HARIAN RAKYAT KALTARA — Keberhasilan Kalimantan Utara (Kaltara) merengkuh predikat sebagai provinsi paling rukun se-Indonesia tidak membuat Kanwil Kementerian Agama (Kemenag) Kaltara berpuas diri.
Memasuki tahun 2026, Kemenag Kaltara telah menyiapkan strategi khusus untuk menjaga "mahkota" toleransi tersebut. Agar tetap bersemi di Bumi Benuanta—sebutan lain Provinsi Kaltara.
Kepala Kanwil Kemenag Kaltara Muhammad Saleh menegaskan, komitmen menjaga semangat kebangsaan dan moderasi beragama adalah harga mati.
Kerukunan bukan sekadar angka statistik, melainkan pondasi utama bagi pembangunan daerah yang kokoh.
“Kita terus memiliki komitmen untuk menjaga dan memelihara semangat kebangsaan serta toleransi moderasi beragama di Kaltara.
Peran moderasi ini sangat penting sebagai pondasi kuat untuk mewujudkan pembangunan yang kokoh,” ujarnya, Selasa (6/1).
Mengadopsi Program Strategis Presiden enghadapi tantangan tahun 2026, pihaknya akan mengimplementasikan program Asta Protas.
Program ini merupakan penjabaran dari visi strategis Presiden, kemudian diturunkan menjadi program prioritas di lingkungan Kementerian Agama.
Salah satu poin krusial dalam Asta Protas tersebut, program Kerukunan dan Kemanusiaan.
Program ini akan difokuskan pada penguatan dialog lintas iman yang lebih terbuka dan menyentuh seluruh lapisan masyarakat.
“Tahun 2026 kita memiliki program prioritas bernama Asta Protas. Di dalamnya terdapat program kerukunan dan kemanusiaan. Ini modal besar kita untuk terus berkolaborasi membangun Kalimantan Utara,” jelasnya.
Dialog terbuka dan kekuatan akar rumput strategi utama yang akan terus digalakkan untuk memperbanyak ruang-ruang dialog lintas umat beragama.
Pentingnya sinergi dengan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) yang tersebar di lima kabupaten/kota di Kaltara.
Ia melihat kemajemukan etnis dan agama di Kaltara bukan sebagai hambatan atau tantangan. Melainkan sebuah peluang dan modal sosial yang luar biasa. Kaltara, menurutnya, adalah
"Miniatur Indonesia" di mana semua agama dan suku hidup berdampingan dengan harmonis.
“Kita bisa saksikan hari ini, kehadiran ribuan masyarakat dari berbagai suku dan agama adalah sebuah kekuatan. Ini bukan tantangan, tapi peluang besar bagi kita untuk terus merawat harmoni di tengah keberagaman,” ujarnya. (fai/uno)
Editor : Nurismi