HARIAN RAKYAT KALTARA — Penyelenggaraan angkutan laut selama masa Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2025—2026 di Kota Tarakan dinilai berjalan aman dan tertib.
Di tengah meningkatnya mobilitas masyarakat, Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Tarakan berhasil menekan sejumlah persoalan klasik.
Salah satunya praktik percaloan yang sebelumnya kerap meresahkan penumpang.
Kasi Lalu Lintas, Angkutan Laut dan Usaha Kepelabuhan KSOP Tarakan, Capt Umar Rahman mengatakan, meskipun terjadi lonjakan penumpang yang cukup signifikan.
Pelayanan dan pengawasan tetap dapat berjalan optimal selama pelaksanaan Posko Angkutan Laut Nataru.
“Selama Nataru ini, secara umum kondisi aman dan tertib. Tidak ada kejadian menonjol, termasuk praktik percaloan yang sebelumnya sering terjadi, kini sudah bisa diminimalisir,” ujarnya, Jumat (9/1).
Di sisi lain, peningkatan jumlah penumpang tetap menjadi tantangan tersendiri. KSOP Tarakan mencatat kenaikan aktivitas penumpang angkutan laut sejak 18 Desember 2025 hingga 8 Januari 2026, dengan lonjakan mencapai sekitar 40 persen dibandingkan hari normal.
Peningkatan tersebut didominasi oleh penumpang yang berangkat keluar dari Tarakan melalui Pelabuhan Malundung.
Data KSOP menunjukkan, puncak arus mudik terjadi pada 23 dan 24 Desember 2025. Pada 23 Desember, jumlah penumpang berangkat tercatat 2.185 orang.
Sementara yang tiba 1.093 orang. Sedangkan pada 24 Desember, penumpang berangkat mencapai 2.138 orang, dan penumpang tiba 1.398 orang.
Untuk arus balik terjadi pada 7 Januari 2026, dengan jumlah penumpang tiba sebanyak 2.634 orang dan penumpang berangkat 1.753 orang.
Data tersebut menunjukkan pergerakan penumpang keluar Tarakan masih lebih dominan dibandingkan yang masuk.
“Dari data yang kami rekap, pergerakan penumpang lebih banyak yang keluar dari Tarakan,” jelas Umar.
Mayoritas penumpang menggunakan kapal Pelni dengan tujuan antarpulau. Seperti Nunukan, Balikpapan, Pantoloan, Parepare, Makassar, Bau-bau, Maumere, Larantuka, Lewoleba, hingga Kupang.
Selain itu, rute regional Kaltara dan Sulawesi, seperti Sebatik, Paleleh, Kuandang, dan Ancam, juga terpantau padat.
Dalam pelaksanaan posko, KSOP Tarakan tidak hanya melakukan pengawasan di Pelabuhan Malundung, tetapi juga di Pelabuhan Feri Juwata.
Sementara Pelabuhan Tengkayu I Tarakan belum sepenuhnya terpantau. Karena adanya proses peralihan pengelolaan dari Balai Pengelola Transportasi Darat (BPTD) ke KSOP sejak 31 Desember 2025.
Dari sisi pelayanan, sistem penjualan tiket dinilai semakin tertata. Seluruh tiket hanya dilayani melalui loket resmi, disertai pemeriksaan barcode sebelum penumpang naik ke kapal.
Pengawasan juga diperketat di area terminal, khususnya saat penumpang menuju bus pengantar ke dermaga.
“Tidak ada laporan penumpang tertinggal kapal maupun kehilangan barang selama Nataru. Ini hasil kerja sama dan koordinasi dengan berbagai instansi,” tuturnya.
KSOP Tarakan menggandeng sejumlah pihak dalam pengamanan angkutan laut, antara lain Dinas Perhubungan, Kesatuan Penjagaan Laut dan Pantai (KPLP/KSKP), BMKG, serta Basarnas, guna memastikan keselamatan dan kelancaran pelayaran. (sas/uno)
Editor : Nurismi