Utama Pemerintahan Sanggam Kaltara Ekonomi Kombis Gaya Hidup All Sport Makan-Makan Parlementaria Polhukrim Entertaiment Catatan

Siap Tembus Pasar India dan Korea, Ini Syarat Kaltara Jadi Daerah Pengirim Ekspor Mandiri

Beraupost • Sabtu, 7 Februari 2026 | 08:55 WIB
LUSTRASI: Kaltara dikenal sebagai salah satu sentra produksi rumput laut, namun sebagian besar hasil panen masih dikirim antarwilayah sebelum diekspor. (HRK)
LUSTRASI: Kaltara dikenal sebagai salah satu sentra produksi rumput laut, namun sebagian besar hasil panen masih dikirim antarwilayah sebelum diekspor. (HRK)

HARIAN RAKYAT KALTARA - Karantina Kalimantan Utara (Kaltara) mendorong pembukaan jalur ekspor langsung dari daerah untuk komoditas unggulan, agar Kalimantan Utara tidak lagi hanya berperan sebagai pemasok bahan baku.

Melainkan mampu menjadi daerah pengirim (exporting region) ke pasar internasional.

Kepala Karantina Kaltara Ichi Langlang Buana Machmud mengatakan, peran karantina saat ini tidak hanya sebatas pengawasan lalu lintas komoditas.

Tetapi juga sebagai instrumen ekonomi (economic tools) yang mendukung penguatan perdagangan luar negeri dari daerah.

Menurut Ichi, selama ini sejumlah komoditas asal Kaltara sebenarnya telah menembus pasar ekspor.

Namun, pengirimannya masih dilakukan melalui provinsi lain, seperti Sulawesi Selatan dan Jawa Timur.

“Produk dari Kalimantan Utara sudah diekspor, tetapi dikirim lewat daerah lain. Yang sedang kami dorong adalah bagaimana pengiriman itu bisa dilakukan langsung dari sini, sehingga nilai tambahnya juga dirasakan daerah,” ujarnya, Jumat (6/2).

Salah satu komoditas yang menjadi fokus awal adalah rumput laut. Kaltara dikenal sebagai salah satu sentra produksi rumput laut, namun sebagian besar hasil panen masih dikirim antarwilayah sebelum diekspor.

“Ekspor langsung rumput laut dari Kaltara baru pernah dilakukan satu kali ke Korea Selatan. Selebihnya masih bersifat pengiriman ke daerah lain,” jelasnya.

Dari sisi kesiapan infrastruktur, Ichi menilai peluang ekspor langsung cukup terbuka. Fasilitas pelabuhan tersedia, jalur pelayaran memungkinkan, dan komoditasnya pun ada.

Karantina Kaltara telah melakukan koordinasi dengan PT Pelindo, kelompok nelayan rumput laut, perusahaan ekspedisi, hingga pihak pelayaran untuk memetakan peluang tersebut.

“Barangnya ada, pelabuhan ada, jalur pelayaran juga ada. Tinggal bagaimana semua pihak bisa terhubung dan berjalan dalam satu sistem,” katanya.

Meski demikian, terdapat sejumlah tantangan yang masih perlu dikaji lebih dalam, terutama terkait biaya logistik dan kebutuhan volume muatan.

Menurut Ichi, ekspor langsung mensyaratkan jumlah muatan tertentu, minimal satu container.

Sehingga kapasitas produksi di daerah harus mampu memenuhi kebutuhan tersebut secara berkelanjutan.

“Ini yang sedang kami lihat, kapasitas produksi di sini berapa, apakah bisa memenuhi minimal muatan kontainer secara rutin,” ujarnya.

Ichi menegaskan, peran pemerintah daerah sangat penting dalam mendorong realisasi ekspor langsung.

Mulai dari konsolidasi data produksi, penguatan kelembagaan pelaku usaha, hingga kebijakan lintas sektor.

“Kita perlu duduk bersama mencari apa kendalanya, apakah di logistik, biaya, atau volume muatan. Kalau itu terpetakan, solusinya bisa dicari,” ungkapnya.

Selain mendorong sisi pasokan, Karantina Kaltara juga membuka peluang mempertemukan pelaku usaha lokal dengan calon pembeli luar negeri sebagai langkah percepatan ekspor.

“Beberapa waktu lalu ada calon pembeli dari India yang datang dan meminta informasi. Ini peluang yang harus dimanfaatkan,” ujarnya.

Sementara itu, dari sisi impor, Karantina Kalimantan Utara mencatat belum adanya data impor yang tercatat secara resmi dalam sistem.

“Di data kami masih nol, padahal secara faktual ada peredaran daging, ternak, dan produk tumbuhan. Ini menunjukkan masih perlunya penataan bersama,” tutup Ichi. (sas/uno)

Editor : Nurismi
#ekspor #Kaltara #rumput laut #mandiri