HARIAN RAKYAT KALTARA — Potensi kelebihan pasokan (over supply) sapi menjelang Iduladha 2026 di Kota Tarakan menjadi perhatian pelaku usaha peternakan.
Kondisi ini dinilai dapat menekan harga jual dan memengaruhi keberlangsungan usaha peternak lokal.
Ketua Koperasi Sahabat Maju Sejahtera Syamsurijal mengatakan, masuknya sapi dari luar daerah dengan harga lebih rendah menjadi tantangan tersendiri bagi peternak lokal yang membutuhkan waktu pemeliharaan cukup panjang.
Menurutnya, untuk menghasilkan sapi siap jual, peternak membutuhkan waktu sekitar 10 bulan hingga satu tahun. Dengan biaya produksi yang tidak sedikit.
“Kalau dihitung normal, harga sapi lokal bisa di kisaran Rp25 juta. Tapi sapi dari luar dengan bobot yang sama bisa dijual sekitar Rp23 juta. Ini tentu memengaruhi daya saing peternak,” ujarnya, Kamis (16/4).
Ia menambahkan, biaya pemeliharaan mencapai Rp300 ribu hingga Rp400 ribu per ekor per bulan. Dalam satu siklus, total biaya yang dikeluarkan cukup besar. Belum termasuk tenaga kerja dan risiko usaha.
Selain itu, sektor peternakan juga berkontribusi terhadap penyerapan tenaga kerja. Dalam satu usaha peternakan, rata-rata mempekerjakan empat hingga lima orang dengan upah sekitar Rp4 juta per bulan.
“Ini yang sering tidak terlihat. Peternakan juga menggerakkan ekonomi karena menyerap tenaga kerja,” ucapnya.
Di sisi lain, Syamsurijal menilai distribusi ternak dari luar daerah perlu diawasi lebih ketat. Ia menyebut sapi yang masuk kerap langsung tersebar setelah tiba di pelabuhan.
“Begitu sapi turun di pelabuhan, langsung didistribusikan. Menurut kami, pengawasan di tahap ini masih perlu diperkuat,” katanya.
Menanggapi hal tersebut, Kepala Karantina Kaltara Ichi Langlang Buana Machmud menegaskan, seluruh pemasukan ternak dari luar daerah telah melalui prosedur resmi sesuai ketentuan yang berlaku.
Setiap ternak wajib menjalani pemeriksaan dokumen dan kondisi kesehatan di titik pemasukan sebelum didistribusikan.
“Semua diperiksa, mulai dari dokumen, jumlah, hingga kondisi fisik hewan. Jika tidak sesuai, tidak akan diloloskan,” tegasnya.
Ia menyebutkan, lalu lintas ternak di Kaltara didominasi dari daerah seperti Gorontalo dan Tolitoli yang masuk melalui pelabuhan resmi. Saat ini terdapat delapan titik pemasukan dan pengeluaran hewan yang berada dalam pengawasan karantina.
Menurutnya, pemasukan ternak di luar titik resmi tetap dianggap pelanggaran, meskipun dilengkapi dokumen, karena petugas tidak dapat melakukan tindakan karantina di lokasi tersebut.
Selain itu, pengawasan juga dilakukan melalui dokumen kesehatan hewan (KH-1) atau Health Certificate pada setiap pengiriman. Jika ditemukan indikasi penyakit atau pelanggaran, petugas dapat melakukan tindakan lanjutan, termasuk penyegelan kandang.
“Kalau ada indikasi penyakit, kandang bisa kami segel sementara untuk pemeriksaan lebih lanjut,” ujarnya.
Karantina juga menyoroti potensi over supply yang dapat terjadi jika jumlah ternak yang masuk tidak disesuaikan dengan kebutuhan daerah. Kondisi ini dinilai dapat berdampak langsung pada stabilitas harga di tingkat peternak.
“Kalau kebutuhan 1.300 ekor tapi yang masuk 2.000 ekor, itu over supply. Dampaknya pasti ke harga,” jelasnya.
Untuk itu, pihaknya mendorong adanya sinkronisasi data antara pemerintah daerah dan sistem rekomendasi pemasukan ternak agar distribusi lebih terkendali.
Selain pengawasan di pelabuhan, koordinasi lintas sektor juga terus diperkuat guna mencegah masuknya ternak melalui jalur tidak resmi yang berpotensi mengganggu pengawasan kesehatan hewan.
Di sisi lain, pembangunan Instalasi Karantina Hewan (IKH) masih menjadi kebutuhan penting yang tengah diusulkan di sejumlah wilayah, termasuk Tarakan.
Fasilitas ini diharapkan dapat memperkuat proses karantina melalui pemeriksaan dan observasi yang lebih terpusat.
Dengan dinamika pasokan dan permintaan menjelang Iduladha, berbagai pihak berharap keseimbangan antara kebutuhan pasar, perlindungan peternak lokal, serta pengawasan kesehatan hewan dapat terus dijaga.
“Intinya ekonomi tetap berjalan, tapi keamanan hayati juga harus terjaga,” pungkasnya. (sas/uno)
Editor : Nurismi