HARIAN RAKYAT KALTARA — Cuaca buruk yang melanda wilayah Kalimantan Utara (Kaltara) dalam beberapa hari terakhir mulai berdampak pada pengawasan pelayaran.
Informasi perkiraan cuaca dari Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyebutkan, adanya potensi hujan sedang hingga lebat disertai angin kencang serta gelombang laut mencapai 1,25 hingga 2,5 meter di sejumlah perairan Kaltara.
Kondisi tersebut mendorong operator pelayaran memperketat prosedur keselamatan. Terutama bagi jalur speedboat yang menjadi moda transportasi utama masyarakat di Tarakan, Nunukan, dan daerah sekitar.
Sekretaris Gabungan Pengusaha Angkutan Sungai, Danau dan Penyeberangan (Gapasdap) Kaltara Bayu Ngari Singal menyampaikan, peningkatan pengawasan dilakukan menyusul mulai terjadinya gelombang tinggi di beberapa akses pelayaran lokal.
Menurutnya, aspek keselamatan menjadi prioritas utama dibandingkan kelancaran jadwal keberangkatan.
“Kami meminta seluruh nakhoda dan operator memastikan armada benar-benar siap beroperasi. Seluruh perangkat keselamatan wajib dicek mulai mesin, alat komunikasi hingga kondisi kapal. Ini penting, karena cuaca bisa berubah mendadak,” ujarnya, Senin (8/12) lalu.
Bahkan dalam kondisi tertentu, kata Bayu, operator bersama otoritas pelabuhan berhak menunda keberangkatan jika kondisi dianggap membahayakan.
Keputusan itu sepenuhnya bertujuan menghindari risiko kecelakaan di laut.
“Kalau jarak pandang rendah, angin kencang, atau gelombang tiba-tiba meningkat, keberangkatan dapat dihentikan sementara. Itu bukan hambatan pelayanan, tetapi keputusan keselamatan,” tegasnya.
Selain memeriksa kesiapan kapal, Gapasdap juga mewajibkan penumpang menggunakan pelampung (life jacket) selama perjalanan.
Operator dilarang mengangkut penumpang melebihi kapasitas, terutama saat gelombang tinggi terjadi.
“Life jacket wajib dipakai dan kapasitas tidak boleh dilebihi. Semua pihak harus disiplin,” tambah Bayu.
Menurut Bayu, cuaca ekstrem kali ini diperkirakan berkaitan dengan munculnya bibit siklon tropis yang memicu peningkatan gelombang beberapa hari terakhir.
Meskipun demikian, hingga saat ini belum ada laporan resmi mengenai penundaan pelayaran reguler di Pelabuhan Tengkayu I Tarakan.
“Belum ada penundaan, tapi teman-teman operator sudah mulai merasakan dampaknya. Informasi kami masih diperoleh mandiri dari BMKG karena belum ada imbauan resmi,” ungkapnya.
Gapasdap juga meminta masyarakat memahami jika sewaktu-waktu terjadi penundaan yang sifatnya mendesak.
Bayu memastikan keputusan tersebut diambil berdasarkan informasi navigasi cuaca serta hasil monitoring lapangan.
“Kami berupaya menjaga keselamatan penumpang dan awak kapal. Keputusan penundaan sepenuhnya demi keamanan,” tutupnya. (sas/uno)
Editor : Nurismi