HARIAN RAKYAT KALTARA — Ketersediaan bahan bakar minyak (BBM) di Kalimantan Utara (Kaltara) selama Ramadan hingga Idulfitri 2026 dipastikan dalam kondisi aman.
Pertamina bersama jajaran di daerah mengklaim suplai lancar dan stok mencukupi hingga akhir bulan.
Berdasarkan laporan stok per Rabu (4/3), kondisi BBM di Fuel Terminal (FT) Tarakan, untuk produk Pertamax, stok yang dapat disalurkan (pumpable stock) tercatat 76 kiloliter (KL) dengan ketahanan sekitar 23 hari.
Sementara Pertalite memiliki stok 657 KL dengan estimasi ketahanan 329 hari berdasarkan rata-rata konsumsi harian.
Stok Biosolar (B40) tercatat paling besar, yakni 4.335 KL dengan daya tahan sekitar 1.096 hari. Adapun Solar (B0) tersedia 773 KL dengan ketahanan 31 hari.
Untuk Avtur, stok mencapai 1.519 KL dengan estimasi ketahanan 40 hari. Sementara Dexlite memiliki ketahanan stok sekitar 8 hari dan minyak tanah (kerosene) sekitar 5 hari.
Dari sisi pergerakan kapal tanker, tercatat MT Transko Taurus mengangkut Biosolar sebanyak 5.500 KL dari Balikpapan dan telah menyelesaikan proses bongkar pada 3 Maret 2026.
Selain itu, MT Mutiara Global membawa Pertalite 1.500 KL, Pertamax 500 KL, dan Biosolar 4.000 KL, dan saat ini dalam posisi menunggu sandar (waiting jetty).
Kapal MT Sultan Abdul Rahman juga dijadwalkan tiba dengan muatan Pertalite 2.000 KL dan Biosolar 3.000 KL.
Sales Branch Manager Kaltimut V Fuel Kaltara Muhammad Naufal Atiyah mengatakan, telah berkoordinasi intensif dengan Field Pertamina Tarakan. Guna memastikan pasokan energi tetap stabil di tengah dinamika global.
“Untuk stok selama Ramadan dan Idulfitri sudah kami pastikan aman. Kami sudah koordinasi intensif juga dengan Field Pertamina Tarakan,” ujarnya, Rabu (4/3).
Ia menjelaskan, kondisi stok BBM di Tarakan diproyeksikan mencukupi untuk sekitar satu bulan ke depan.
Selain stok yang tersedia saat ini, suplai tambahan melalui kapal tanker juga terus berjalan.
“Yang pasti sampai akhir bulan nanti selalu ada suplai. Tidak akan ada kekosongan stok,” tegasnya.
Meski demikian, Naufal mengakui dinamika global, termasuk ketegangan di Timur Tengah.
Berpengaruh terhadap harga minyak dunia. Kenaikan harga BBM non-subsidi di tingkat nasional disebutnya mengikuti fluktuasi pasar.
“Untuk non-subsidi memang fluktuatif tergantung dinamika pasar. Tapi sampai saat ini belum ada arahan perubahan harga, khususnya menjelang Ramadan dan Idulfitri,” katanya.
Sementara untuk BBM subsidi, ia menegaskan kebijakan sepenuhnya mengikuti arahan pemerintah pusat dan hingga kini belum ada perubahan.
Distribusi BBM di wilayah Kaltara, terutama daerah perbatasan seperti Nunukan dan Malinau.
Diakui memiliki tantangan tersendiri karena sebagian pengiriman menggunakan kapal SPOB dengan jarak tempuh cukup jauh.
Meski demikian, Pertamina memastikan suplai tetap dioptimalkan hingga wilayah terluar.
“Baik SPBU maupun Pertashop di Kaltara aman. Kami maksimalkan distribusi sampai wilayah perbatasan,” ujarnya.
Ketua Komisi III DPRD Kaltara Jufri Budiman mengatakan, telah meminta penjelasan terkait ketersediaan BBM. Termasuk Pertamax serta kebutuhan roda dua dan roda empat.
“Kami menyoroti fakta di lapangan yang dinilai belum sepenuhnya sejalan dengan data distribusi,” keluhnya.
Ia juga menyoroti antrean solar yang kerap terjadi serta adanya SPBU yang disebut masyarakat sering tutup.
DPRD mendorong Pertamina mencari solusi, termasuk memisahkan jalur distribusi BBM subsidi dan non-subsidi. Agar kebutuhan industri tidak bercampur dengan konsumsi masyarakat umum.
“Supaya proyek-proyek industri mengambil di jalur yang benar dan tidak mengganggu kebutuhan masyarakat,” katanya. (sas/uno)
Editor : Nurismi