HARIAN RAKYAT KALTARA — Produksi beras di Kabupaten Bulungan pada 2025 masih belum sepenuhnya mampu memenuhi kebutuhan masyarakat.
Dari total kebutuhan sekitar 16 ribu ton beras per tahun. Produksi daerah baru mencapai kurang lebih 12 ribu ton.
Kondisi ini menyebabkan defisit sekitar 4 ribu ton yang hingga kini masih harus dipenuhi dari pasokan luar daerah.
Kepala Dinas Pertanian Bulungan Kristiyanto mengatakan, meskipun masih terjadi kekurangan, pemerintah daerah terus berupaya meningkatkan produksi beras melalui berbagai strategi.
Terutama perluasan areal tanam dan optimalisasi lahan pertanian.
“Kondisi ini menjadi perhatian kami. Kekurangan beras saat ini masih dipenuhi dari luar daerah. Namun kami terus mendorong peningkatan produksi agar ke depan Bulungan bisa mandiri,” ujarnya, Jumat (23/1).
Salah satu langkah yang telah dilakukan, peningkatan luas tambah tanam (LTT) padi. Pada periode 2024 ke 2025, LTT padi di Kabupaten Bulungan tercatat mengalami kenaikan signifikan hingga sekitar 83 persen.
Jika pada 2024 luas tanam hanya sekitar 2.100 hektare. Maka pada 2025 meningkat menjadi sekitar 3.900 hektare. Selain peningkatan LTT, pemerintah daerah juga melakukan pencetakan sawah baru.
“Sepanjang 2025, lahan sawah yang berhasil dicetak mencapai sekitar 800 hektare. Lahan itu kini telah difungsikan untuk mendukung peningkatan produksi padi di Bulungan,” jelasnya.
Dengan rata-rata produktivitas gabah sekitar 4 ton per hektare, lahan sawah baru tersebut diperkirakan mampu menghasilkan sekitar 1.800 ton beras dalam satu kali musim tanam.
Kontribusi ini dinilai cukup signifikan dalam menekan defisit produksi beras daerah.
Tidak berhenti di situ, pada 2026 Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bulungan kembali mengusulkan pencetakan sawah baru seluas sekitar 1.000 hektare kepada Kementerian Pertanian.
“Usulan ini menjadi bagian dari strategi jangka menengah, untuk memperkuat ketahanan pangan daerah,” ujarnya.
Peningkatan luas tanam tersebut akan dikombinasikan dengan optimalisasi pola tanam dua kali dalam setahun.
Dengan skema tersebut, produksi beras Bulungan pada 2026 diperkirakan dapat melampaui angka kebutuhan daerah.
Dengan tambahan luas tanam dan pola tanam yang optimal, maka produksi beras Bulungan berpotensi mencapai lebih dari 16 ribu ton pada 2026.
Ia menegaskan, proyeksi tersebut disusun berdasarkan perhitungan produksi riil di lapangan, bukan sekadar target administratif. Ini hitungan berdasarkan luas tanam dan produktivitas.
Jika semua berjalan sesuai rencana, kebutuhan beras masyarakat Bulungan seharusnya sudah bisa terpenuhi. (fai/uno)
Editor : Nurismi