HARIAN RAKYAT KALTARA - Laju inflasi di Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara) pada Januari 2026 tercatat masih berada dalam level yang relatif terkendali, meski dibayangi dinamika ekonomi global dan fluktuasi sejumlah komoditas.
Berdasarkan rilis Badan Pusat Statistik yang diolah Bank Indonesia, inflasi gabungan tiga kota Indeks Harga Konsumen (IHK) di Kaltara tercatat sebesar 0,10 persen secara bulanan (month to month/mtm).
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi (KPwBI) Kaltara Hasiando Ginsar Manik mengatakan, inflasi Januari 2026 terutama dipengaruhi oleh kenaikan harga emas perhiasan.
“Pergerakan harga emas perhiasan sejalan dengan ekspektasi pasar terhadap kebijakan suku bunga Federal Reserve serta meningkatnya ketegangan geopolitik global,” ujarnya.
Meski demikian, ia menegaskan, secara umum tekanan inflasi di awal tahun masih berada dalam koridor yang terjaga.
“Inflasi Januari 2026 di Kalimantan Utara relatif terkendali. Tekanan harga tidak bersifat luas dan masih dapat diantisipasi melalui penguatan koordinasi pengendalian inflasi daerah,” katanya.
Dari sisi sebaran wilayah, Nunukan menjadi satu-satunya daerah sampel IHK di Kaltara yang mencatat inflasi, yakni sebesar 0,81 persen (mtm).
Sementara itu, Tarakan justru mengalami deflasi sebesar -0,15 persen (mtm), dan Tanjung Selor mencatat deflasi lebih dalam sebesar -0,43 persen (mtm).
Secara tahunan (year on year/yoy), inflasi gabungan tiga kota IHK di Kaltara tercatat sebesar 4,08 persen.
Menurut Hasiando, sejumlah faktor penahan inflasi pada Januari 2026 berasal dari kelompok transportasi dan komoditas pangan tertentu.
“Penurunan harga angkutan udara menjadi salah satu faktor utama yang menahan inflasi. Seiring mobilitas masyarakat yang belum kembali setinggi periode akhir tahun,” jelasnya.
Selain itu, pasokan ikan bandeng yang melimpah turut membantu meredam tekanan harga di kelompok makanan.
Harga cabai rawit juga mulai mengalami normalisasi setelah sempat meningkat pada periode Natal dan Tahun Baru.
“Turunnya permintaan masyarakat pasca Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) ikut berperan dalam menurunkan tekanan harga komoditas tersebut,” tambahnya.
Di sisi lain, terdapat beberapa komoditas yang justru memberikan andil terhadap inflasi. Kenaikan harga emas perhiasan menjadi pendorong utama, sejalan dengan sentimen global.
“Ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan suku bunga The Federal Reserve serta meningkatnya ketidakpastian geopolitik global turut memengaruhi pergerakan harga emas, termasuk di daerah,” ujar Hasiando.
Faktor cuaca yang kurang mendukung juga berdampak pada hasil tangkapan nelayan, sehingga mendorong kenaikan harga ikan layang.
Selain itu, tarif angkutan laut mengalami normalisasi setelah sebelumnya diberikan diskon pada periode Natal dan Tahun Baru.
Menghadapi periode Ramadan dan Idulfitri, Bank Indonesia bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) akan memperkuat langkah-langkah antisipatif untuk menjaga stabilitas harga.
“Kami terus memperkuat sinergi dengan pemerintah daerah melalui TPID guna memastikan ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, serta menjaga ekspektasi inflasi masyarakat tetap terjangkar dengan baik,” tegasnya. (sas/uno)
Editor : Nurismi