HARIAN RAKYAT KALTARA — Sepanjang tahun 2025, Kantor Pencarian dan Pertolongan (SAR) Tarakan mencatat tren penurunan jumlah operasi dibanding tahun sebelumnya.
Meski begitu, tantangan terbesar yang dihadapi tetap datang dari wilayah perairan. Terutama di kawasan Bulungan yang memiliki wilayah laut sangat luas dan rawan kecelakaan.
Kepala Seksi Operasi Kantor SAR Tarakan Dede Hariana mengungkapkan, selama 2025 menangani sekitar 20 operasi SAR. Dari jumlah tersebut, hampir seluruhnya merupakan kecelakaan di laut.
“Kalau kita lihat rekap satu tahun ini, alhamdulillah jumlah operasi menurun. Total ada sekitar 20 operasi dan mayoritas itu kecelakaan kapal di perairan. Selebihnya ada kondisi membahayakan manusia, tapi tidak banyak,” ujarnya, Senin (12/1).
Menurut Dede, wilayah yang paling sering menjadi perhatian adalah perairan Bulungan.
Mengingat luasnya area dan tingginya aktivitas pelayaran masyarakat. Dalam setiap operasi SAR di perairan, tidak selalu korban berhasil ditemukan.
Namun pada 2025, SAR Tarakan mencatat hasil positif karena seluruh korban dari setiap operasi berhasil ditemukan.
“Alhamdulillah, di tahun ini semua korban berhasil kita temukan. Rata-rata satu operasi satu korban, jadi sekitar 20 orang. Ada yang selamat, ada juga yang meninggal dunia,” ungkap Dede.
Keberhasilan ini, menurutnya, tidak lepas dari kesiapsiagaan personel dan koordinasi dengan berbagai pihak di lapangan.
Meski cuaca kerap menjadi tantangan besar. Dede menjelaskan, cuaca ekstrem dan kelalaian menjadi dua faktor utama penyebab kecelakaan di perairan.
“Banyak kejadian karena cuaca yang tidak menentu dan juga faktor kelalaian. Tahun 2025 ini memang BMKG sering mengeluarkan peringatan cuaca ekstrem,” jelasnya.
Meski demikian, ia menegaskan, kondisi cuaca tidak pernah menjadi alasan untuk menghentikan operasi penyelamatan.
“Cuaca memang mempengaruhi, tapi bukan kendala besar. Kita tetap selalu siap. Yang penting keselamatan personel tetap diperhatikan saat turun ke lapangan,” katanya.
Dari sisi sarana dan prasarana, SAR Tarakan menilai peralatan yang ada saat ini masih mencukupi untuk mendukung operasi, baik di laut maupun di darat.
Namun pihaknya tetap mengusulkan penambahan alat untuk meningkatkan kemampuan penanganan di berbagai medan.
“Kita tetap ada pengusulan penambahan alut, baik di air maupun di darat. Yang paling dibutuhkan itu alat ekstrikasi di hutan, jungle, dan mountaineering. Serta peralatan selam di laut,” ujar Dede.
Ia menambahkan, secara umum kesiapan SAR Tarakan sudah memenuhi kebutuhan dasar operasi.
Tinggal peningkatan kapasitas untuk menghadapi medan yang lebih berat dan kompleks. (sas/uno)
Editor : Nurismi