HARIAN RAKYAT KALTARA — Badan Pusat Statistik (BPS) Kaltara mencatat jumlah penduduk miskin pada September 2025 sebesar 42,45 ribu jiwa atau 5,47 persen.
Angka tersebut menurun tipis dibandingkan Maret 2025 yang mencapai 42,57 ribu jiwa atau 5,54 persen.
Kepala BPS Kaltara Mustaqim menjelaskan, secara absolut jumlah penduduk miskin berkurang sekitar 0,12 ribu jiwa.
Sementara secara persentase turun 0,07 persen poin dalam periode Maret—September 2025.
“Secara total memang terjadi penurunan, meski relatif tipis. Namun jika dilihat lebih rinci, terdapat perbedaan tren antara wilayah perkotaan dan perdesaan,” ujarnya, Kamis (12/2).
BPS mencatat, jumlah penduduk miskin di wilayah perkotaan justru mengalami kenaikan, baik dari sisi jumlah maupun persentase.
Pada Maret 2025, penduduk miskin di perkotaan tercatat 25,56 ribu jiwa atau 5,27 persen.
Angka itu meningkat menjadi 29,73 ribu jiwa atau 5,86 persen pada September 2025. Artinya, terjadi kenaikan sekitar 4,16 ribu jiwa atau naik 0,59 persen poin.
“Sebaliknya, di wilayah perdesaan terjadi penurunan cukup signifikan. Jumlah penduduk miskin di perdesaan turun dari 17,01 ribu jiwa atau 5,98 persen pada Maret 2025 menjadi 12,73 ribu jiwa atau 4,72 persen pada September 2025. Secara absolut turun 4,29 ribu jiwa dan secara persentase menurun 1,26 persen poin,” sebut dia.
Ia menuturkan, pada September 2025 persentase penduduk miskin di perdesaan 4,72 persen justru lebih rendah dibandingkan perkotaan 5,86 persen.
Kondisi ini berbanding terbalik dengan Maret 2025, saat tingkat kemiskinan perdesaan masih lebih tinggi dibandingkan perkotaan.
Selain jumlah penduduk miskin, BPS juga mencatat kenaikan Garis Kemiskinan (GK) selama periode tersebut.
Pada Maret 2025, garis kemiskinan tercatat sebesar Rp 884.970 per kapita per bulan. Kemudian meningkat 5,50 persen menjadi Rp 933.675 per kapita per bulan pada September 2025.
Garis kemiskinan di perkotaan tercatat lebih tinggi dibandingkan perdesaan. Pada September 2025, GK di perkotaan mencapai Rp 963.971 per kapita per bulan, sementara di perdesaan sebesar Rp 868.014 per kapita per bulan.
Hal ini mencerminkan biaya kebutuhan hidup di perkotaan yang relatif lebih mahal.
“Dari komponen pembentuknya, sumbangan Garis Kemiskinan Makanan (GKM) masih mendominasi sebesar 73,82 persen, sedangkan Garis Kemiskinan Non-Makanan (GKNM) sebesar 26,18 persen,” tuturnya.
Untuk komoditas penyumbang terbesar garis kemiskinan makanan, beras menjadi kontributor utama baik di perkotaan maupun perdesaan.
Di perkotaan, lima komoditas terbesar antara lain beras, rokok kretek/filter, telur ayam ras, daging ayam ras, dan bandeng.
Sementara di perdesaan, selain beras, komoditas dominan adalah rokok kretek/filter, telur ayam ras, daging ayam ras, dan gula pasir. (fai/uno)
Editor : Nurismi