HARIAN RAKYAT KALTARA - Badan Pusat Statistik (BPS) Kalimantan Utara mencatat laju inflasi year-on-year (y-on-y) pada November 2025 mencapai 2,47 persen, meningkat dibandingkan bulan-bulan sebelumnya.
Hal tersebut disampaikan Kepala BPS Kaltara Masud Rifai, dalam rilis resmi perkembangan inflasi provinsi.
Selain itu, inflasi year-to-date (y-to-d) tercatat sebesar 2,02 persen, sementara inflasi month-to-month (m-to-m) pada November mengalami deflasi 0,11 persen.
Kondisi tersebut menunjukkan secara bulanan terjadi penurunan harga. Namun secara tahunan inflasi tetap menunjukkan tren peningkatan.
“Data grafik BPS memperlihatkan inflasi tahunan di Kaltara terus menguat sejak pertengahan tahun. Setelah stabil pada angka 1,24—1,38 persen pada awal 2025. Inflasi mulai merangkak naik hingga mencapai puncaknya pada November,” terangnya, belum lama ini.
Pihaknya juga merilis perbandingan inflasi antardaerah di tiga kabupaten/kota Indeks Harga Konsumen (IHK) di Kaltara.
Pada November 2025, Tanjung Selor menjadi daerah dengan inflasi y-on-y tertinggi 2,86 persen dan IHK mencapai 107,54.
Sementara Kota Tarakan mencatat inflasi sebesar 2,67 persen dengan IHK 107,36. Untuk Kabupaten Nunukan menjadi wilayah dengan inflasi terendah hanya 1,94 persen. Meski IHK-nya tercatat cukup tinggi di angka 108,94.
“Secara total, inflasi y-on-y Provinsi Kalimantan Utara berada pada angka 2,47 persen. Dengan IHK rata-rata provinsi sebesar 107,86,” jelasnya.
Untuk inflasi bulanan atau month-to-month, Kabupaten Nunukan justru mengalami deflasi —0,13 persen, dipengaruhi turunnya beberapa harga komoditas pokok.
Sementara itu, Kota Tarakan mencatat inflasi m-to-m sebesar 0,25 persen dan Tanjung Selor 0,13 persen.
“Deflasi di Nunukan memberikan kontribusi terhadap deflasi provinsi pada November yang berada di angka —0,11 persen,” ungkapnya.
Kendati terjadi deflasi bulanan, peningkatan inflasi tahunan perlu menjadi perhatian bersama, terutama memasuki momentum akhir tahun.
Jelang libur panjang dan hari besar keagamaan, pergerakan harga sejumlah komoditas cenderung meningkat.
“Kami akan terus memantau dinamika harga agar inflasi di Kaltara tetap terkendali,” ujarnya.
Menurutnya, koordinasi antarlembaga dan pemerintah daerah penting untuk memastikan stabilitas pasokan dan harga barang kebutuhan masyarakat. (fai/uno)