Utama Pemerintahan Sanggam Kaltara Ekonomi Kombis Gaya Hidup All Sport Makan-Makan Parlementaria Polhukrim Entertaiment Catatan

Daya Beli Petani Kaltara Tertekan di Awal 2026, Nilai Tukar Petani Turun ke Angka 116,68

Beraupost • Minggu, 8 Februari 2026 | 08:05 WIB
PERTANIAN: Penurunan NTP dipengaruhi melemahnya kinerja sebagian besar subsektor pertanian, khususnya tanaman pangan, hortikultura, dan perkebunan rakyat. (FAISAL/HRK)
PERTANIAN: Penurunan NTP dipengaruhi melemahnya kinerja sebagian besar subsektor pertanian, khususnya tanaman pangan, hortikultura, dan perkebunan rakyat. (FAISAL/HRK)

HARIAN RAKYAT KALTARA— Daya beli petani di Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara) mengalami tekanan pada awal tahun 2026.

Badan Pusat Statistik (BPS) Kaltara mencatat Nilai Tukar Petani (NTP) pada Januari 2026 turun 0,34 persen dibandingkan Desember 2025, dari 117,08 menjadi 116,68.

Kepala BPS Kaltara Mustaqim menjelaskan, penurunan NTP tersebut dipengaruhi oleh melemahnya kinerja sebagian besar subsektor pertanian, khususnya tanaman pangan, hortikultura, dan perkebunan rakyat.

Kondisi ini mencerminkan bahwa harga yang diterima petani cenderung turun, sementara biaya yang dikeluarkan justru mengalami kenaikan.

“Pada Januari 2026, Indeks Harga yang Diterima Petani (It) turun 0,25 persen, sementara Indeks Harga yang Dibayar Petani (Ib) justru naik 0,09 persen. Ini yang menyebabkan NTP secara umum mengalami penurunan,” bebernya, Jumat (6/2).

Subsektor tanaman pangan mengalami penurunan NTP sebesar 0,05 persen, hortikultura turun cukup dalam sebesar 0,34 persen, dan tanaman perkebunan rakyat turun paling tajam yakni 1,32 persen.

Penurunan ini terutama dipicu oleh melemahnya harga komoditas hasil perkebunan rakyat dan hortikultura di tingkat petani.

Di sisi lain, tidak semua subsektor mengalami pelemahan. Subsektor peternakan justru mencatat kenaikan NTP sebesar 0,22 persen, didorong oleh meningkatnya harga unggas dan hasil ternak.

“Untuk subsektor perikanan juga mengalami kenaikan tipis sebesar 0,07 persen, terutama dari perikanan tangkap,” jelasnya.

Ia menambahkan, kenaikan Indeks Harga yang Dibayar Petani dipicu oleh meningkatnya pengeluaran rumah tangga petani serta biaya produksi dan penambahan barang modal.

Kenaikan Ib terjadi hampir di seluruh subsektor, sehingga menambah beban biaya yang harus ditanggung petani.

“Meski secara umum NTP masih berada di atas angka 100, yang berarti petani masih mengalami surplus. Namun tren penurunan ini perlu menjadi perhatian, terutama pada awal tahun,” ungkapnya.

BPS Kaltara menilai NTP ini mencerminkan tantangan yang masih dihadapi sektor pertanian. Khususnya dalam menjaga stabilitas harga hasil produksi dan menekan biaya produksi. (fai/uno)

Editor : Nurismi
#daya beli petani #BPS Kaltara #hortikulktura