HARIAN RAKYAT KALTARA — Kinerja impor Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara) mengalami penurunan signifikan. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, nilai impor Januari—Februari 2026 sebesar USD 66,78 juta atau turun 44,55 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Penurunan ini terutama dipicu oleh merosotnya impor komoditas nonmigas, yang selama ini menjadi tulang punggung struktur impor daerah.
Kepala BPS Kaltara Mustaqim menegaskan, sektor nonmigas memiliki kontribusi dominan terhadap total impor. Sehingga penurunannya berdampak besar terhadap kinerja keseluruhan.
“Penurunan impor Kaltara sangat dipengaruhi oleh turunnya impor nonmigas, khususnya dari sektor industri yang selama ini mendominasi,” ujarnya, Senin (20/4).
Berdasarkan data BPS, impor nonmigas pada Januari—Februari 2026 tercatat sebesar USD 66,18 juta atau sekitar 99 persen dari total impor.
Namun, nilai tersebut mengalami penurunan sebesar 45,04 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
“Penurunan paling banyak terjadi pada komoditas hasil industri yang mencapai USD 66,13 juta, namun terkontraksi hingga 44,73 persen. Sementara itu, impor hasil tambang bahkan merosot lebih tajam, yakni turun 93,71 persen menjadi hanya USD 0,05 juta,” sebutnya.
Sebaliknya, kontribusi impor migas relatif kecil dan tidak memberikan pengaruh signifikan terhadap total impor. Pada periode yang sama, impor migas hanya mencapai USD 0,6 juta, dengan sumber utama berasal dari Tiongkok dan Malaysia.
Untuk Februari 2026, nilai impor tercatat sebesar USD 58,88 juta atau turun 37,83 persen dibandingkan Februari 2025.
Penurunan ini kembali disebabkan oleh melemahnya permintaan terhadap barang-barang nonmigas, khususnya dari sektor industri.
Meski demikian, secara bulanan terjadi lonjakan yang cukup tinggi. Nilai impor Februari 2026 meningkat drastis dibandingkan Januari 2026 yang hanya sebesar USD 7,89 juta. Menunjukkan adanya pergerakan aktivitas ekonomi meskipun belum stabil.
“Dari sisi negara asal, impor nonmigas Kaltara masih didominasi Tiongkok dengan kontribusi terbesar, disusul Australia dan Vietnam. Ketiga negara ini menjadi pemasok utama berbagai kebutuhan industri di Kaltara,” terangnya.
Mustaqim menilai, penurunan impor nonmigas ini mencerminkan melambatnya aktivitas industri atau berkurangnya kebutuhan bahan baku dan barang penunjang produksi. Hal ini perlu menjadi perhatian dalam melihat dinamika ekonomi daerah ke depan.
Karena nonmigas mendominasi, setiap penurunan di sektor ini akan langsung berdampak pada total impor. Ini penting untuk menjadi bahan evaluasi dalam membaca kondisi ekonomi Kaltara. (fai/uno)
Editor : Nurismi