Utama Pemerintahan Sanggam Kaltara Ekonomi Kombis Gaya Hidup All Sport Makan-Makan Parlementaria Polhukrim Entertaiment Catatan

Mata Rantai Putus di Bawah! BNNP Kaltara Beberkan Rahasia Bandar Narkoba Selumit Pantai Sulit Dijerat

Beraupost • Kamis, 15 Januari 2026 | 10:10 WIB
BERANTAS NARKOBA: Pelaksana Tugas Kepala BNNP Kaltara Agus Surya Dewi (dua dari kanan) menilai peredaran narkoba dinilai masih bersifat kambuhan dan terus berulang. (HRK)
BERANTAS NARKOBA: Pelaksana Tugas Kepala BNNP Kaltara Agus Surya Dewi (dua dari kanan) menilai peredaran narkoba dinilai masih bersifat kambuhan dan terus berulang. (HRK)

HARIAN RAKYAT KALTARA — Keluhan masyarakat terkait dugaan kembali maraknya peredaran narkotika di kawasan Selumit Pantai menjadi sinyal kuat, bahwa penanganan persoalan narkoba di wilayah tersebut belum tuntas.

Meski berbagai operasi penindakan telah dilakukan, peredaran narkoba dinilai masih bersifat "kambuhan" dan terus berulang.

Pelaksana Tugas Kepala Badan Narkotika Nasional Provinsi Kaltara Agus Surya Dewi mengungkapkan, fenomena naik-turun peredaran narkoba merupakan pola klasik di wilayah rawan.

Saat aparat gencar melakukan penindakan, aktivitas peredaran biasanya mereda. Namun tidak berselang lama kembali muncul secara perlahan.

“Ketika kita represif, mereka menghilang. Tapi seiring waktu, muncul satu-satu lagi. Ini pemain lama, kambuhan. Itu yang menjadi pekerjaan rumah terbesar,” ujar Dewi.

Ia menegaskan, penanganan narkoba tidak bisa hanya mengandalkan aparat penegak hukum.

Upaya penindakan tanpa dukungan kolektif dari seluruh pemangku kepentingan hanya akan menghasilkan penurunan sementara, bukan penyelesaian jangka panjang.

Menurutnya, Selumit Pantai membutuhkan komitmen bersama yang sungguh-sungguh. Mulai dari aparat keamanan, pemerintah daerah, hingga masyarakat setempat. Tanpa itu, berbagai deklarasi dan operasi hanya akan menjadi seremonial.

“Kalau hanya BNN dan kepolisian yang bergerak, itu tidak cukup. Harus ada komitmen dari pemerintah kota, kelurahan, RT, dan masyarakatnya sendiri. Kalau masih ada yang setengah hati, bahkan melindungi pelaku karena menerima keuntungan. Maka masalah ini tidak akan pernah selesai,” tegasnya.

Dewi mencontohkan pengalaman penanganan kawasan rawan narkoba di Surabaya yang berhasil ditekan.

Karena adanya kesepakatan dan keberanian seluruh warga untuk menolak peredaran narkoba di lingkungannya.

Sebaliknya, di Selumit Pantai, masih ditemukan kondisi masyarakat yang belum sepenuhnya mendukung upaya pemberantasan.

“Masih ada yang melindungi karena terima persentase. Ini persoalan serius. Kalau masyarakatnya sendiri belum sepenuh hati ingin bersih, aparat akan kesulitan,” ungkapnya.

Ia juga mengakui tantangan besar dalam membongkar jaringan bandar narkoba. Banyak pelaku yang tertangkap memilih bungkam.

Karena adanya jaminan keamanan bagi keluarga mereka, sehingga mata rantai peredaran kerap terputus di tingkat bawah.

“Yang tertangkap biasanya tidak mau bicara. Mereka takut, karena ada jaminan keamanan keluarga selama mereka diam. Ini yang membuat bandar besar sulit dijerat,” jelas Dewi.

Ke depan, pihaknya berencana menginisiasi forum diskusi kelompok (FGD) dengan melibatkan seluruh stakeholder di Kota Tarakan.

Untuk merumuskan langkah terpadu dan berkelanjutan dalam menuntaskan persoalan Selumit Pantai.

“Kami tidak ingin hanya deklarasi, lalu hilang, kemudian muncul lagi. Harus ada langkah nyata dan berkesinambungan. Ini sudah darurat, tidak bisa dikerjakan sendiri-sendiri,” katanya.

Dewi juga mendorong peran media untuk terus mengangkat isu ini secara konsisten. Agar seluruh pihak terdorong untuk bergerak bersama.

“Media punya peran penting. Supaya semua pihak, dari pemerintah, DPR, sampai masyarakat, merasa terpanggil. Kuncinya satu, komitmen bersama,” tegasnya. (sas/uno)

Editor : Nurismi
#peredaran narkoba #bandar narkboba #BNNP Kaltara