HARIAN RAKYAT KALTARA — Pelaksanaan Operasi Kepolisian Terpusat (Ketupat) Kayan 2026 yang berlangsung selama 13 hari di Kota Tarakan mencatat sejumlah dinamika.
Mulai dari peningkatan arus mudik hingga perubahan tren gangguan keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas).
Kapolres Tarakan AKBP Erwin Syaputra Manik mengungkapkan, jumlah pemudik dan arus balik pada tahun ini mengalami peningkatan signifikan dibanding tahun sebelumnya. Kenaikan tersebut terjadi pada dua moda transportasi utama, yakni udara dan laut.
“Dari hasil pelaksanaan operasi selama 13 hari, terjadi peningkatan jumlah masyarakat yang melaksanakan mudik maupun arus balik. Baik melalui transportasi udara maupun laut di Tarakan,” ujarnya, Jumat (27/3).
Di sisi lain, Polres Tarakan mencatat adanya peningkatan gangguan kamtibmas, khususnya pada kasus penganiayaan. Meski demikian, tren kecelakaan lalu lintas (lakalantas) justru menunjukkan penurunan.
“Untuk kriminalitas memang ada kenaikan, terutama kasus penganiayaan. Namun untuk lakalantas mengalami penurunan dibanding operasi tahun-tahun sebelumnya. Termasuk jumlah korban dan kerugian materialnya,” jelasnya.
Selain itu, selama operasi berlangsung juga tercatat dua kejadian kebakaran lahan. Beruntung, tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut.
“Untuk kebakaran lahan ada dua kejadian, namun tidak menimbulkan korban jiwa,” tambahnya.
Selama operasi, sempat terjadi aksi protes dari Tenaga Kerja Bongkar Muat (TKBM) di Pelabuhan Malundung terhadap salah satu koperasi.
Namun, aksi tersebut berhasil difasilitasi melalui mediasi. Sehingga tidak berkembang menjadi gangguan keamanan yang lebih luas.
Selain itu, kegiatan masyarakat seperti musik sahur juga menjadi catatan evaluasi. Ditemukan sejumlah peserta tidak mengikuti technical meeting. Sehingga tidak memahami aturan pelaksanaan.
“Ke depan ini menjadi perhatian agar kegiatan masyarakat tetap berjalan kondusif dan sesuai arahan panitia,” ujarnya.
Dalam sektor transportasi laut, Polres Tarakan juga menemukan sejumlah persoalan, khususnya di Pelabuhan Feri Juata.
Di antaranya adalah belum tersedianya rest area bagi penumpang serta tidak adanya fasilitas CCTV.
“Di Pelabuhan Feri Juata masih belum tersedia rest area dan CCTV. Padahal ini merupakan jalur transportasi antar daerah yang cukup vital,” ungkapnya.
Menurutnya, keberadaan CCTV sangat penting sebagai sarana pengawasan. Terutama mengingat Tarakan merupakan daerah transit yang rawan terhadap peredaran narkotika dan tindak pidana perdagangan orang.
Kapolres menambahkan, mendorong pengadaan fasilitas pendukung lain seperti mesin X-Ray.
Saat ini, satu unit mesin X-Ray telah beroperasi di Pelabuhan Internasional Malundung, yang sebelumnya belum tersedia.
“Ini penting untuk memutus peredaran narkotika, karena Tarakan merupakan pulau transit yang cukup rawan,” tegasnya.
Meski terdapat sejumlah catatan, secara umum tidak ditemukan kejadian menonjol selama pelaksanaan operasi.
Tidak ada insiden besar baik di pelabuhan maupun bandara selama arus mudik dan balik.
“Selama 13 hari operasi, tidak ada kejadian menonjol. Hanya aksi protes dan peningkatan kasus penganiayaan yang sudah dalam proses hukum,” tuturnya.
Menurut Kapolres, hasil ini tidak terlepas dari evaluasi dan perbaikan strategi yang dilakukan berdasarkan pelaksanaan operasi pada tahun sebelumnya.
Sinergi antara Polri, TNI, pemerintah daerah, serta dukungan masyarakat dinilai berperan penting dalam menjaga situasi tetap kondusif.
“Kami melakukan langkah maksimal berdasarkan analisa dan evaluasi operasi sebelumnya. Ini juga berkat kolaborasi semua pihak sehingga situasi di Tarakan tetap aman dan kondusif,” pungkas Erwin. (sas/uno)
Editor : Nurismi