HARIAN RAKYAT KALTARA — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Tarakan mengingatkan masyarakat Kalimantan Utara untuk meningkatkan kewaspadaan, terhadap potensi cuaca ekstrem pada awal tahun 2026.
Hal ini menyusul masih aktifnya monsun Asia yang diperkirakan berlangsung hingga Februari dan berpotensi membawa curah hujan tinggi di sejumlah wilayah Kaltara.
Kepala BMKG Tarakan Muhammad Sulam Khilmi menjelaskan, monsun Asia membawa uap air dalam jumlah besar menuju Indonesia, termasuk Kalimantan Utara. Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan intensitas hujan, terutama di wilayah daratan.
“Secara umum, hingga Februari monsun Asia masih aktif. Ini membawa uap air yang cukup banyak dan berpotensi meningkatkan curah hujan di Kalimantan Utara,” ujarnya, belum lama ini.
Ia mengingatkan pengalaman pada Januari 2025 lalu, di mana curah hujan di Kaltara sempat mencapai 600 milimeter, tertinggi sepanjang tahun.
Jika kondisi serupa kembali terjadi, dampaknya dapat berupa banjir, tanah longsor, angin kencang hingga gelombang tinggi di perairan.
“Kalau sampai 600 milimeter, tentu dampaknya banjir, longsor, kemudian angin kencang akibat awan konvektif. Termasuk potensi pohon tumbang dan gelombang tinggi,” jelasnya.
Meski demikian, berdasarkan prediksi hujan bulanan, wilayah Kaltara secara umum masih berada pada kategori menengah, dengan kisaran curah hujan 50—150 milimeter per bulan.
Namun, kondisi ini tetap perlu diwaspadai. Terutama jika hujan turun dengan intensitas tinggi dalam waktu singkat.
Khusus di Kota Tarakan, Khilmi menyebut karakteristik banjir lebih dipengaruhi oleh intensitas hujan jangka pendek.
“Di Tarakan, hujan sekitar 20 milimeter dalam waktu 1,5 jam saja sudah bisa menyebabkan genangan atau banjir. Apalagi kalau intensitasnya tinggi seperti 145 milimeter, tentu berpotensi banjir dan longsor,” sebutnya.
Sementara itu, potensi curah hujan tinggi pada awal tahun ini disebut lebih besar terjadi di wilayah Kabupaten Bulungan dan Malinau, bukan di Kota Tarakan.
Wilayah yang memiliki sungai besar dan daerah hulu luas tersebut dinilai lebih rentan mengalami banjir akibat hujan di kawasan hulu.
“Di Bulungan, bisa saja terjadi banjir meski di daerah itu tidak hujan. Karena hujan terjadi di hulunya,” jelas Khilmi.
BMKG, lanjutnya, terus berkoordinasi dengan BPBD dan para relawan untuk memantau perkembangan cuaca di wilayah hulu.
Jika terdeteksi hujan terjadi selama beberapa malam berturut-turut. Maka, peringatan dini akan segera disampaikan kepada masyarakat di daerah hilir.
Untuk Kota Tarakan, BMKG memastikan tidak masuk dalam kategori potensi cuaca ekstrem untuk tiga hari ke depan.
“Kalau melihat prospeknya, Tarakan relatif aman. Potensinya hanya hujan ringan,” tuturnya. (sas/uno)
Editor : Nurismi