Utama Pemerintahan Sanggam Kaltara Ekonomi Kombis Gaya Hidup All Sport Makan-Makan Parlementaria Polhukrim Entertaiment Catatan

Menteri Kehutanan di Tarakan: Lahan Basah Kaltara Adalah Kunci Penyelamat Karbon Dunia

Beraupost • Sabtu, 7 Februari 2026 | 09:10 WIB
KUNJUNGI KKMB. Menhut RI Raja Juli Antoni kunjungi KKMB didampingi Gubernur Kaltara Zainal Arifin Paliwang, Jumat (6/2). (SEPTIAN ASMADI/HRK)
KUNJUNGI KKMB. Menhut RI Raja Juli Antoni kunjungi KKMB didampingi Gubernur Kaltara Zainal Arifin Paliwang, Jumat (6/2). (SEPTIAN ASMADI/HRK)

HARIAN RAKYAT KALTARA — Menteri Kehutanan Republik Indonesia Raja Juli Antoni menegaskan, lahan basah bukan sekadar wilayah tergenang air, melainkan ekosistem strategis yang menyimpan keanekaragaman hayati tinggi, potensi ekonomi besar. Serta berperan penting dalam penyerapan karbon.

Karena itu, pelestarian lahan basah harus dilakukan dengan memadukan sains modern dan kearifan lokal yang telah diwariskan turun-temurun oleh masyarakat.

Hal tersebut disampaikan Raja Juli Antoni saat menghadiri peringatan Hari Lahan Basah Sedunia (World Wetlands Day) di Tarakan, Jumat (6/2).

Tahun ini, peringatan mengusung tema Wetlands and Traditional Knowledge, Celebrating Cultural Heritage atau Lahan Basah dan Pengetahuan Tradisional: Merayakan Warisan Budaya.

Menurut Raja Juli, riset modern telah memberikan banyak kemajuan dalam pengelolaan kehutanan dan lingkungan hidup.

Namun, pengetahuan tradisional atau local wisdom juga merupakan sumber informasi penting yang perlu diakui, dihargai, dan diinstitusionalisasikan dalam kebijakan.

“Pengetahuan tradisional ini adalah satu sumber ilmu yang luar biasa. Masyarakat kita sejak zaman nenek moyang sudah memahami sistem pasang surut, sistem pertanian di lahan basah, hingga pola migrasi burung di kawasan basah,” ujarnya.

Ia menilai, pengalaman panjang masyarakat dalam berinteraksi dengan alam merupakan modal besar untuk melengkapi penelitian yang dilakukan oleh universitas maupun lembaga riset.

Dengan penggabungan dua pendekatan tersebut, kebijakan pengelolaan lahan basah diyakini akan semakin kuat dan berkelanjutan.

Raja juga mengingatkan, Indonesia merupakan negara anggota Konvensi Ramsar dan telah mendaftarkan delapan situs penting sebagai lahan basah berstatus internasional.

Hal ini menunjukkan komitmen Indonesia dalam menjaga ekosistem basah sebagai bagian dari tanggung jawab global.

Lebih jauh, ia menyebut Indonesia sebagai salah satu negara dengan kekayaan lahan basah terbesar di dunia.

Sekitar 23 persen lahan basah dunia berada di Indonesia, termasuk kawasan gambut tropis terluas.

“Kita ini negara yang sangat diberkahi. Kita memiliki lahan basah yang sangat luas dan gambut tropis terbesar di dunia. Ini adalah anugerah Tuhan yang harus kita jaga bersama-sama,” terangnya.

Selain sebagai penyangga kehidupan, lahan basah juga dinilai memiliki nilai strategis bagi kesejahteraan masyarakat.

Ekosistem mangrove, rawa, dan gambut dapat menjadi sumber ekonomi, pengembangan ekowisata, hingga penopang ketahanan pangan jika dikelola secara bijak.

Raja menegaskan pentingnya kolaborasi lintas sektor dan lintas negara dalam menjaga lahan basah.

Pemerintah pusat, pemerintah daerah, akademisi, komunitas, hingga mitra internasional diharapkan dapat berbagi peran dan tanggung jawab.

“Kita berbagi kerja, berbagi tugas. Bersama-sama menjaga mangrove, biodiversitas, dan seluruh ekosistem lahan basah. Agar tetap lestari sekaligus memberi manfaat bagi kesejahteraan masyarakat, khususnya di Kaltara dan Indonesia,” ujarnya.

Ia pun menyatakan terbuka terhadap kerja sama seluas-luasnya dengan pemerintah daerah dan para pemangku kepentingan untuk memperkuat perlindungan lahan basah.

“Selamat Hari Lahan Basah Sedunia. Semoga peringatan ini menjadi momentum rasa syukur. Sekaligus menggerakkan kita untuk melindungi lahan basah secara bersama-sama,” pungkas Raja. (sas/uno)

Editor : Nurismi
#menteri kehutanan #kunjungan #raja juli