Utama Pemerintahan Sanggam Kaltara Ekonomi Kombis Gaya Hidup All Sport Makan-Makan Parlementaria Polhukrim Entertaiment Catatan

Demi Efisiensi, Pemprov Kaltara Ubah Spesifikasi Jalan Perbatasan: Anggaran Sama, Hasil Lebih Luas

Nurismi • Selasa, 7 April 2026 | 08:00 WIB
ILUSTRASI: Dinas PUPR Perkim Kaltara meminta agar jalan dibangun di perbatasan menggunakan sistem agregat atau lapisan yang lebih sederhana. (HRK)
ILUSTRASI: Dinas PUPR Perkim Kaltara meminta agar jalan dibangun di perbatasan menggunakan sistem agregat atau lapisan yang lebih sederhana. (HRK)

HARIAN RAKYAT KALTARA - Di balik proyek pembangunan jalan di perbatasan Kalimantan Utara (Kaltara) senilai Rp50 miliar yang kini tengah berjalan.

Beberapa hal teknis dibahas antara Dinas PUPR Perkim Kaltara dengan Balai Pelaksana Jalan Nasional (BPJN) selaku pelaksana. 

Jenis lapisan penutup aspal yang akan digunakan, yang ternyata berdampak besar pada panjang jalan yang bisa dibangun dari anggaran yang sama.

Kepala Dinas PUPR Perkim Kaltara Helmi mengungkapkan, sejak awal sudah meminta agar jalan dibangun menggunakan sistem agregat atau lapisan yang lebih sederhana. 

Dengan tujuan agar panjang jalan yang dihasilkan bisa lebih maksimal. Namun permintaan itu ditolak oleh Balai Jalan yang tetap bersikukuh menggunakan lapis penutup aspal sesuai standar APBN. 

“Kami minta cukup agregat supaya lebih panjang dapatnya, tapi mereka tidak mau. Tetap harus ada lapis penutup aspal,” ujarnya, Senin (6/4). 

Dengan sistem aspal beton atau AC-WC (Asphalt Concrete Wearing Course) setebal 6 sentimeter yang awalnya direncanakan.

Anggaran Rp50 miliar hanya mampu menghasilkan sekitar 3 hingga 4 kilometer jalan. Angka itu dinilai terlalu sedikit mengingat besarnya kebutuhan infrastruktur jalan di Kaltara. 

Tarik-menarik itu akhirnya berbuah kompromi. Sistem pelapisan diubah dari hotmix AC-WC menjadi burda yakni sistem laburan aspal dua lapis atau satu lapis. 

“Dengan perubahan ini, anggaran yang sama diperkirakan mampu menghasilkan jalan sepanjang 7 hingga 8 kilometer, atau dua kali lipat dari yang bisa dicapai dengan sistem hotmix sebelumnya. Kalau Rp 50 miliar diubah jadi burda, bisa dapat sampai 7 sampai 8 kilometer. Dua kali lipatnya,” terangnya. 

Namun demikian, Helmi mengakui paket Rp 50 miliar yang saat ini sedang berjalan masih menggunakan sistem aspal beton lama, sebelum perubahan disepakati. Perubahan sistem menjadi burda baru akan diterapkan pada paket berikutnya senilai Rp100 miliar yang kini masih dalam proses perencanaan dan lelang. 

“Keputusan mengubah spesifikasi teknis ini adalah upaya Pemprov Kaltara untuk memaksimalkan setiap rupiah anggaran infrastruktur. Agar manfaatnya bisa menjangkau wilayah yang lebih luas, di tengah keterbatasan alokasi anggaran,” pungkasnya. (fai/uno)

Editor : Nurismi
#pembangunan jalan #perbatasan #pemprov kaltara #Kaltara