HARIAN RAKYAT KALTARA — Upaya pemberantasan peredaran narkotika di Kota Tarakan terus digencarkan.
Setelah melakukan patroli di kawasan rawan di Kelurahan Selumit Pantai, Badan Narkotika Nasional Kota (BNNK) Tarakan kembali menyasar wilayah lain yang diduga menjadi lokasi aktivitas serupa, yakni di Kelurahan Juata Permai, Tarakan Utara.
Kepala BNNK Tarakan Evon Meternik mengaku, menerima laporan dari masyarakat terkait munculnya kembali aktivitas peredaran narkoba di wilayah tersebut.
Menindaklanjuti informasi itu, tim BNNK melakukan penyelidikan dengan melibatkan informan untuk memastikan kebenaran laporan.
“Beberapa waktu lalu kami menerima laporan peredaran narkoba mulai muncul lagi. Kami bersama tim kemudian melakukan penelusuran ke belakang Kantor Kelurahan Juata Permai dengan mengandalkan informasi dari informan,” ujar Evon, Minggu (12/4).
Dari hasil penyelidikan awal, ditemukan indikasi adanya upaya pembangunan lokasi transaksi narkotika yang dibuat secara terselubung.
Pelaku diduga mendirikan semacam “loket” dengan menggunakan pagar bambu yang ditutup daun-daunan untuk menghindari pantauan petugas.
“Modusnya, mereka melayani pembeli dari balik pagar bambu tersebut. Jadi tidak terlihat jelas dari luar. Ini sengaja dibuat untuk menghalangi petugas melakukan penindakan langsung,” jelasnya.
Namun saat petugas mendatangi lokasi, para pelaku telah lebih dulu melarikan diri. Diduga keberadaan petugas telah diketahui lebih awal oleh jaringan pelaku yang berada di bagian depan lokasi.
“Begitu kami masuk dari depan, mereka sudah kabur. Sepertinya sudah ada yang memberi informasi bahwa petugas datang,” katanya.
Meski tidak berhasil mengamankan pelaku utama, petugas langsung membongkar lokasi yang diduga digunakan sebagai tempat transaksi tersebut. Lokasi itu berada sekitar 200 meter di belakang Kantor Kelurahan Juata Permai, di area yang cukup tersembunyi dan berada di atas tebing.
Evon menjelaskan, lokasi transaksi kini berpindah dari titik sebelumnya. Jika sebelumnya berada di sisi kiri jalan setelah masuk kantor lurah, kini lokasi baru berada lurus ke depan dan berada di area lebih tinggi.
“Posisinya di atas seperti lapangan, dan di belakangnya ada jurang. Saat dikejar, pelaku turun ke bawah dan diduga bersembunyi di rumah-rumah warga sekitar,” ungkapnya.
Dalam operasi tersebut, petugas juga mendapati beberapa orang yang diduga hendak membeli narkotika jenis sabu. Mereka kemudian didata dan diberikan pembinaan.
“Ada beberapa orang yang kami amankan untuk didata, sekitar lima orang. Dari hasil pemeriksaan, mereka mengakui membeli narkoba di lokasi itu. Namun kami tidak lakukan penahanan, hanya diberikan arahan dan diwajibkan lapor,” jelasnya.
BNNK Tarakan memilih pendekatan persuasif terhadap para pengguna, terutama bagi mereka yang telah mengalami ketergantungan. Pihaknya mendorong agar para pengguna bersedia mengikuti program rehabilitasi.
“Kami harapkan mereka yang sudah kecanduan bisa mengikuti program rehabilitasi yang telah kami siapkan, agar tidak semakin parah,” katanya.
Lebih lanjut, Evon menyebutkan bahwa aktivitas di lokasi tersebut diduga kembali beroperasi sejak akhir tahun 2025.
Sebelumnya, BNNK Tarakan juga telah membongkar sejumlah lokasi serupa yang digunakan sebagai tempat transaksi sabu secara sembunyi-sembunyi.
“Informasinya sebelum Ramadan lalu mereka sudah mulai membangun pagar baru untuk mengantisipasi jika ada petugas datang. Jadi sebelum berkembang lebih jauh, kami lakukan pembongkaran,” ujarnya.
Meski demikian, pihaknya mengakui masih menghadapi kendala dalam upaya pemberantasan narkotika, salah satunya kurangnya dukungan dari masyarakat setempat.
“Ini yang menjadi kendala. Masyarakat terkesan tidak peduli, bahkan seperti melindungi aktivitas tersebut. Ini tentu menyulitkan kami dalam melakukan penindakan,” keluh Evon. (sas/uno)
Editor : Nurismi