HARIAN RAKYAT KALTARA— Ketimpangan pengeluaran penduduk di Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara) menunjukkan tren membaik.
Hingga September 2025, angka Gini Ratio tercatat 0,251 atau menjadi yang terendah dalam periode September 2019 hingga September 2025.
Kepala BPS Kaltara Mustaqim menjelaskan, Gini Ratio merupakan salah satu indikator untuk mengukur tingkat ketimpangan distribusi pengeluaran masyarakat dengan rentang nilai 0 hingga 1.
Semakin mendekati nol, tingkat ketimpangan semakin rendah. Selama periode 2019—2025, Gini Ratio Kaltara berfluktuasi namun cenderung menurun.
Pada September 2025 ini angkanya turun menjadi 0,251, lebih rendah dibanding Maret 2025 yang sebesar 0,261.
Secara spasial, penurunan juga terjadi baik di wilayah perkotaan maupun perdesaan. Di daerah perkotaan, Gini Ratio pada September 2025 tercatat sebesar 0,255, turun dari 0,262 pada Maret 2025.
Sementara itu, di wilayah perdesaan angkanya sebesar 0,242, juga menurun dibandingkan Maret 2025 yang berada di angka 0,253.
“Penurunan ini menandakan adanya perbaikan distribusi pengeluaran antarpenduduk, baik di kota maupun desa. Bahkan, jika dibandingkan enam tahun terakhir, capaian September 2025 menjadi yang paling rendah,” terangnya, Senin (23/2).
Selain Gini Ratio, BPS juga mengukur ketimpangan melalui persentase pengeluaran kelompok 40 persen penduduk terbawah.
Berdasarkan ukuran Bank Dunia, ketimpangan dikategorikan rendah apabila persentase pengeluaran kelompok 40 persen terbawah berada di atas 17 persen.
Pada September 2025, distribusi pengeluaran kelompok 40 persen terbawah di Kaltara tercatat sebesar 24,89 persen. Angka ini meningkat dibandingkan Maret 2025 yang sebesar 24,64 persen.
Dengan demikian, tingkat ketimpangan di Kaltara masih berada pada kategori rendah,” imbuhnya.
Jika dirinci, di wilayah perkotaan persentase pengeluaran kelompok 40 persen terbawah pada September 2025 mencapai 24,84 persen, naik dari 24,47 persen pada Maret 2025.
Di perdesaan, angkanya tercatat 24,42 persen, meskipun sedikit menurun dari 24,98 persen pada periode sebelumnya. Namun tetap berada dalam kategori ketimpangan rendah.
Ia menegaskan peningkatan porsi pengeluaran kelompok masyarakat terbawah menunjukkan distribusi pengeluaran yang semakin merata.
Semakin besar persentase pengeluaran kelompok 40 persen terbawah, artinya ketimpangan semakin rendah. (fai/uno)
Editor : Nurismi