Utama Pemerintahan Sanggam Kaltara Ekonomi Kombis Gaya Hidup All Sport Makan-Makan Parlementaria Polhukrim Entertaiment Catatan

Bukan Sekadar Pembinaan, Produk Narapidana Lapas Tarakan Kini Tembus Kafe dan Miliki Galeri Sendiri!

Beraupost • Kamis, 22 Januari 2026 | 10:40 WIB
PEMBINAAN NAPI: Ruang galeri di Lapas Kelas II A Tarakan jadi andalan memasarkan produk warga binaan. (SEPTIAN ASMADI/HRK)
PEMBINAAN NAPI: Ruang galeri di Lapas Kelas II A Tarakan jadi andalan memasarkan produk warga binaan. (SEPTIAN ASMADI/HRK)

HARIAN RAKYAT KALTARA - Upaya pembinaan kemandirian warga binaan di Lapas Kelas IIA Tarakan kini memasuki babak baru.

Lapas tersebut resmi memiliki galeri pemasaran tetap untuk menyalurkan hasil karya narapidana. Agar mampu bersaing di pasar dan menjadi bekal ekonomi setelah bebas.

Galeri bertajuk Giatja itu diresmikan Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Kalimantan Timur Endang Lintang Hardiman, saat melakukan kunjungan kerja dan monitoring evaluasi operasional teknis pemasyarakatan, Selasa (20/1) lalu.

Peresmian galeri menjadi bagian dari strategi pemasyarakatan untuk mendorong warga binaan tidak hanya dibina secara mental.Tetapi juga dibekali keterampilan produktif dan jiwa kewirausahaan.

Kasubag Tata Usaha Lapas Kelas II A Tarakan Slamet Hariyadi mengatakan, kehadiran galeri memberi ruang pemasaran yang lebih terbuka bagi produk hasil pelatihan kerja warga binaan.

“Beliau menilai pelayanan dan pembinaan di Lapas Kelas II A Tarakan sudah berjalan sesuai standar. Galeri ini menjadi bukti nyata hasil pembinaan kemandirian,” ujarnya, Rabu (21/1).

Dalam kunjungan tersebut, Kanwil Ditjenpas Kaltim juga meninjau sejumlah fasilitas utama lapas. Mulai dari layanan kunjungan, dapur, klinik kesehatan hingga sistem keamanan.

Dapur lapas mendapat apresiasi khusus karena dinilai memenuhi standar kebersihan dan pelayanan.

Kepala Seksi Kegiatan Kerja Lapas Kelas II A Tarakan Andika Abrian menjelaskan, galeri dibangun sejak tahun lalu dengan memanfaatkan anggaran pelatihan kerja. Agar hasil produksi warga binaan benar-benar bernilai ekonomis.

“Selama ini pemasaran melalui UMKM dan Pasar Batu. Sekarang masyarakat bisa langsung membeli di galeri depan lapas,” katanya.

Produk yang dipasarkan beragam, mulai dari makanan ringan seperti amplang udang, kerajinan tangan, lukisan hingga hasil pertukangan seperti kursi dan pagar. Harga disesuaikan dengan harga pasar, sehingga tetap kompetitif.

“Amplang udang kami jual Rp 10 ribu per bungkus. Produksi rata-rata satu kilogram per hari dan sudah masuk ke beberapa kafe,” tambah Andika.

Keberadaan Galeri Giatja diharapkan menjadi jembatan reintegrasi sosial bagi warga binaan.

Sekaligus membuktikan bahwa lembaga pemasyarakatan tidak hanya berfungsi sebagai tempat pembinaan. Tetapi juga pusat pengembangan sumber daya manusia produktif. (sas/uno)

Editor : Nurismi
#warga binaan lapas #pembinaan kemandirian