Utama Pemerintahan Sanggam Kaltara Ekonomi Kombis Gaya Hidup All Sport Makan-Makan Parlementaria Polhukrim Entertaiment Catatan

BPS Kaltara Ungkap Ketergantungan Makan di Luar Rumah Picu Inflasi Januari 2026

Beraupost • Kamis, 5 Februari 2026 | 08:05 WIB
ANDIL INFLASI: Kelompok penyediaan makanan dan minuman memberikan sumbangan inflasi secara bulanan pada Januari 2026 sebesar 0,05 persen. (FAISAL/HRK)
ANDIL INFLASI: Kelompok penyediaan makanan dan minuman memberikan sumbangan inflasi secara bulanan pada Januari 2026 sebesar 0,05 persen. (FAISAL/HRK)

HARIAN RAKYAT KALTARA — Kenaikan harga makanan siap saji menjadi salah satu pemicu inflasi di Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara) pada awal tahun 2026.

Badan Pusat Statistik (BPS) Kaltara mencatat, kelompok pengeluaran penyediaan makanan dan minuman/restoran mengalami inflasi tahunan (year on year/y-on-y) sebesar 2,52 persen pada Januari 2026.

Kepala BPS Kaltara Mustaqim menjelaskan, inflasi tersebut tercermin dari kenaikan indeks kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran yang meningkat dari 106,84 pada Januari 2025 menjadi 109,53 pada Januari 2026.

Dalam kelompok ini, hanya terdapat satu subkelompok pengeluaran, yakni jasa pelayanan makanan dan minuman, yang juga mengalami inflasi y-on-y sebesar 2,52 persen.

“Kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran memberikan andil inflasi y-on-y sebesar 0,22 persen terhadap inflasi Kalimantan Utara pada Januari 2026,” bebernya, Selasa (3/2) lalu.

Ia mengungkapkan, komoditas makanan yang kerap dikonsumsi masyarakat menjadi pendorong utama inflasi tahunan di kelompok ini.

Nasi dengan lauk tercatat sebagai penyumbang terbesar dengan andil inflasi sebesar 0,10 persen.

“Selain itu, ayam goreng, ikan goreng, dan bakso siap santap masing-masing memberikan andil sebesar 0,02 persen,” sebut dia.

Menurut Mustaqim, tingginya kontribusi makanan siap saji menunjukkan kuatnya ketergantungan masyarakat terhadap konsumsi makanan dari luar rumah.

Kondisi ini membuat pergerakan harga di sektor restoran dan rumah makan berpengaruh langsung terhadap inflasi daerah.

Selain inflasi tahunan, kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran juga memberikan sumbangan inflasi secara bulanan (month to month/m-to-m) pada Januari 2026 sebesar 0,05 persen.

“Lagi-lagi, nasi dengan lauk menjadi komoditas dominan yang menyumbang inflasi m-to-m, dengan andil sebesar 0,03 persen,” imbuhnya.

Ia menambahkan, kenaikan harga pada sektor ini dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari harga bahan baku, biaya distribusi, hingga biaya operasional usaha makanan dan minuman.

Di sisi lain, permintaan masyarakat yang relatif stabil turut menjaga tren kenaikan harga.

“Kelompok ini perlu menjadi perhatian karena berkaitan langsung dengan pola konsumsi harian masyarakat,” ujarnya. (fai/uno)

Editor : Nurismi
#makanan #BPS Kaltara #Sektor