita. Namun kali ini ia hanya mampu menjual sekitar 20 ekor ayam.

“Pengaruh sekali ke pendapatan. Sekarang 30 ekor saja tidak sampai terjual. Baru hari ini terasa sepi, sebelumnya normal saja dan siang sudah habis,” ujarnya, Kamis (23/4).

Ia juga menyayangkan belum adanya uji sampling dari instansi terkait terhadap ayam potong di tahun ini.

Menurutnya, kejelasan informasi sangat penting agar tidak menimbulkan keresahan di kalangan masyarakat dan pedagang.

Karti berharap masyarakat tidak mudah percaya terhadap informasi yang belum jelas kebenarannya. Ia juga meminta aparat penegak hukum untuk menindak pihak yang menyebarkan kabar yang merugikan pedagang kecil.

“Harus ditindak itu yang menyebarkan berita bohong. Kami yang jualan jadi sepi pembeli,” keluhnya.

Menanggapi hal tersebut, Kepala Dinas Kesehatan Kota Tarakan, dr Devi Ika Indriarti menegaskan, informasi yang menyebut masyarakat tidak boleh mengonsumsi atau membeli daging ayam adalah tidak benar.

Ia menjelaskan, surat edaran yang sempat beredar sebenarnya ditujukan secara internal kepada puskesmas sebagai langkah kewaspadaan dini, bukan untuk konsumsi publik.

“Surat itu ditujukan kepada kepala puskesmas sebagai bentuk kewaspadaan. Itu hal yang rutin dilakukan jika ada informasi tertentu. Agar tenaga kesehatan bisa meningkatkan edukasi kepada masyarakat,” jelasnya.

Ia menegaskan, hingga saat ini tidak pernah ditemukan kasus flu burung pada manusia di Kota Tarakan. Bahkan secara nasional, kasus tersebut sudah lama tidak ditemukan.

“Di Tarakan tidak pernah ada kasus flu burung pada manusia. Jadi pernyataan yang melarang makan atau membeli ayam itu tidak benar dan sangat merugikan pedagang,” tegasnya.

Ia mengimbau masyarakat agar tetap bijak dalam menyikapi informasi. Serta memastikan daging ayam yang dikonsumsi dalam kondisi segar dan dimasak hingga matang sempurna.

Menurutnya, risiko kesehatan justru lebih mungkin terjadi akibat pengolahan makanan yang tidak benar, seperti diare atau keracunan makanan.

“Yang perlu diperhatikan itu cara memilih bahan yang baik dan cara memasaknya. Bukan takut makan ayam, tapi bagaimana memastikan makanan aman dikonsumsi,” tambahnya.

Dinas Kesehatan juga telah menelusuri sumber penyebaran informasi tersebut. Diketahui, surat edaran internal itu pertama kali tersebar melalui media sosial, khususnya Facebook. Sehingga memicu kesalahpahaman di masyarakat.

Meski demikian, pihaknya belum mengambil langkah hukum dan memilih menjadikan kejadian ini sebagai pembelajaran, agar kejadian serupa tidak terulang.

“Ini jadi pembelajaran bersama. Dalam menggunakan media sosial harus hati-hati, karena informasi yang tidak utuh bisa menimbulkan keresahan,” pesannya. (sas/uno)

Editor : Nurismi
#flu burung #hoaks #Dinkes Tarakan #ayam