HARIAN RAKYAT KALTARA— Laju inflasi di Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara) pada Februari 2026 tercatat tetap terkendali meskipun mengalami kenaikan dibandingkan bulan sebelumnya.
Berdasarkan data yang dihimpun oleh Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Kaltara, inflasi secara bulanan atau month to month (mtm) pada Februari 2026 tercatat sebesar 0,47 persen.
Kepala KPwBI Kaltara Hasiando Ginsar Manik mengatakan, angka tersebut masih berada dalam rentang yang terkendali dan mencerminkan stabilitas harga yang relatif terjaga di daerah.
Menurutnya, kenaikan inflasi pada Februari terutama dipengaruhi oleh beberapa komoditas utama, salah satunya emas perhiasan.
Penguatan harga emas global di tengah ketidakpastian ekonomi dunia mendorong meningkatnya permintaan masyarakat terhadap aset lindung nilai, sehingga turut memberi andil terhadap inflasi di daerah.
“Inflasi di Kaltara pada Februari 2026 tetap berada pada level yang terkendali. Peningkatan inflasi secara bulanan, terutama didorong oleh kenaikan harga emas perhiasan yang mengikuti tren penguatan harga emas global,” ujar Hasiando.
Selain emas perhiasan, kenaikan harga juga terjadi pada sejumlah komoditas pangan.
Di antaranya cabai rawit yang mengalami kenaikan harga akibat meningkatnya permintaan menjelang periode Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Ramadan. Serta terbatasnya pasokan dari beberapa daerah sentra produksi.
Komoditas lain yang turut memberi kontribusi terhadap inflasi adalah daging ayam ras.
Kenaikan harga komoditas tersebut dipengaruhi oleh penyesuaian harga di tingkat produsen dan distributor seiring meningkatnya permintaan masyarakat menjelang Ramadan.
“Beberapa komoditas justru memberikan andil dalam menahan laju inflasi. Penurunan harga tercatat pada komoditas bayam dan sawi hijau, yang dipengaruhi oleh melimpahnya pasokan lokal. Seiring masa panen serta kondisi cuaca yang relatif kondusif bagi produksi pertanian,” jelasnya.
Selain itu, turunnya harga bawang merah juga turut menahan tekanan inflasi. Kondisi ini dipicu oleh meningkatnya pasokan dari daerah sentra produksi. Sehingga mampu menjaga stabilitas harga di tingkat konsumen.
Berdasarkan wilayahnya, seluruh daerah yang menjadi penghitungan Indeks Harga Konsumen (IHK) di Kaltara tercatat mengalami inflasi pada Februari 2026.
Inflasi tertinggi terjadi di Tarakan sebesar 0,58 persen (mtm), disusul Tanjung Selor sebesar 0,56 persen dan Kabupaten Nunukan sebesar 0,24 persen.
“Secara tahunan atau year on year (yoy), inflasi gabungan tiga kota IHK di Kaltara tercatat sebesar 4,75 persen,” sebut Hasiando.
Ia menambahkan, pihaknya bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) akan terus memperkuat koordinasi guna menjaga stabilitas harga.
Terutama menjelang Ramadan dan Idulfitri yang biasanya diikuti peningkatan konsumsi masyarakat.
Menurutnya, berbagai langkah strategis seperti penguatan distribusi pasokan pangan, pemantauan harga di pasar, hingga pelaksanaan operasi pasar akan terus dilakukan guna mengantisipasi potensi lonjakan harga komoditas.
“Ke depan, Bank Indonesia bersama pemerintah daerah dan seluruh anggota TPID akan terus memperkuat sinergi dalam menjaga stabilitas harga. Terutama menjelang periode Ramadan dan Idulfitri agar inflasi tetap terkendali,” harapnya. (sas/uno)
Editor : Nurismi