Utama Pemerintahan Sanggam Kaltara Ekonomi Kombis Gaya Hidup All Sport Makan-Makan Parlementaria Polhukrim Entertaiment Catatan

Ramadan Berbarengan Imlek, Tokoh Agama Tarakan Ajak Perkuat Silaturahmi

Beraupost • Rabu, 18 Februari 2026 | 08:45 WIB
KHUSYUK: Umat Tionghoa melaksanakan ibadah di Klenteng Toa Pek Kong, Senin (16/2) malam. (SEPTIAN ASMADI/HRK)
KHUSYUK: Umat Tionghoa melaksanakan ibadah di Klenteng Toa Pek Kong, Senin (16/2) malam. (SEPTIAN ASMADI/HRK)

HARIAN RAKYAT KALTARA – Pertunjukan barongsai dalam perayaan Tahun Baru Imlek di Kota Tarakan kembali digelar dengan semarak, Senin (16/2) malam.

Selain menjadi bagian dari tradisi masyarakat Tionghoa, kegiatan ini juga dimaknai sebagai simbol penghormatan terhadap klenteng, serta bentuk pelestarian seni budaya yang telah diwariskan secara turun-temurun.

Ketua Majelis Agama Khonghucu Indonesia (MAKIN) Tarakan Ayi Diyanto menjelaskan, setiap kelompok barongsai yang akan tampil wajib terlebih dahulu “permisi” atau meminta izin di klenteng.

"Barongsai ini setiap tahun mengadakan pertunjukan di klenteng. Secara simbolis mereka permisi dulu kepada tuan tanah klenteng. Baru kemudian melakukan pertunjukan dari rumah ke rumah,"ujar Ayi.

Ia menuturkan, tradisi permisi tersebut tidak hanya dilakukan saat Imlek. Tetapi juga ketika tim barongsai hendak mengikuti perlombaan ke luar daerah.

Klenteng dipandang sebagai tempat asal dan pusat spiritual barongsai. Sehingga para pemain harus menunjukkan sikap hormat sebelum tampil.

Menurut Ayi, barongsai merupakan seni tari tradisional yang identik dengan singa dan berbeda dengan tarian naga. Jika tarian naga biasanya dimainkan oleh sekitar 10 orang.

Barongsai hanya dimainkan oleh dua orang, dengan iringan delapan orang penabuh gendang.

"Barongsai itu seni, tarian. Di Tarakan kita fokus barongsai lompat tiang. Bahkan pernah mewakili Kalimantan Utara dan meraih medali emas di PON di Aceh-Sumatera Utara," ungkapnya.

Tahun ini, perayaan Imlek bertepatan dengan Bulan Suci Ramadan. Kondisi tersebut, kata Ayi, menjadi momentum penting untuk semakin memperkuat toleransi antarumat beragama.

Sebagai tokoh agama sekaligus pengurus klenteng dan Wakil Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Tarakan, Ayi mengaku telah menginstruksikan para pemain barongsai agar membatasi jam tampil.

"Kalau tampil di bulan puasa, kita sampai jam 7 malam saja. Supaya tidak mengganggu umat Islam yang akan melaksanakan salat tarawih," katanya.

Antusiasme masyarakat terhadap pertunjukan barongsai juga terbilang tinggi. Ayi memperkirakan sekitar 600 umat Khonghucu hadir di klenteng, ditambah ratusan masyarakat umum yang datang menonton.

"Kalau cuaca mendukung seperti hari ini, penonton ramai. Masyarakat sudah menunggu sejak sore," ucapnya.

Ayi juga menyampaikan semoga umat Muslim dapat melaksanakan ibadah puasa dengan khusyuk dan lancar.

Ia juga mengungkapkan rencana silaturahmi dan open house pada hari terakhir rangkaian Imlek, yang akan dihadiri unsur pemerintah daerah, FKUB, dan Forkopimda. Sebagai bentuk kebersamaan serta penguatan toleransi di Kota Tarakan. (sas/uno)

Editor : Nurismi
#perayaan imlek #ramadan #Pertunjukan Barongsai