HARIAN RAKYAT KALTARA— Kota Tarakan semakin mengukuhkan diri sebagai salah satu titik panas peredaran narkotika di Kalimantan Utara (Kaltara).
Sepanjang 2025, kepolisian mencatat lonjakan tajam barang bukti narkoba. Terutama sabu-sabu, yang jumlahnya melonjak lebih dari tiga kali lipat dibanding tahun sebelumnya.
Data Polres Tarakan menunjukkan, total sabu yang disita sepanjang 2025 mencapai 8,6 kg lebih, naik drastis dari 2,5 kg pada 2024.
Kenaikan ini tidak hanya mencerminkan tingginya peredaran. Tetapi juga intensitas penindakan aparat yang semakin agresif memburu jaringan pengedar.
Kapolres Tarakan AKBP Erwin Syaputra Manik mengatakan, peningkatan sejalan dengan naiknya jumlah perkara yang ditangani Satresnarkoba.
Pada 2024, polisi menyelesaikan 59 kasus narkotika, sedangkan pada 2025 meningkat menjadi 68 perkara.
“Ini menunjukkan upaya penindakan kita makin intens. Targetnya bukan hanya pengguna, tetapi juga jaringan pengedar,” ujar Erwin.
Lonjakan juga terlihat dari jumlah pelaku yang diamankan. Sepanjang 2025, polisi menangkap 94 orang, naik dari 79 pelaku pada 2024. Mayoritas pelaku merupakan laki-laki, yang jumlahnya meningkat signifikan.
Selain sabu, polisi juga mengamankan puluhan pil ekstasi, menandakan bahwa peredaran narkotika di Tarakan tidak hanya terbatas pada satu jenis.
“Ini perang panjang. Tapi kami pastikan, Tarakan tidak akan dibiarkan menjadi surga bagi pengedar narkoba,” tegas Kapolres.
KBO Satresnarkoba Polres Tarakan IPTU Juani Aing mengungkapkan, jalur laut masih menjadi pintu masuk utama narkoba ke Tarakan. Modus yang digunakan jaringan pengedar pun relatif sama.
Barang dititipkan kepada penumpang umum atau disembunyikan untuk mengelabui petugas.
“Barang sering dititipkan lewat penumpang kapal. Di wilayah pesisir, narkoba bahkan disembunyikan di tambak, ada yang ditanam, ada yang ditaruh sementara sebelum diedarkan,” jelasnya.
Wilayah pesisir dan kawasan padat penduduk seperti Selumit dan Juwata masih menjadi titik rawan.
Meski begitu, patroli dan razia rutin terus dilakukan sebagai bagian dari program kampung bebas narkoba.
“Walau keterbatasan waktu dan personel, anggota tetap kita turunkan. Alhamdulillah, laporan masyarakat dari wilayah itu mulai menurun,” kata Juani.
Polres Tarakan memastikan pengawasan di pelabuhan, bandara, perairan, dan kawasan pesisir akan terus diperketat.
Dengan lonjakan barang bukti yang besar, polisi menilai Tarakan kini bukan sekadar daerah lintasan. Tetapi sudah menjadi salah satu target utama jaringan narkotika. (sas/uno)
Editor : Nurismi