Utama Pemerintahan Sanggam Kaltara Ekonomi Kombis Gaya Hidup All Sport Makan-Makan Parlementaria Polhukrim Entertaiment Catatan

Tanpa Black Box, Ini Tantangan KNKT Ungkap Penyebab Pesawat Jatuh di Perbukitan Krayan

Beraupost • Sabtu, 21 Februari 2026 | 09:50 WIB

TIBA DI TARAKAN: Tim KNKT akan selidiki penyebab insiden jatuhnya pesawat Pelita Air. (SEPTIAN ASMADI/HRK)
TIBA DI TARAKAN: Tim KNKT akan selidiki penyebab insiden jatuhnya pesawat Pelita Air. (SEPTIAN ASMADI/HRK)

HARIAN RAKYAT KALTARA — Di balik duka kecelakaan pesawat pengangkut BBM di Krayan, Kabupaten Nunukan, langkah investigasi resmi dimulai.

Tim dari Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) turun tangan menyelidiki insiden yang menewaskan pilot tunggal, Captain Hendrik Ludwig Adam, Kamis (19/2).

Pesawat milik Pelita Air Service dengan registrasi PKPAA tersebut sebelumnya menyelesaikan misi distribusi 4.000 liter BBM dalam program BBM Satu Harga di wilayah perbatasan Krayan.

Saat lepas landas dari Long Bawan menuju Tarakan, pesawat mengalami kecelakaan.

Investigator keselamatan penerbangan KNKT Voltha Herry menegaskan, investigasi dilakukan dengan prinsip no blaming.

“Tujuan kami bukan mencari siapa yang salah, tetapi mencari faktor penyebab untuk pembelajaran agar kejadian serupa tidak terulang,” ujarnya, Jumat (20/2).

Pesawat yang digunakan adalah Air Tractor AT-802, tipe pesawat ringan yang kerap digunakan untuk misi khusus. Termasuk distribusi logistik di wilayah terpencil.

Dengan bobot di bawah 5.700 kilogram, pesawat ini sesuai regulasi di Indonesia tidak diwajibkan dilengkapi flight data recorder atau cockpit voice recorder (black box).

Kondisi tersebut membuat proses investigasi mengandalkan pengumpulan data lapangan secara maksimal.

“Kami akan memaksimalkan seluruh sumber informasi, mulai dari serpihan pesawat, catatan operasional, hingga keterangan operator,” jelas Voltha.

Pesawat diketahui dilengkapi perangkat navigasi Garmin yang dapat merekam jejak penerbangan (flight track).

Namun, perangkat ini tidak merekam parameter detail penerbangan maupun percakapan di kokpit sebagaimana black box.

“Belum bisa dipastikan apakah perangkat tersebut masih berfungsi. Lokasi kejadian masih disterilkan dan kondisi pesawat mengalami kerusakan akibat insiden,” katanya.

KNKT telah mengirim dua investigator ke Tarakan dan akan bergerak ke lokasi kecelakaan setelah kondisi memungkinkan.

Medan berbukit, licin, serta akses yang terbatas menjadi tantangan tersendiri dalam proses olah tempat kejadian perkara.

Proses investigasi nantinya akan dituangkan dalam dua tahap laporan. Laporan awal dijadwalkan terbit sekitar satu bulan setelah kejadian dan memuat kronologi serta fakta awal.

Sementara laporan final yang berisi analisis komprehensif serta rekomendasi keselamatan biasanya diselesaikan dalam kurun waktu hingga satu tahun.

KNKT menekankan bahwa hasil investigasi akan menjadi rujukan penting bagi operator penerbangan.

Khususnya yang menjalankan misi distribusi BBM ke wilayah perbatasan dengan karakteristik medan dan cuaca yang menantang.

“Semua langkah ini untuk meningkatkan standar keselamatan penerbangan nasional. Setiap insiden harus menjadi pembelajaran,” tutup Voltha. (sas/uno)

Editor : Nurismi
#pesawat Pelita Air jatuh #knkt #investigasi