HARIAN RAKYAT KALTARA — Stabilitas inflasi yang saat ini terjaga di Kota Tarakan tidak boleh membuat pemerintah daerah lengah.
Bank Indonesia (BI) Provinsi Kalimantan Utara mengingatkan pengendalian inflasi membutuhkan aksi nyata dan berkelanjutan.
Terlebih menjelang momentum Natal dan Tahun Baru (Nataru) yang rawan memicu lonjakan harga kebutuhan pokok.
Peringatan tersebut disampaikan Kepala Perwakilan BI Kaltara Hasiando Ginsar Manik, dalam peluncuran Mini Distribution Center (MDC) di Pasar Tenguyun, Rabu (17/12) lalu.
Program ini digagas Pemerintah Kota Tarakan bersama BI sebagai salah satu langkah konkret menjaga daya beli masyarakat.
Saat ini, inflasi Kota Tarakan tercatat sebesar 2,5 persen, masih berada dalam rentang target nasional 1,5 hingga 3,5 persen.
Namun Hasiando menegaskan, angka tersebut tidak boleh menjadi alasan untuk berpuas diri.
“Inflasi yang rendah jangan sampai membuat kita terlena. Pengendalian inflasi bukan hanya soal angka, tetapi soal dampaknya langsung ke masyarakat,” ujar Hasiando.
Menurutnya, esensi pengendalian inflasi memastikan harga yang dibayar masyarakat tetap wajar dan terjangkau. Ketersediaan barang saja tidak cukup, jika harga di pasar melampaui kemampuan beli warga.
“Yang dicatat dalam inflasi itu, harga yang benar-benar dibayar masyarakat. Jadi fokusnya harus ke lapangan,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan, agar upaya pengendalian inflasi tidak berhenti pada rapat koordinasi dan diskusi formal.
Program konkret seperti MDC, kata dia, menjadi bukti bahwa pengendalian inflasi harus menyentuh langsung mekanisme pasar.
MDC dirancang sebagai instrumen penyeimbang harga, terutama saat terjadi peningkatan permintaan musiman seperti menjelang Nataru.
MDC berfungsi sebagai referensi harga dengan menyediakan komoditas strategis pada harga yang lebih rendah. Sehingga dapat menahan laju kenaikan harga di pasar.
“Ketika harga di pasar mulai bergerak tidak wajar, MDC hadir untuk mengoreksi. Ini bukan soal intervensi berlebihan, tetapi menjaga kewajaran harga,” jelasnya.
Ia menegaskan, MDC tidak bertujuan mematikan pedagang lokal. Operasionalnya dibatasi hanya satu hingga dua kali dalam sepekan dan hanya difokuskan pada komoditas tertentu yang mengalami tekanan harga.
“Pedagang tetap jalan. MDC hanya menjadi penyeimbang, agar tidak ada spekulasi berlebihan saat permintaan naik,” katanya.
Melalui program ini, BI berharap pemerintah daerah semakin aktif melakukan langkah preventif, bukan reaktif dalam pengendalian inflasi.
Terlebih pada momen besar seperti Nataru. Di mana lonjakan harga kerap terjadi akibat meningkatnya konsumsi rumah tangga. (sas/uno)
Editor : Nurismi