HARIAN RAKYAT KALTARA — Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Kalimantan Utara (Kaltara) menggelar uji kompetensi chef bersertifikat melalui kegiatan Cook and Chef de Partie.
Ini sebagai upaya memastikan kualitas dan keamanan pangan pada dapur-dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di seluruh Kaltara.
Ketua HIPMI Kaltara Ade Kurniawan mengatakan, sertifikasi chef menjadi salah satu syarat utama dalam pengelolaan dapur SPPG. Mengingat dapur tersebut melayani produksi makanan dalam jumlah besar.
“Sertifikasi ini berada di bawah lembaga resmi yang ditugaskan BNSP. Chef yang mengelola SPPG wajib memiliki kompetensi dan sertifikat,” ujarnya.
Menurut Ade, Kaltara saat ini belum memiliki lembaga sertifikasi chef secara mandiri. Karena itu, HIPMI Kaltara berinisiatif menghadirkan uji kompetensi sebagai langkah awal standarisasi.
“Tujuannya agar chef di lapangan benar-benar memenuhi standar. Baik dari sisi keterampilan memasak maupun pengelolaan dapur yang higienis,” jelasnya.
Sebanyak 24 peserta mengikuti uji kompetensi tersebut. Sekitar 90 persen di antaranya merupakan chef yang telah memiliki dapur operasional, baik di Tarakan, Bulungan, Nunukan, Malinau, maupun wilayah lainnya.
Melalui uji kompetensi ini, HIPMI Kaltara berharap dapur-dapur SPPG di daerah dapat dikelola oleh chef yang profesional dan tersertifikasi.
Sehingga makanan yang disajikan tidak hanya layak konsumsi, tetapi juga aman bagi masyarakat.
Sementara itu, asesor kegiatan, Chef Bambang Murtianto menegaskan, kompetensi chef tidak hanya diukur dari cita rasa. Tetapi juga dari manajemen keamanan pangan.
“Mulai dari pemilihan bahan baku, penyimpanan, proses memasak, hingga pasca-masak harus sesuai standar. Ini yang kami nilai,” katanya.
Ia menambahkan, kesalahan penanganan pasca-masak, terutama pada masakan porsi besar, berpotensi menimbulkan kerusakan makanan dan risiko kontaminasi.
“Masakan harus melalui proses pendinginan yang benar sebelum dikemas atau disajikan. Tidak bisa langsung dalam jumlah besar sekaligus,” ujarnya.
Dalam uji kompetensi, terdapat empat indikator penilaian, yakni faktor manusia (pengetahuan dan keterampilan), kualitas bahan baku, kebersihan peralatan, serta proses pasca-masak. (sas/uno)
Editor : Nurismi