HARIAN RAKYAT KALTARA - Kakao kini tidak lagi sekadar tanaman perkebunan bagi masyarakat Kabupaten Bulungan.
Komoditas ini perlahan menjadi penggerak ekonomi desa, seiring perubahan pola usaha petani dari penjual bahan mentah menuju produsen kakao olahan bernilai tambah.
Dengan total luasan mencapai 55 hektare, kebun kakao Bulungan tersebar di Desa Antutan (Kecamatan Tanjung Palas), Desa Pentian (Kecamatan Sekatak), dan Desa Sajau Metun (Kecamatan Tanjung Palas Timur).
Ketiga desa tersebut berada di kawasan Lanskap Kayan yang memiliki karakter lahan kering dan bergelombang.
Kondisi yang dinilai cocok untuk pengembangan kakao secara berkelanjutan.
Kepala Dinas Pertanian Bulungan Kristianto menyebut, Desa Antutan sebagai sentra utama dengan luas sekitar 30 hektare. Disusul Desa Pentian 20 hektare, dan Sajau Metun 5 hektare.
Sejak mulai dikembangkan secara serius pada 2020, kakao perlahan menunjukkan peran strategis dalam meningkatkan pendapatan masyarakat. Perubahan signifikan terlihat ketika Pemkab Bulungan mendorong pengolahan pascapanen.
Pada 2024, dua rumah produksi kakao mulai beroperasi dan menjadi titik balik pengembangan komoditas ini.
Melalui fasilitas tersebut, hasil panen petani diolah menjadi bubuk kakao, kakao bar, dan kakao butter yang dipasarkan dengan merek lokal Kayan Cocoa.
“Petani sekarang tidak hanya menjual biji kakao. Mereka sudah mulai memahami pentingnya pengolahan untuk meningkatkan nilai jual,” terangnya, Senin (19/1).
Dampak hilirisasi tersebut terasa di tingkat harga. Saat pasokan terbatas pada Agustus-November 2025 lalu, harga kakao fermentasi di Antutan sempat melonjak hingga Rp 120 ribu per kilogram.
Bahkan memicu persaingan antarpengepul yang mendorong harga mencapai Rp 145 ribu per kilogram.
“Meski saat ini harga mengalami penurunan, kakao fermentasi kering masih berada di kisaran Rp 65 ribu hingga Rp 80 ribu per kilogram. Lebih tinggi dibandingkan kakao nonfermentasi maupun basah,” terangnya.
Menurut Kristianto, kunci keberlanjutan kakao Bulungan terletak pada perubahan perilaku produksi petani, terutama dalam menjaga kualitas.
Proses fermentasi selama tiga hingga lima hari sebelum penjemuran menjadi standar penting. Agar mutu kakao tetap terjaga dan memiliki daya saing.
“Kalau prosesnya tidak benar, kualitas rendah dan harga pasti turun. Karena itu pembinaan ke petani terus kita lakukan,” ujarnya.
Meski harga kakao dunia berfluktuasi, Pemkab Bulungan menilai komoditas ini masih prospektif dalam jangka panjang.
Permintaan global terhadap kakao berkualitas diprediksi tetap tinggi, seiring meningkatnya konsumsi produk cokelat olahan.
Untuk memastikan manfaat kakao benar-benar dirasakan masyarakat, Pemkab Bulungan terus memperkuat dukungan di tingkat hulu dan hilir.
Bantuan alat pengering, kotak fermentasi hingga pendampingan teknis disiapkan. Agar petani mampu menjaga mutu produksi secara konsisten.
“Kakao ini bukan hanya soal komoditas. Tapi soal bagaimana masyarakat desa bisa naik kelas. Fasilitas sudah disiapkan, sekarang tinggal konsistensi menjaga kualitas,” tutupnya. (fai/uno)
Editor : Nurismi