Utama Pemerintahan Sanggam Kaltara Ekonomi Kombis Gaya Hidup All Sport Makan-Makan Parlementaria Polhukrim Entertaiment Catatan

Bahaya! Ratusan ODHA di Tarakan Enggan Berobat ARV, Dinkes Ungkap Alasannya

Beraupost • Selasa, 23 Desember 2025 | 07:45 WIB
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Kota Tarakan, Rinny Faulina. (SEPTIAN ASMADI)
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Kota Tarakan, Rinny Faulina. (SEPTIAN ASMADI)

HARIAN RAKYAT KALTARA — Dinas Kesehatan Tarakan mencatat jumlah Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA) di Tarakan mencapai hampir seribu kasus, dalam kurun waktu sepuluh tahun terakhir.

Namun, dari jumlah tersebut hanya sebagian kecil yang rutin menjalani pengobatan antiretroviral (ARV). Terutama akibat faktor stigma dan rendahnya kesadaran untuk berobat sejak dini.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Kota Tarakan Rinny Faulina mengungkapkan, sejak tahun 2015 hingga Oktober 2025 tercatat sebanyak 995 kasus HIV/AIDS di Kota Tarakan.

“Dari total 995 kasus ODHA sejak 2015 sampai Oktober 2025, yang tercatat rutin menjalani pengobatan ARV di layanan kesehatan hanya sekitar 380 orang,” ujar Rinny, Senin (22/12).

Untuk tahun 2025, temuan kasus HIV di Tarakan tercatat sebanyak 98 kasus dari Januari hingga Oktober.

Jumlah tersebut dinilai relatif stabil jika dibandingkan tahun sebelumnya. Di tahun 2024 juga sekitar 90-an kasus. Sehingga tidak ada lonjakan signifikan.

Rinny menyebut, mayoritas penularan HIV di Tarakan masih berasal dari kelompok berisiko, khususnya wanita pekerja seksual (WPS). Meski demikian, penularan juga ditemukan pada kelompok lain.

“Masih didominasi WPS, tetapi ada juga dari kelompok LSL, waria, pengguna narkoba suntik, dan masyarakat umum,” katanya.

Rendahnya angka pengobatan menjadi perhatian serius Dinkes Tarakan. Dari hampir seribu kasus yang tercatat, hanya sekitar 338 hingga 380 ODHA yang aktif berobat sejak 2015.

Sementara pada tahun 2025, jumlah ODHA yang memulai pengobatan diperkirakan baru sekitar 50 orang.

Menurut Rinny, salah satu penyebab utama ODHA enggan berobat adalah karena pada fase awal infeksi, penderita masih tampak sehat dan belum mengalami gejala berat.

“Banyak yang merasa masih sehat karena belum muncul infeksi oportunistik. Sehingga merasa belum perlu berobat,” jelasnya.

Selain itu, stigma sosial masih menjadi penghalang besar. Banyak penyintas yang belum siap membuka statusnya karena takut dianggap aib keluarga. Padahal pengobatan ARV harus dijalani seumur hidup. (sas/uno)

 

Editor : Nurismi
#hiv/aids #Berobat #Dinkes Tarakan #odha #Enggan