HARIAN RAKYAT KALTARA — Aktivitas rutin di dapur nyaris berujung petaka bagi seorang warga lanjut usia di Kota Tarakan.
Tanpa disadari, suara yang dikira berasal dari monyet ternyata menjadi pertanda awal longsor yang menghancurkan bagian belakang rumahnya, Kamis (9/4) pagi.
Peristiwa itu menimpa rumah milik Salmah (65), warga Jalan Sebengkok Tiram, Gang Nuri RT 05, Kelurahan Lingkas Ujung.
Saat kejadian, Salmah tengah mencuci piring di dapur, tepat di area yang kemudian tertimbun material longsoran.
“Saya lagi cuci piring, tiba-tiba ada suara keras di atas seng. Saya kira monyet yang biasa loncat di tangki air, jadi tidak curiga,” ujar Salmah saat ditemui di lokasi.
Ia mengaku tetap melanjutkan aktivitasnya karena suara tersebut terdengar seperti kejadian sehari-hari. Namun situasi berubah ketika Ketua RT setempat datang berteriak memperingatkan bahwa bagian belakang rumahnya terkena longsor.
Mendengar hal itu, Salmah langsung bergegas keluar dan menuju bagian belakang rumah. Betapa terkejutnya ia saat melihat dapur miliknya sudah hancur dan dipenuhi material tanah, batu, serta akar pohon dari lereng bukit.
“Pas saya lihat, dapur sudah tertimbun tanah semua. Saya langsung gemetar, karena sebelumnya saya masih di situ,” ucapnya.
Pantauan di lokasi menunjukkan kerusakan cukup parah. Dinding dapur jebol akibat tekanan tanah dari atas bukit. Sementara peralatan memasak milik korban ikut tertimbun lumpur.
Salmah mengungkapkan, rumahnya memang berada tepat di bawah lereng bukit yang rawan longsor. Bahkan kejadian serupa pernah terjadi sebelumnya, termasuk saat pohon mangga tumbang menimpa rumah akibat kondisi tanah yang labil.
“Kalau hujan deras, kami selalu khawatir. Ini sudah kedua kalinya dapur saya kena longsor,” katanya.
Meski tidak mengalami luka, Salmah kini diliputi rasa was-was untuk kembali menggunakan area belakang rumahnya.
Ia berharap ada penanganan serius dari pemerintah untuk mengantisipasi longsor susulan.
Sementara itu, Kepala Pelaksana BPBD Tarakan Yonsep mengatakan, telah melakukan asesmen awal di lokasi kejadian. BPBD juga telah menyalurkan bantuan darurat berupa terpal dan karung.
“Hasil sementara, rumah mengalami kerusakan sekitar 60 persen. Kami fokus pada penanganan darurat dan keselamatan warga,” jelas Yonsep.
Ia menambahkan, untuk perbaikan permanen akan menjadi kewenangan instansi teknis terkait, yakni Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (Perkim). Setelah dilakukan asesmen lanjutan bersama pihak kelurahan dan kecamatan.
Meski struktur utama rumah masih dinilai layak ditempati. Kondisi lingkungan yang berada di lereng bukit serta padatnya permukiman membuat risiko longsor tetap tinggi, terutama saat curah hujan meningkat. (sas/uno)
Editor : Nurismi